KABARIKA.ID, MOSKOW — Rusia mengumumkan telah menahan seorang jurnalis Jepang atas dugaan spionase, pada hari Selasa (13/10/2026). Rusia menuduh Tokyo menggunakan koresponden media untuk mengumpulkan informasi intelijen.
Peristiwa ini menandai titik terendah baru dalam hubungan bilateral kedua negara, yang telah memburuk secara tajam dalam beberapa bulan terakhir.
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Rusia mengidentifikasi jurnalis tersebut bernama Yuki Imai.
Menurut Dinas Keamanan Federal Rusia atau Federalnaya Sluzhba Bezopasnosti (FSB), jurnalis tersebut bekerja untuk surat kabar Hokkaido Shimbun, sebuah surat kabar regional untuk pulau di wilayah utara Jepang.
Informasi yang disampaikan FSB menyebutkan bahwa Imai ditahan di wilayah Sakhalin, Rusia bagian timur jauh, sehari sebelum ia berencana meninggalkan negara tersebut.
FSB menuduh Imai mengumpulkan dan menyimpan informasi mengenai kemampuan pertahanan Rusia untuk tujuan intelijen, yang dapat digunakan oleh Jepang untuk melawan keamanan Rusia.
Harian Hokkaido Shimbun tidak mengonfirmasi identitas jurnalis tersebut. Media itu hanya mengatakan bahwa pihaknya masih memastikan rincian kejadian dan keselamatan sang wartawan merupakan prioritas utama mereka.
Jepang Panggil Duta Besar Rusia
Kepala Sekretaris Kabinet Jepang, Minoru Kihara, mengatakan pada hari Rabu (14/10/2026) bahwa Tokyo telah meminta informasi kepada pihak berwenang Rusia, serta mendesak agar warganya tersebut diperlakukan secara adil dan mendapatkan pertimbangan kemanusiaan.
Seorang pejabat senior Kemlu Jepang kemudian memanggil duta besar Rusia untuk Jepang guna menyampaikan protes atas penahanan warga negara Jepang tersebut.
Jepang juga memprotes tindakan Rusia yang secara sepihak mengeluarkan pernyataan terkait masalah ini tanpa memberikan penjelasan kepada Tokyo.
Direktur Jenderal Biro Urusan Eropa di Kementerian Luar Negeri Jepang, Kimitake Nakamura, juga meminta duta besar Rusia, Nikolay Nozdrev, untuk segera memfasilitasi pertemuan dengan jurnalis yang ditahan tersebut.
Dalam sebuah laporan video di televisi pemerintah Rusia, tiga pria bertopeng dengan seragam hitam terlihat memborgol seorang pria yang sedang terbaring di tanah, sementara terdengar suara dari balik kamera yang menyebutkan bahwa pria tersebut dicurigai melakukan kegiatan mata-mata.
Video itu memperlihatkan pria tersebut digiring oleh dua petugas FSB ke dalam pesawat, lalu tampak berada di dalam kurungan di sebuah pengadilan di Moskow, yang kemudian memerintahkan penahanannya selama hampir dua bulan.
Ini merupakan kasus penahanan jurnalis asing yang paling menyita perhatian sejak penahanan reporter Wall Street Journal, Evan Gershkovich, pada tahun 2023.
Gershkovich, yang menyatakan bahwa penangkapannya merupakan operasi jebakan yang direncanakan dengan cermat oleh FSB, dinyatakan bersalah melakukan spionase oleh pengadilan Rusia dan dijatuhi hukuman 16 tahun penjara, sebelum akhirnya dibebaskan dalam pertukaran tahanan antara pihak Barat dan Rusia pada Agustus 2024.
Ketegangan yang Telah Berlangsung Lama
Kasus ini menambah ketegangan yang telah lama berlangsung antara Rusia dan Jepang, dua negara yang hingga kini belum menandatangani perjanjian damai resmi Perang Dunia II akibat sengketa wilayah atas Kepulauan Kuril, yang di Jepang dikenal sebagai Wilayah Utara.
Ketegangan tersebut meningkat ketika Jepang bergabung dengan sanksi negara-negara Barat terhadap Moskow terkait perang di Ukraina, yang membuat Rusia menganggap Jepang sebagai negara yang “tidak bersahabat”.
Namun, hubungan bisnis tetap terjalin, dengan Jepang masih menjadi pembeli gas alam cair (LNG) dari Rusia.
Kemudian pada bulan Agustus, Presiden Rusia Vladimir Putin mengunjungi salah satu pulau yang dipersengketakan, yang memicu kemarahan di Jepang.
Pada hari Selasa, sebuah delegasi dari salah satu provinsi di Tiongkok mengunjungi pulau yang sama, sebuah langkah yang tampak mengisyaratkan koordinasi yang lebih erat antara Moskow dan Beijing dalam melontarkan kritik terhadap Tokyo.
Juru bicara Kemlu Rusia, Maria Zakharova, mengatakan pada hari Selasa (13/10/2026) bahwa Jepang telah menolak untuk mempertimbangkan kekhawatiran Moskow mengenai apa yang ia sebut sebagai “remiliterisasi” Tokyo.
Ia juga mengkritik dugaan penggunaan jurnalis terakreditasi di Rusia oleh pihak Jepang untuk mengumpulkan informasi yang dapat mengancam keamanan Rusia.
“Kami harus mencatat bahwa peristiwa yang terjadi ini akan menjadi faktor tambahan yang memperkeruh suasana hubungan Rusia-Jepang,” ujar Zakharova.
Saat ditanya apakah perbaikan hubungan antara Rusia dan AS, serta pembelian LNG dari Rusia oleh Jepang, membuat Tokyo kesulitan untuk mengambil langkah balasan?
“Memang benar ada banyak masalah antara Jepang dan Rusia,” ujar Kihara, Kepala Sekretaris Kabinet Jepang.
“Dari sudut pandang Jepang, meskipun situasi hubungan Jepang-Rusia sedang sulit, Jepang telah mengambil langkah-langkah tegas berdasarkan pendiriannya. Di saat yang sama, Rusia adalah negara tetangga Jepang, dan komunikasi tetap diperlukan untuk menyelesaikan berbagai masalah tersebut,” papar Kihara. (rus)

