Site icon KABARIKA

Transformasi Kedokteran Gigi: Antara Disrupsi Digital dan Realitas Akses

KABARIKA.ID, MAKASSAR– Lompatan teknologi digital dalam dua dekade terakhir melaju pesat, meninggalkan gerak maju dunia kedokteran gigi yang cenderung lambat. Di tengah riuh kecerdasan buatan (artificial intelligence) dan arus algoritma, kedokteran gigi Indonesia justru masih berkutat pada persoalan klasik: ketimpangan akses layanan, sebaran tenaga medis yang tidak merata, serta riset yang belum menjawab kebutuhan riil masyarakat.

​Isu krusial ini menjadi sorotan utama dalam panel ilmiah Kongres Nasional Perdana Majelis Guru Besar Kedokteran Gigi Indonesia (MGBKGI) di Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, Jumat (7/8/2026). Forum ini menghimpun 60 guru besar dari 18 institusi pendidikan kedokteran gigi se-Indonesia.

​Diskusi panel menghadirkan tiga narasumber kunci: Prof. Tri Hanggono Achmad (Tenaga Ahli Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi), Prof. drg. Suryono (Ketua AFDOKGI / UGM), dan Prof. drg. Muhammad Ruslin (Ketua MGBKGI / Unhas).

​Ketua MGBKGI, Prof. Muhammad Ruslin, menegaskan bahwa derasnya arus teknologi digital telah mengubah peta jalan kedokteran gigi nasional. Dunia pendidikan dan profesi kini berdiri di persimpangan jalan: harus segera melakukan transformasi strategis dari hulu ke hilir agar kompetensi dan daya saing tidak tergerus.

​“Bila ekosistem yang ada terus berlangsung tanpa perubahan, jangan heran jika kita sebatas menjadi pengguna riset negara lain, bukan penciptanya. Universitas mungkin tetap ramai dan wisuda berlangsung meriah. Namun, laboratorium bisa makin sepi dan sulit melahirkan lompatan besar bagi bangsa,” ujar Ruslin, yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Unhas selama dua periode tersebut.

​Senada dengan Ruslin, Ketua AFDOKGI Prof. Suryono menyoroti tumpukan pekerjaan rumah yang masih menggunung. Distribusi dokter gigi dan spesialis masih timpang, sementara akses pelayanan sering tersumbat oleh keterbatasan biaya dan kondisi geografis, terutama di wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal). Ketimpangan sarana kesehatan serta tingginya ketergantungan pada produk dan peralatan medis impor semakin memperberat tantangan ini.

​Menghadapi tantangan tersebut, Ruslin menekankan bahwa peran guru besar bukan sekadar simbol pencapaian akademik tertinggi, melainkan pengayom nilai-nilai sivitas akademika. Langkah konkretnya meliputi pembinaan dosen muda menuju publikasi ilmiah dan paten, pembukaan jaringan riset internasional bagi mahasiswa, serta penguatan budaya research to impact. Lebih dari itu, guru besar dituntut menjadi ujung tombak internasionalisasi kampus melalui visiting professorship dan kolaborasi lintas negara.

​”Guru besar adalah pemimpin di era digital. Di tengah disrupsi teknologi, perguruan tinggi harus mendorong lahirnya inovasi. Forum MGBKGI menjadi jembatan memperluas kolaborasi dengan pemerintah, industri, dan mitra strategis,” ungkap Ruslin dalam diskusi yang dipandu Prof. Yulita Hendrartini dari UGM.

​Ia menambahkan, MGBKGI bertugas mengarahkan hilirisasi riset, menjaga profesionalisme pendidikan, dan merumuskan kurikulum kesehatan gigi yang adaptif. Integrasi kecerdasan buatan, teknologi cetak 3D, dan teledentistry ke dalam kurikulum menjadi krusial agar para lulusan tidak gagap teknologi dan siap menjawab kebutuhan layanan kesehatan modern.

​Guna mencapai target jangka pendek, Ruslin menggarisbawahi pentingnya pemetaan riset prioritas di bidang kesehatan gigi. Menurutnya, pemetaan target yang jelas serta ketepatan skema pendanaan—baik dari APBN maupun pihak ketiga—akan menjadi fondasi kuat bagi Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) di seluruh Indonesia untuk menopang terwujudnya universitas riset secara nyata, bukan sekadar wacana.

Exit mobile version