Catatan Ilham Bintang – Secangkir Kopi Susu Terakhir Remy Sylado

Berita, Kabar Alumni768 Dilihat

“Banyak undangan diskusi soal Ca Bau Kan yang diselenggarakan masyarakat Tionghoa di dalam dan di luar negeri. Malu saya kalau tidak menguasai bahasa itu,” katanya suatu hari memberi alasan.

Polyglot itu mengembuskan nafas terakhir Senin (12/12) pagi di rumahnya, meninggalkan seorang istri, Emmy Tambayong, dua anak dan satu cucu. Saat diminta memberi sambutan mewakili rekan wartawan dan insan perfilman di acara pemakamannya, saya menyinggung soal “kekayaan” dan warisan berharga Remy yaitu mahir berbicara, menulis, atau membaca dalam banyak bahasa asing.

Serre Battang

Kami berkenalan sekitar setengah abad lalu. Saya masih penyiar radio amatir di Jakarta dan Remy Sylado sudah menyihir anak-anak muda se Indonesia dengan puisi-puisi mbelingnya dari Bandung. Sejak perkenalan itu, kami langsung akrab. Ada kedekatan “emosional” sesama perantau dari satu pulau, Sulawesi, lebih dari sekedar sesama wartawan dan sama- sama berkecimpung di dunia kesenian.

Remy besar di lingkungan keluarga Tambayong di Malino, daerah pegunungan (60 km dari Makassar). Tak heran jika fasih berbahasa Makassar. Maka itu, setiap kali bertemu Remy lebih tertarik bercakap dengan bahasa Makassar. Pengetahuannya mengenai bahasa Bugis Makassar sangat mendalam. Ia bahkan pernah mengoreksi saya karena menyebut kata Sari Battang untuk kata bersaudara dalam bahasa Makassar. Yang benar, kata Remy adalah Serre Battang ( satu rahim ) untuk saudara kandung. Remy meyakinkan itu bukan kesalahan saya saja. Sejauh pengamatannya sebagian besar orang Bugis -Makassar terutama yang tinggal di kota-kota besar Indonesia mengacaukan arti sari battang yang mestinya serre battang

Jejak digital hidup Remy adalah jejak perjalanan pelurusan atau koreksi pada banyak hal terutama soal yang berkait agama dengan kesenian. Temuannya yang tak terbantahkan pada praktek plagiarism dalam karya musisi besar yang menggubah beberapa lagu kebangsaan kita. Satu lagi cerita soal itu. Dia pernah diminta seorang pejabat tinggi negara yang punya hobby membuat lagu menjadi supervisornya. Namun, tugas itu tidak berlanjut lantaran Remy bersikukuh pada pendapat lagu- lagu sang pencipta adalah plagiarism.

Remy ekstrim dalam meletakkan orisinalitas dan kejujuran sebagai parameter menilai sebuah karya seni. Lihat saja ketika dia menulis dan mementaskan drama musikal “Jesus Christ ” di Istora. Jesus dicreatenya berkulit hitam dan mengayuh becak di atas pentas. Jelas, ia ingin menegaskan tafsirnya, sejurus dengan keliaran imajinasinya, Jesus dibuatnya sebagai manusia manusia biasa dari sumber kehidupan masyarakat marginal. Itu sekaligus manifesto prinsip Remy sendiri, dia ada di posisi orang banyak, dekat di nadi rakyat. Tidak mengikuti kegandrungan sebagian seniman terkenal kita yang memilih berumah di “menara gading”. Berbeda dengan casing sehari-harinya Remy selalu tampil parlente, necis, kemeja warna menyala, pantalon dan sepatu warna senada, putih. Tapi saya harus stop uraiannya mengenai itu karena ruang seluas apapun tak cukup untuk menampung telaahnya.

Japi Tambayong

Remy Sylado terlahir dengan nama Japi Panda Abdiel Tambajong (EYD: Yapi Panda Abdiel Tambayong) pada 12 Juli 1945. Ia manusia banyak hal : sastrawan, dosen, novelis, penulis, pelukis, penyanyi, aktor dan wartawan. Saya ingat pernah menulis bahwa mungkin hanya menari yang tidak dilakoni. Itu juga dikoreksi Remy : ia bisa menari.

Di Wikipedia karirnya dicatat berlangsung lebih dari lima dekade, sebagai aktor yang muncul di belasan film layar lebar dan merupakan salah satu aktor paling disegani di generasinya. Ia juga seorang penulis aktif yang beberapa karyanya telah diadaptasi ke layar lebar. Salah satu film populer yang pernah dibuat berdasarkan tulisannya adalah Ca-bau-kan (2002) dari novel berjudul sama Ca-bau-kan: Hanya Sebuah Dosa (1999).

Penampilannya dalam drama romantis dalam film Tinggal Sesaat Lagi (1986), drama keluarga Akibat Kanker Payudara (1987) dan drama keluarga 2 dari 3 Laki-Laki (1989) mendapatkan apresiasi dan pujian yang kesemuanya itu membuatnya mendapatkan nominasi untuk Piala Citra di Festival Film Indonesia, ketiganya sebagai Aktor Pendukung Terbaik.

Di dunia jurnalistik Remy memulai karier sebagai wartawan majalah Tempo (Semarang, 1965), redaktur majalah Aktuil (sejak 1970). Satu kali ia menunjukkan kartu anggota PWI nya yang sudah lusuh atau usang, sudah lama habis masa berlakunya. Ia berharap bisa dihidupkan lagi. Saya sanggupi. Lalu dia minta saya mengutarakan alasannya. Saya sampaikan alasannya.

“Karena seluruh Indonesia tahu Anda memang jurnalis. Anda terus berkarya secara riil sebagai wartawan hingga kini. Asal tahu saja, masyarakat hanya memberi pengakuan pada karya jurnalistik, bukan pada orang yang mengantongi kartu anggota organisasi wartawan,” saya jelaskan begitu dan Remy merespons memberi hormat. Kami pun terlibat diskusi mengenai fenomena banyak kartu anggota organisasi wartawan yang dikantongi orang yang tidak berhak.Bahkan juga beberapa pengurus organisasinya.

Berkunjung ke kantor PWI

Remy datang ke kantor PWI Pusat menjemput kartu anggotanya sambil bersantap siang dengan masakan gulai kepala ikan kesukaannya. Argumentasi serupa itu saya sampaikan juga kepada almarhum Prof Azyumardi Azra sewaktu beliau mengingatkan pernah menjadi anggota PWI saat menjadi wartawan Majalah Panji Masyarakat yang dipimpin Buya Hamka. Kartu PWI baru kedua tokoh itu diproses dengan cepat oleh pengurus PWI Pusat, sehingga dapat dicatat Remy dan Prof Azyumardi Azra adalah anggota PWI hingga akhir hayat.

Berkarya Sejak Remaja

Remy mengawali debut menulis kritik, puisi, cerpen, novel, drama, kolom, esai, sajak, roman populer, juga buku-buku musikologi, dramaturgi, bahasa, dan teologi sejak usia remaja (18 tahun). Remy terkenal karena keliaran imajinasinya dalam karya dan sikap beraninya menghadapi pandangan umum melalui pertunjukan-pertunjukan drama yang dipimpinnya.

Remy salah satu pelopor penulisan Puisi mBeling bersama pelukis Jeihan dan Abdul Hadi WM.
Selain menulis banyak novel, ia juga dikenal piawai melukis, berdrama, dan tahu banyak tentang film. Remy pernah dianugerahi hadiah Kusala Sastra Khatulistiwa 2002 untuk novelnya Kerudung Merah Kirmizi.

Dalam karya fiksinya, ia gemar mengenalkan kata-kata Indonesia lama yang sudah jarang dipakai. Ini yang membuat karya sastranya unik dan istimewa, selain kualitas tulisannya yang tidak diragukan lagi. Penulisan novelnya didukung dengan riset yang tidak tanggung-tanggung. Ia rajin ke Perpustakaan Nasional untuk membongkar arsip tua dan menelusuri pasar buku tua. Sebagai pengarang yang masih menulis karyanya dengan mesin ketik ini juga banyak melahirkan karya berlatar budaya di luar budayanya. Di luar kegiatan penulisan kreatif, ia kerap diundang berceramah teologi.
Remy Sylado pernah dan masih mengajar di beberapa perguruan tinggi di Bandung dan Jakarta, seperti Akademi Sinematografi, Institut Teater dan Film, dan Sekolah Tinggi Teologi.

Tena Ruwangna

Di hari pemakamannya, selain keluarga dan kerabat dekat tampak puluhan wartawan dan insan film mengantar Remy Sylado (77) ke tempat peristirahatan terakhirnya, Selasa (13/12) siang di TPU Menteng Pulo, Jakarta Pusat dengan perasaan berkabung.

Nampak diantaranya, Renny Djayusman, Niniek L Karim, Widyawati, Efix Mulyadi, Firman Bintang, Yan Widjaya, Herman Wijaya, Frans Sartono,dan Benny Benke. Saat diminta keluarganya memberi sambutan atas nama wartawan dan insan teater dan film sahabatnya, saya mengungkapkan rasa berkabung yang mendalam karena kepergian mentor dan guru dalam dunia jurnalistik dan kesenian kami itu. Saya menyinggung juga keistimewaan Polyglot Remy serta beragam karya monumentalnya yang menjadi legacy yang tak ternilai.

Saya menyesal tidak sempat melihat wajahnya terakhir kali. Di hari wafatnya sampai Selasa pagi saya suspect Covid 19. Setelah mengikuti serangkaian acara pernikahan putra putri kami — Nona & Jack Omar — hingga puncaknya Minggu (11/12) malam, saya Swab Antigen sendiri di rumah Senin (12/12). Hasilnya : positif ! Dua garis tegas terlihat di wadah penampang Test Antigen.Ya, ampun. Istri terkejut. Menantu bertanya merasakan gejala apa? Terus terang, gejala itu justru muncul karena shock melihat hasil swab. Merasakan tiba -tiba tidak enak badan.

Setelah menunggu beberapa saat, saya mengulang test Swab Antigen kembali. Istri pun test seraya mulai membahas bagaimana menjalani isolasi mandiri hari itu. Hasil test yang kedua, Allahu Akbar, ternyata negatif. Hanya ada satu garis di wadah penampang. Istri juga. Namun untuk lebih memastikan, kami lanjutkan test Swab PCR malam itu juga. Diikuti seluruh keluarga.Termasuk sang pengantin.

Selasa pukul 8 pagi dapat kabar baik. Hasil Swab PCR semalam, NEGATIF. Alhamdulillah. Ini agaknya fenomena terbaru pandemi. Test- test Covid19 apapun harus selalu doubel cek. Segera saya rekan wartawan senior Marah Sakti Siregar yang juga sahabat mendiang untuk bersama-sama mengantarkan jenazah Remy Sylado ke tempat peristirahatannya yang terakhir.

Seorang wartawan mencegat saya seusai pemakaman. Ia bertanya tentang kelebihan Remy. Saya jawab singkat dalam bahasa Makassar, yang slangnya disukai mendiang. Yaitu : Tena Ruwangna! Tidak ada duanya. Sulit dicari tandingannya, dan mestinya memang tidak usah “dibanding-bandingke”.

Matinya pun gagah. Detik -detik menjelang wafat Remy minta dibuatkan secangkir kopi susu. Selesai menyeruput secangkir minuman kegemarannya itu, Remy pun “pamit” : ia menutup mata selamanya.

Selamat jalan Serre Battang! (rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *