Site icon KABARIKA

AS Telah Kehilangan Sekitar 25 Persen Drone Reaper-nya Dalam Perang Melawan Iran, Menurut Laporan “The Wahington Post”

KABARIKA.ID, WASHINGTON — Perang AS-Israel melawan Iran telah menghabiskan atau menghancurkan drone MQ-9 Reaper milik AS senilai lebih dari US$1,3 miliar. Angka itu setara dengan sekitar 25 persen dari armada pesawat nirawak (UAV) negara tersebut sebelum perang.

Demikian menurut laporan The Washington Post yang diterbitkan pada hari Jumat (14/08/2026).

Laporan tersebut menyoroti bagaimana pertahanan udara Iran tetap beroperasi meskipun ada klaim dari Presiden Donald Trump dan para pembantunya, bahwa sistem tersebut telah dihancurkan total.

Berita The Washington Post ini mengungkap jumlah drone MQ-9 Reaper yang hancur sedikit lebih tinggi dibandingkan laporan Bloomberg yang diterbitkan pada bulan Mei, yang menyebutkan angka 20 persen dari inventaris sebelum perang.

Drone MQ-9 Reaper bernilai antara US$30-50 juta, tergantung pada konfigurasi sensor, radar, dan persenjataannya.

Pesawat nirawak ini berfungsi sebagai platform terbang tinggi untuk pengawasan, pengintaian, dan serangan presisi terhadap target tertentu, sebagaimana didokumentasikan oleh Angkatan Udara AS.

Drone ini mampu membawa rudal Hellfire atau bom berpemandu Joint Direct Attack Munition (JDAM).

Drone tersebut terbang perlahan di ketinggian rendah, menjadikan MQ-9 Reaper sasaran empuk bagi Korps Garda Revolusi Islam Iran serta sekutu regionalnya di Yaman dan Irak.

Pesawat ini sering digunakan di dekat Selat Hormuz, wilayah yang menjadi ajang perebutan kendali antara AS dan Iran.

Presiden Trump menyatakan telah menerapkan blokade angkatan laut berupa “tembok baja” di jalur perairan tersebut.

MQ-9 Reaper merupakan salah satu dari daftar panjang senjata dan amunisi AS yang persediaannya menipis selama perang melawan Iran.

Pentagon berencana menghentikan penggunaan Reaper, yang diproduksi oleh General Atomics, secara bertahap dan menyiapkan armada pengganti berupa drone pengintai bersenjata yang lebih murah serta mampu menyerang target secara berkelompok (swarming).

AS juga telah menghabiskan persediaan amunisi standoff (amunisi jarak jauh presisi tinggi) yang canggih.

AS telah meluncurkan lebih dari 850 rudal jelajah Tomahawk serta lebih dari 1.000 rudal Patriot dan THAAD (Terminal High Altitude Area Defense), selama perangnya melawan Iran.

Pemerintahan Trump membantah laporan yang menyebutkan bahwa persediaan senjata AS mengalami kekurangan akibat perang tersebut.

Pemerintahan Trump telah mengajukan permintaan dana tambahan lebih dari US$67 miliar kepada Kongres untuk menutupi biaya operasional Departemen Perang selama Operasi Epic Fury dan untuk mengisi kembali persediaan senjata.

Pada 6 Agustus lalu, Trump menegur Menteri Perang Pete Hegseth dalam rapat kabinet terkait krisis kekurangan amunisi yang dialami militer AS.

Ia menyebut hal itu sebagai salah satu alasan di balik keputusan pemerintahannya untuk menunda serangan berskala besar terhadap Iran. (rus)

Exit mobile version