Site icon KABARIKA

Mahasiswa yang Membiarkan AI Mengerjakan Tugas Mereka Justru Bisa Mendapatkan Nilai Lebih Buruk. Kenapa Bisa?

KABARIKA.ID, MAKASSAR — Perdebatan mengenai penggunaan kecerdasan artifisial (AI) di perguruan tinggi biasanya bermuara pada satu pertanyaan: apakah AI membantu mahasiswa, atau justru memfasilitasi mereka untuk berbuat curang dan menghindari proses pembelajaran yang sesungguhnya?

Dalam sebuah mata kuliah universitas yang mengizinkan penggunaan AI saat ujian, jawabannya bergantung pada bagaimana mahasiswa memanfaatkannya.

Mahasiswa yang menulis jawaban sendiri terlebih dahulu, kemudian meminta AI menunjukkan poin-poin yang mungkin terlewat, meraih nilai tertinggi.

Sebaliknya, mahasiswa yang menyerahkan pengerjaan tugas kepada AI dan hanya mengumpulkan teks hasil suntingan ringan sering kali mendapatkan nilai lebih buruk dibandingkan rekan sekelas yang tidak menggunakan AI sama sekali.

Hal itu terungkap dari sebuah penelitian. Outi Hakola dari Fakultas Humaniora University of Eastern Finland memimpin penelitian ini bersama Jari Kukkonen dan Teemu Valtonen dari fakultas pendidikan guru di universitas tersebut.

Para peneliti melakukan observasi terhadap mahasiswa dengan menempatkan mereka ke dalam kelompok-kelompok tertentu.

Studi ini mengungkapkan kebiasaan apa yang berkaitan dengan nilai yang lebih baik, bukan membuktikan bahwa kebiasaan tersebut secara langsung menyebabkan nilai yang lebih baik.

Ujian yang Mengizinkan Penggunaan AI

Tim peneliti mengkaji ujian yang dikerjakan di luar kelas (take-home exam) dari mata kuliah pengantar metode penelitian kualitatif, sebuah mata kuliah wajib bagi mahasiswa ilmu sosial, bisnis, dan beberapa bidang lainnya.

Ujian tersebut berasal dari tahun 2023 dan 2024, di mana mahasiswa diperbolehkan menggunakan AI asalkan mereka mengakuinya.

Dari total 891 mahasiswa, 159 orang melaporkan penggunaan AI. Sekitar 85% dari pengguna tersebut mengandalkan ChatGPT.

Sebagian besar mahasiswa memilih untuk tidak menggunakan AI. Dalam umpan balik mata kuliah, beberapa mahasiswa mengaku tidak memiliki keterampilan untuk menggunakannya, sebagian khawatir mengenai aspek keadilan, dan sebagian lagi ingin tetap mengandalkan pemikiran mereka sendiri.

“Tidak baik melimpahkan proses berpikir kita kepada pihak lain,” tulis salah seorang mahasiswa.

Setiap ujian terdiri dari tiga tugas, dan para mahasiswa menulis jawaban mereka dalam bahasa Finlandia.

Mahasiswa diminta untuk mendefinisikan konsep penelitian utama, menganalisis sekumpulan data singkat, serta menilai kekuatan dan kelemahan rancangan penelitian.

Instruktur memberikan penilaian menggunakan rubrik yang baku, dan penelitian baru dimulai setelah proses penilaian selesai.

Tiga Cara Menggunakan Alat Tersebut

Tim Hakola membaca jawaban ujian sembari meninjau laporan mahasiswa mengenai cara mereka menggunakan AI, lalu mengelompokkannya ke dalam tiga pola.

Pola yang paling umum adalah menyerahkan pengerjaan tugas sepenuhnya kepada AI. Mahasiswa mengambil jawaban yang dihasilkan AI dan melakukan penyuntingan ringan, terkadang hanya untuk memperbaiki tata bahasa agar lebih luwes.

Kelompok kedua menggunakan AI untuk mencari ide. Mereka meminta saran mengenai sudut pandang atau poin-poin penting untuk dipertimbangkan, lalu menulis sendiri jawabannya.

Kelompok yang paling jarang ditemui adalah mereka yang menulis terlebih dahulu baru kemudian mengajukan pertanyaan.

“Saya menulis hampir seluruh teks sendiri, lalu bertanya kepada AI bagian apa yang terlewat,” lapor seorang mahasiswa.

Memanfaatkan AI untuk Masukan Lebih Unggul daripada Menyerahkan Tugas Sepenuhnya

Pada tugas definisi yang bernilai 3 poin, mahasiswa yang menyerahkan pengerjaan tugas kepada AI memperoleh nilai rata-rata 1,9.

Mahasiswa yang tidak menggunakan AI memperoleh nilai rata-rata 2,2, sedangkan mereka yang menggunakannya untuk mendapatkan masukan (umpan balik) memperoleh nilai rata-rata 2,5.

Selisih nilai tersebut memang kecil untuk tugas singkat, namun pola yang sama terlihat pada ketiga tugas yang diberikan.

Metode menyerahkan tugas sepenuhnya kepada AI menempati posisi terbawah, penggunaan AI untuk masukan menempati posisi teratas, dan kelompok yang tidak menggunakan AI berada di antara keduanya.

Pada tugas analisis yang bernilai 6 poin, selisih nilainya lebih besar. Dalam tugas ini, mahasiswa yang menyerahkan pengerjaan tugas kepada AI memperoleh nilai rata-rata 3,8, dibandingkan dengan 4,6 bagi mereka yang tidak menggunakan AI, dan 5,5 bagi mereka yang menggunakannya untuk mendapatkan masukan.

Dengan kata lain, mahasiswa yang membiarkan AI menulis seluruh jawaban tertinggal dibandingkan rekan sekelas yang tidak menggunakan AI sama sekali.

Mahasiswa yang menggunakan AI untuk memeriksa hasil kerja mereka sendiri justru memperoleh nilai tertinggi.

Para peneliti mengaitkan sebagian besar perbedaan nilai tersebut dengan metode penilaian ujian yang diterapkan.

Definisi yang ditulis oleh AI cenderung memiliki tata bahasa yang baik namun bersifat umum, serta tidak mengacu pada materi perkuliahan yang menjadi poin penilaian dalam rubrik.

Secara keseluruhan, mahasiswa yang menggunakan AI memperoleh nilai lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak menggunakannya, dan lebih banyak di antara mereka yang menyelesaikan tugas dalam waktu kurang dari tiga jam: 65% dibandingkan 48% pada kelompok yang tidak menggunakan AI.

Siapa yang Menggunakan AI dengan Baik?

Hakola menepis anggapan bahwa semua mahasiswa menggunakan AI dengan cara yang sama.

“Ini adalah pandangan yang terlalu menyederhanakan masalah yang kompleks,” ujar Hakola.

Para penulis hasil studi menafsirkan hasil tersebut melalui lensa self-regulated learning (pembelajaran yang diatur secara mandiri), yakni kebiasaan merencanakan pekerjaan, memeriksanya, dan melakukan penyesuaian selama proses berlangsung.

Mahasiswa yang sudah memiliki kebiasaan tersebut mungkin akan menerapkannya saat menggunakan AI, sehingga alat ini berpotensi memperlebar kesenjangan yang sudah ada sebelumnya.

Oleh karena itu, Hakola berpendapat bahwa kebiasaan tersebut perlu diajarkan.

“Inilah sebabnya mengapa penting untuk mengajarkan siswa cara menggunakan AI secara efektif dan bertujuan, tanpa menjadikannya pengganti karya atau pemikiran mereka sendiri, agar AI menjadi bagian yang bermanfaat bagi pembelajaran dan pengembangan kompetensi mereka,” papar Hakola.

Pandangan mahasiswa pun turut berubah selama dua tahun tersebut. Dalam umpan balik mata kuliah, 4% mahasiswa yang memberikan tanggapan menyatakan pandangan positif terhadap penggunaan AI dalam ujian pada tahun 2023, sedangkan pada tahun 2024 angka tersebut mencapai 30%.
Hal yang belum diketahui

Hanya sekitar belasan jawaban per tugas yang berasal dari mahasiswa yang menggunakan AI untuk mendapatkan umpan balik.

Dengan kelompok sekecil itu, selisih keunggulan tersebut bisa saja menyusut atau justru membesar jika menggunakan sampel yang lebih luas.

Bisa jadi, para pengguna AI tersebut sejak awal memang merupakan mahasiswa yang lebih unggul atau lebih termotivasi, dan penelitian ini tidak dapat memisahkan faktor tersebut dari cara mereka menggunakan AI.

Selain itu, ada kemungkinan sebagian mahasiswa tidak mengungkapkan penggunaan AI mereka.

Hasil lengkap penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal Computers in Human Behavior Reports, dengan judul “Self-regulated approaches to students’ generative AI use in higher education”; selengkapnya dapat diakses di sini.

Para mahasiswa mengikuti ujian ini dalam kurun waktu dua tahun pertama setelah ChatGPT diluncurkan ke publik, saat banyak dari mereka masih dalam tahap mempelajari cara kerja perangkat tersebut.

Hakola ingin meninjau kembali hal ini setelah penggunaan AI menjadi bagian yang lebih mapan dalam cara mahasiswa belajar. (rus)

Exit mobile version