Site icon KABARIKA

Arsitek Invasi AS ke Irak, Dick Cheney Meninggal Dunia pada Usia 84 Tahun: Warisan Perangnya akan Langgeng

KBARIKA.ID, MAKASSAR — Dick Cheney, mantan Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) yang mengawasi invasi AS ke Afghanistan dan Irak, serta apa yang disebut “perang melawan teror”, meninggal dunia pada hari Selasa (4/11/2025) di AS, pada usia 84 tahun.

Dalam sebuah pernyataan, keluarga Cheney mengatakan bahwa mantan Wakil Presiden (Wapres) tersebut meninggal dunia karena komplikasi pneumonia serta penyakit jantung dan pembuluh darah.

“Selama beberapa dekade, Dick Cheney mengabdi kepada negara kita, termasuk sebagai Kepala Staf Gedung Putih, Anggota Kongres Wyoming, Menteri Pertahanan, dan Wakil Presiden Amerika Serikat,” demikian bunyi pernyataan keluarga.

Para politisi Demokrat terkemuka, termasuk Bill Clinton dan Kamala Harris, memuji Cheney yang dikenal sebagai seorang Republikan garis keras, atas kehidupan yang dijalaninya dengan baik.

Clinton memuji rasa tanggung jawab Cheney yang tak tergoyahkan, sementara Harris menyebutnya sebagai pelayan publik yang berdedikasi yang mengabdikan begitu banyak hidupnya untuk negara yang dicintainya.

Media berita arus utama Amerika juga memberikan penghormatan kepada Cheney, yang, selain menjabat sebagai Wapres George W. Bush dari tahun 2001 hingga 2009, ia pernah menjabat sebagai kepala staf Gedung Putih pada tahun 1970-an dan menteri pertahanan pada 1980-an.

Berita utama CNN di halaman depan memujinya karena membantu putrinya melawan Donald Trump.

Joe Scarborough dari MSNBC mengatakan bahwa Cheney tetap teguh pada pendiriannya dalam hal norma-norma demokrasi… dia berada di pihak yang benar… kita semua patut berterima kasih kepadanya atas hal itu”.

Sedangkan New York Times menyebutnya orang dalam Washington yang ulung yang berusaha memajukan perjuangan demokrasi di luar negeri.

Berdasarkan evaluasi ini, orang-orang dapat dimaafkan jika menganggap Cheney sebagai orang baik, atau karena tidak tahu bahwa ia adalah penjahat perang kelas kakap yang bertanggung jawab atas beberapa kekejaman terburuk dalam sejarah dunia modern.

Dick Cheney, salah satu wakil presiden paling berkuasa dalam sejarah AS, berjalan bersama Presiden George W. Bush di sepanjang barisan tiang Gedung Putih di Washington, DC, pada 29 Oktober 2003, selama perang dahsyat di Afghanistan dan Irak, lebih dari dua dekade sebelum kematiannya pada 4 November 2025, pada usia 84 tahun. (Foto: MEE)

Arsitek Perang

Sebagai Wapres Bush, Cheney menjadi arsitek utama perang melawan teror yang dilancarkan AS, yang mencakup invasi Afghanistan tahun 2002, perang Irak tahun 2003, dan program intelijen, pengawasan, serta penyiksaan yang luas.

Yang paling terkenal, Cheney membantu pemerintahan Bush membangun kebohongan ganda yang rumit sebagai dalih untuk melakukan invasi ke Irak.

Pertama, ia dan pejabat lainnya mengklaim bahwa Presiden Irak Saddam Hussein memiliki senjata nuklir yang akan ia gunakan untuk melawan Amerika Serikat.

Menjelang invasi, Cheney berkata: “Tidak diragukan lagi bahwa Saddam Hussein sekarang memiliki senjata pemusnah massal… Tidak diragukan lagi ia mengumpulkannya untuk digunakan… melawan kita.”

Kedua, Cheney mengisyaratkan adanya hubungan kuat antara Hussein dan al-Qaeda, kelompok yang diyakini bertanggung jawab atas serangan 11 September 2001 di New York dan Washington.

Ia menyiratkan hubungan tersebut sebelum invasi dan memperkuatnya lebih lanjut setelah perang dimulai.

Pada tahun 2004, Cheney berkata: “Saya terus percaya, saya pikir ada bukti yang sangat kuat tentang … hubungan antara al-Qaeda dan pemerintah Irak.”

Akhirnya, bukti yang sangat kuat mengungkapkan bahwa Hussein tidak memiliki senjata pemusnah massal, sesuatu yang diketahui pemerintah saat itu. Demikian pula, tidak ada hubungan antara Hussein dan al-Qaeda.

Para pembela Cheney bersikeras bahwa keputusan untuk menginvasi Irak adalah akibat dari kegagalan intelijen, tetapi banyak jurnalis dan akademisi, termasuk David Corn, Juan Cole, Scott Ritter, dan Howard Zinn, telah menunjukkan secara meyakinkan bahwa hipotesis ini tidak sesuai dengan fakta.

Kesimpulan yang jauh lebih kredibel adalah bahwa Cheney berbohong, sebagian karena ia telah berkomitmen, setidaknya sejak masa jabatannya sebagai menteri pertahanan, untuk menginvasi Irak.

Posisinya didorong oleh komitmen yang kuat terhadap neokonservatisme, sebuah keyakinan bahwa seluruh dunia akan lebih baik jika Amerika mengebomnya hingga menjadi lebih “seperti kita”.

Perang Tanpa Akhir

Peran Cheney dalam invasi ke Irak bisa dibilang merupakan tindakan kriminalnya yang paling berpengaruh.

Intelektual ternama Noam Chomsky berpendapat bahwa perang tersebut merupakan tindakan perang agresif paling mematikan di abad kita, dan kandidat kuat untuk kejahatan terburuk yang dilakukan dalam 30 tahun terakhir.

Sebuah studi tahun 2013 yang diterbitkan dalam jurnal peer-review PLOS Medicine memperkirakan jumlah korban tewas di Irak sekitar setengah juta orang.

Pada tahun 2023, para peneliti Universitas Brown, menggunakan data PBB, menyimpulkan bahwa invasi ke Irak dan kampanye “perang melawan teror” telah menewaskan lebih dari 4,5 juta orang.

Angka ini mencakup sekitar satu juta kematian langsung dan 3,5 juta kematian tidak langsung.

Perang tersebut juga menewaskan 7.000 tentara AS dan 8.000 kontraktor, menurut studi tersebut.

Invasi ke Irak juga memicu perang saudara di Irak, yang secara langsung mengarah pada pembentukan Negara Islam, sebuah kelompok yang dianggap bahkan lebih ekstrem daripada al-Qaeda.

Peran Cheney dalam perang Irak, bersama dengan citranya yang gelap dan menyeramkan, membuatnya dijuluki “Darth Vader” di awal tahun 2000-an.

Pengawasan dan Penyiksaan

Cheney bisa dibilang pendukung paling menonjol dari pemerintahan Republik terhadap Patriot Act, seperti dilaporkan kantor berita Associated Press.

Menurut American Civil Liberties Union (ACLU), Undang-undang pasca-9/11 yang luas ini memperluas kemampuan pemerintah untuk memata-matai warganya sendiri.

ACLU mengecam Patriot Act karena memberi pemerintah wewenang untuk menjadikan warga negara biasa sebagai tersangka.

Undang-undang tersebut memungkinkan agen pemerintah untuk memperoleh catatan telepon dan komputer pribadi tanpa persetujuan pengadilan, di antara ketentuan-ketentuan inkonstitusional lainnya.

Selain memperluas pengawasan negara, Cheney juga membantu menciptakan program penyiksaan Amerika setelah serangan 11 September 2001.

Segera setelah kejadian tersebut, ia mengatakan AS harus bekerja di “sisi gelap” untuk menghadapi ancaman terorisme.

Pernyataan tersebut secara luas dipahami sebagai referensi terhadap program penyiksaan dan penghilangan paksa yang dilakukan pemerintah.

Cheney dan yang lainnya mengakui bahwa waterboarding, suatu bentuk penyiksaan yang sangat brutal yang mensimulasikan penenggelaman, merupakan salah satu teknik yang digunakan di “situs hitam” rahasia di luar negeri dan di kamp penjara Teluk Guantanamo yang terkenal kejam.

Pemerintah juga memukuli para tersangka, membelenggu mereka dalam posisi stres, melarang mereka tidur dan makan, serta memaparkan mereka pada suhu panas dan dingin yang ekstrem.

Sebagian besar tahanan ditahan tanpa dakwaan atau pengadilan, dengan Cheney membantu memastikan penangguhan hak habeas corpus.

Human Rights Watch berpendapat bahwa terdapat bukti yang sangat kuat yang menunjukkan bahwa para pejabat senior pemerintahan Bush, termasuk Cheney, bersalah atas kejahatan kekejaman.

Pada tahun 2011, kelompok pengawas tersebut mendorong pemerintah Kanada untuk mengajukan tuntutan pidana terhadap Cheney selama kunjungannya ke Vancouver.

Kerangka hukum dan budaya yang Cheney bantu bangun secara langsung menyebabkan penyiksaan di penjara Abu Ghraib, di mana muncul gambar-gambar mengejutkan para tahanan Irak yang ditelanjangi dan dianiaya.

Warisan Tanpa Penyesalan

Dalam tahun-tahun terakhirnya, Cheney tidak menunjukkan penyesalan atas invasi AS ke Irak, meskipun konsekuensinya sangat buruk bagi rakyat Irak, Timur Tengah, bahkan AS dan komunitas global.

Setelah diakui secara luas bahwa pemerintahan Bush, setidaknya, telah melakukan kegagalan intelijen, Cheney bahkan membela invasi tersebut.

Dalam sebuah wawancara dengan Fox News pada tahun 2015, ia bersikeras bahwa ia
“benar tentang Irak”.

Demikian pula, Cheney tidak menyesali program penyiksaan yang ia bantu ciptakan.

Dalam sebuah wawancara pada tahun 2014, ia dengan bangga membela metode interogasi yang ia otorisasi, termasuk waterboarding, dengan mengatakan ia akan “melakukannya lagi, sebentar lagi”.

Ia bahkan menerima julukan “Darth Vader”, dan mengatakan ia terhormat dengan perbandingan tersebut.

Selama beberapa tahun terakhir, Cheney menyatakan penentangannya terhadap Presiden AS Donald Trump, dengan alasan bahwa ia berusaha merongrong demokrasi Amerika.

Namun, Cheney adalah perancang kerangka politik tirani yang saat ini digunakan oleh pemerintahan Trump.

Kekejaman Trump terhadap imigran dan tersangka, termasuk penggerebekan ICE, penahanan massal, dan pengeboman terhadap apa yang disebut “kapal narkoba” di laut, merupakan kelanjutan dari tatanan otoriter yang dinormalisasi oleh Cheney.

Warisan sejati Cheney, karenanya, tidak hanya terletak pada “perang melawan teror” yang turut ia rancang, tetapi juga pada infrastruktur politik dan moral yang ia tinggalkan.

Lebih dari dua dekade kemudian, tatanan dunia pasca-9/11 yang ditandai oleh perang tanpa akhir, intervensi pemerintah yang berlebihan, dan impunitas, tetap bertahan, dan para penjahat perang masa kini, yang mengikuti jejaknya, bebas berkeliaran. (MEE/rus)

Exit mobile version