KABARIKA.ID, MAKASSAR – Bahasa daerah di Indonesia semakin terdesak oleh arus globalisasi. Namun, di tengah ancaman kepunahan itu, Universitas Hasanuddin (UNHAS) mengambil langkah nyata dengan menggandeng Wikimedia Indonesia dalam rangkaian Prakonferensi WikiNusantara 2026.
Bertempat di Arsjad Rasjid Lecture Theatre, kegiatan utama berupa sarasehan bertajuk “Dunia Wiki dan Upaya Pelestarian Bahasa” menjadi panggung strategis merumuskan masa depan bahasa dan sastra lokal.
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Wikimedia Indonesia dan Direktorat Kemahasiswaan UNHAS.
Kepala Career Center UNHAS sekaligus dosen sastra daerah, Burhan Kadir, menegaskan bahwa platform digital seperti Wikimedia bukan sekadar alat, melainkan “kunci darurat” untuk menghidupkan kembali bahasa-bahasa yang nyaris sunyi.
“Pelestarian dan digitalisasi bahasa dengan adanya Wikimedia sangat terbantukan. Budaya sastra daerah menjadi semakin panjang umur dan menjadi media strategis dalam penggiatan pelestarian bahasa,” ujar Burhan di hadapan puluhan peserta yang antusias.
Ketua Umum Wikimedia Indonesia, Hardiansyah, menjelaskan bahwa pihaknya adalah satu dari sekitar 40 chapter Wikimedia di dunia yang bermitra dengan Wikimedia Foundation di Amerika Serikat.
Dengan sekitar 20 staf saat ini, Wikimedia Indonesia terus mendorong kolaborasi dengan berbagai perguruan tinggi, termasuk UNHAS, untuk memastikan pengetahuan lokal dapat diakses secara bebas oleh masyarakat luas melalui internet.
Prakonferensi ini membagi agenda utama menjadi dua sesi diskusi yang menggugah kesadaran.
Sesi pertama mengusung tema “Proyek Wikimedia dari Perspektif Peneliti”. Narasumber Dr. Ika Alfina (Universitas Indonesia) dan Prof. Nur Aini Rakhmawati (Institut Teknologi Sepuluh Nopember) memaparkan bagaimana proyek Wikimedia tidak hanya menjadi gudang referensi, tetapi juga sarana diseminasi hasil penelitian ilmiah secara terbuka dan setara.
Sesi kedua mengangkat tema “Pelestarian Bahasa Daerah di Era Digital”. Menghadirkan pakar filologi Unhas, Prof. Muhlis Hadrawi, serta pakar bahasa Indonesia sekaligus pegiat literasi digital, Ivan Lanin.
Dalam diskusi yang berlangsung hangat, keduanya menekankan pentingnya dokumentasi bahasa daerah sebagai bagian dari warisan budaya yang harus segera diselamatkan, sebelum benar-benar lenyap ditelan zaman.
Ivan Lanin, yang juga dikenal sebagai editor bahasa aktif di berbagai platform Wikimedia, mengingatkan bahwa ruang digital bukan musuh budaya lokal, melainkan sekutu terkuat jika digunakan dengan bijak.
Rangkaian acara tidak berhenti di sarasehan. Pada pagi harinya, peserta mengikuti pelatihan intensif bertajuk WikiLatih yang terbagi dalam tiga kelas, WikiLatih Wikipedia (menyunting artikel), WikiLatih Wikidata (mengelola data terstruktur), dan WikiLatih Wikimedia Commons (dokumentasi media digital).
Pelatihan ini memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa dan pegiat budaya untuk ikut serta aktif dalam upaya pelestarian bahasa daerah melalui kontribusi digital nyata.
Dengan langkah ini, Unhas dan Wikimedia Indonesia berharap bahwa generasi muda tidak hanya menjadi penonton kepunahan bahasa daerah, melainkan aktor utama dalam kebangkitan budaya Nusantara di era internet. (*)

