Unhas Siap Transformasi Digital

Opini558 Dilihat

PERGURUAN tinggi memegang peranan penting dalam masyarakat dan tidak dapat dipisahkan dari peristiwa sosial, politik bahkan ekonomi, sehingga setiap kecenderungan dan perubahan yang terjadi di tengah masyarakat berdampak langsung pada universitas.

Oleh: Supratman Supa Athana (Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Universitas Hasanuddin)

Dampak terbaru yang dialami perguruan tinggi adalah dampak wabah virus korona yang kemudian memaksa pemerintah dan pihak rektorat untuk menutup kelas dan memberlakukan pembelajaran online hingga kemudian pemberlakuan pembatasan mahasiswa hadir di kelas dengan pembelajaran sistem hybrid; online-offline.

Pandemi covid-19 yang berlangsung kurang lebih 3 tahun membuat universitas tidak punya pilihan selain mengadakan kelas secara online dan jarak jauh. Pihak universitas membuat kebijakan dalam rangka mengantisipasi kondisi tersebut dengan mendigitalkan sistem pembelajaran agar dapat mengelola dan mengarahkan situasi sehingga proses belajar mengajar tetap berlangsung dengan baik dan berkualitas .

Sistem pembelajaran online dengan perangkat teknologi digital yang selama ini berlangsung mendapat perhatian serius dari Prof Dr Jamaluddin Jompa, rektor Universitas yang baru dilantik pada 27 April 2022 dengan menggantikan Prof Dwia Aries Tina Pulubuhu.

Menurut Prof JJ, demikian sapaan rektor Unhas ini, bahwa sejak awal dan di puncak pandemi Covid-19 saat pemerintah memutuskan untuk menangguhkan pembelajaran tatap muka sebagai konsekuensi dari kebijakan ‘lock down’ didapatkan realitas dan fakta bahwa proses pembelajaran dengan sistem digitalisasi selama ini belum memadai. Selain itu Prof JJ juga menemukan kenyataan bahwa banyak mahasiswa yang tidak bisa mendapatkan akses internet dan perangkat teknologi untuk mengikuti perkuliahan online.

Mahasiswa yang bermukim di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan dan Terluar) mengalami situasi yang sangat tragis. Mereka sama sekali tidak dapat mengikuti perkuliahan karena ketiadaan jaringan internet. Secara praktis mereka terancam mengalami learning loss selama pandemi. Itulah yang disebut oleh Norris (2001) sebagai kesenjangan digital (digital divide).

Tidak semua mahasiswa kita mampu mengikuti perkuliahan dengan baik karena keterbatasan ekonomi untuk membeli gadget dan perangkat teknologi lainnya serta ketersediaan jaringan internet yang stabil. Artinya bahwa perangkat sarana dan prasana memang belum maksimal.

Menyadari kenyataan yang sangat memiriskan hati itu, Prof JJ berinisiatif menemui Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia, Nadiem Anwar Makarim, B.A., M.B.A. untuk menyampaikan masalah yang dihadapi Unhas terkait proses pembelajaran online dan digitalisasi. Hasilnya adalah Menteri Nadiem bersedia mengalokasikan dana untuk mendukung sistem digitalisasi yang prima di Unhas. Nominalnya tidak disebutkan.”Pastinya, miliaran rupiah”, tegas Prof JJ dalam pidato pelantikan pejabat struktural di lingkup Unhas, 19 Juli 2022 di Gedung Baruga Andi Pangeran Pettarani

Jauh sebelum pandemik covid 19 sebetulnya kehidupan umat manusia sudah diramaikan dengan teknologi digital. Tak ada sektor kehidupan umat manusia yang terlepas dari teknologi digital. Semua sektor industri; perbankan, asuransi, mobil, petrokimia, baja, energi, makanan, hiburan, dan lain-lain, semuanya telah berubah di bawah pengaruh teknologi digital. Di luar industri, kehidupan pribadi masyarakat juga telah diubah berdasarkan teknologi baru ini.

Untuk lebih memahami pengaruh teknologi dalam kehidupan sehari-hari setiap individu, bayangkan hari-hari biasa tanpa smartphone dan tanpa media sosial. Anda mungkin akan menghadapi masalah dan tantangan serius. Anda seolah-olah berada di dunia lain. Itulah kenyataan hari ini bahwa kita hidup di zaman yang disebut era digital.

Menurut definisi kamus Cambridge, era digital adalah masa sekarang di mana banyak hal dilakukan melalui komputer dan sejumlah besar informasi untuk umum tersedia melalui teknologi. Secara sederhana, era digital dapat didefinisikan sebagai periode sejarah di mana penggunaan teknologi digital telah menjadi umum dan tersebar luas di seluruh dunia, dan ketergantungan manusia pada teknologi tersebut telah mencapai tingkat paling tinggi.

Pada titik ini, perkembangan akses teknologi telah melampaui wilayah geografis atau kelas sosial tertentu dan telah menjadi bagian integral dari kehidupan. Pembelajaran melalui teknologi dan kecerdasan buatan telah dikaitkan dengan kehidupan manusia. Teknologi tidak hanya menjadi alat dalam pelayanan sistem, tetapi juga pencipta sistem baru. Poros utama penciptaan nilai di dunia di era ini adalah teknologi digital. Banyak pakar menyebut zaman demikian ini sebagai era Revolusi Industri 4.0.

Prof JJ menyebut tenggat waktu tahun 2011 adalah saat dimana pertama kalinya konsep Revolusi Industri 4.0 diperkenalkan. Pada masa inilah digitalisasi berkembang dengan pesat dan menjadi keharusan untuk setiap sektor, tak terkecuali dunia pendidikan.

“Bahkan jauh lebih progressif lagi konsep dari almarhum Shinzo Abe, mantan Perdana Menteri Jepang, yang menawarkan konsep Society 5.0 yaitu sebuah komunitas masyarakat yang menggunakan perangkat teknologi untuk menyelesaikan segala permasalahan yang dihadapi ummat manusia. Konsep baru itu disampaikan di pertemuan World Economic Forum (WEF) 2019 di Davos, Swiss,” papar Prof JJ.

Berdasarkan kenyataan di atas maka rektor ke-13 Unhas ini meluncurkan program episode kedua Unhasku Bersatu, Unhasku kuat yang disebutnya sebagai Unhas ‘Transformasi Digital’. Episode pertama Unhasku kuat Unhasku Bersatu adalah ‘Penguatan Kelembagaan’.

Adapun langkah-langkah yang telah dilakukan Unhas untuk menandai peluncuran transformasi digital tersebut adalah; Digital Signature, Online Payment, Paperless Bureaucracy, Integrated Dashboard, Virtual Reality & Augmented Reality, Digital Content, Various Courses, Data and Analytic, Hub for Commercialization, Local Culture and Wisdom.
Salah satu ciri dari era dunia digital adalah kecepatan. Untuk mengantisipasi situasi tersebut rektor Unhas mengharapkan seluruh pejabat Unhas memiliki smartphone dengan spesifikasi khusus untuk menunjang kinerja transformasi digital.”Hal ini akan saya bicarakan dengan wakil rektor dua,’ungkap pakar ekologi kelautan ini.

Menghadapi dunia digitalisasi yang tidak saja membawa perubahan besar tetapi juga sangat dinamik dan cepat dalam kehidupan umat manusia maka Prof JJ menawarkan solusi yaitu; 1). Improvise (Berimprovisasi ) 2.) Adapt (Beradaptasi ), 3. Overcome ( Mengatasi ). (*)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *