Tidak Selamanya Minta Maaf Berarti Mengaku Salah

Opini377 Dilihat

MEMINTA maaf biasanya dipahami sebagai pengakuan bersalah atas suatu perbuatan. Banyak orang yang merasa berat untuk minta maaf walau secara pribadi, disadari bahwa kita telah melakukan kesalahan. Tetapi dengan semua kesulitan itu, pada akhirnya kita telah meminta maaf berkali-kali.

Oleh: Supratman (Dosen Prodi Sastra Arab dan Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Unhas)

Permintaan maaf memiliki beberapa pencapaian; 1). Capaian paling sederhana adalah aspek moralnya membuat hati nurani kita akan lebih nyaman dan kita akan tidur lebih nyenyak. 2). Mempertahankan hubungan baik dengan pihak lain.3). Mempertahankan citra baik.

Ada banyak pendapat dan penelitian terkait strategi dan motivasi orang meminta maaf. Saya akan menyampaikan pendapat Gerald Schoenewolf ( 2015) tentang jenis minta maaf.

Pertama, minta maaf dengan maksud menenteramkan ( Apologizing to Appease) .
Menurut Schoenewolf jenis meminta maaf seperti itu adalah untuk mengendalikan seseorang. Schoenewolf mencontohkan seorang pecandu alkohol pergi ke pesta minum, dan ketika dia pulang, istrinya menunggu dengan tidak sabar. Sebelum istirinya mengungkapkan kemarahannya, dia dengan cepat dan penuh semangat meminta maaf. Dia tidak benar-benar merasa menyesal tentang apa yang telah dia lakukan. Dia meminta maaf karena takut. Dia ingin meredam luapan kemarahan isterinya yang sudah dia perkirakan sebelumnya.

Kedua, permintaan maaf karena tekanan publik (Apologizing on Demand). Seseorang meminta maaf karena suara publik meminta atau menekannya untuk minta maaf.

Ketiga, Permintaan maaf karena kemanfaatan ( The apology is done out of expediency).

Keempat, Meminta maaf tanpa meminta maaf (Apologizing without Apologizing ). Minta maaf jenis ini bukan karena kesalahan. Seseorang minta maaf kepada orang lain karena orang lain itu menyangka disakiti oleh orang yang ingin minta maaf.

Kelima, meminta maaf karena bersalah (Apologizing from Guilt). Seseorang minta maaf karena menyadari dirinya memang bersalah. Oleh karena itu perlu memang meminta maaf.

Keenam, Meminta maaf untuk kesopanan (Apologizing to be Polite). Seseorang mengucapkan permohonan maaf kepada orang lain karena kesopanan. Misalnya seseorang yang mau bersin, lalu ia membalikkan badan dan mengatakan;’Maaf ya.

Ketujuh, Meminta maaf karena cinta (Apologizing from Love). Permintaan maaf karena cinta adalah sebuah bentuk maaf yang diungkapkan dari perasaan cinta yang tulus dan dalam. Dorongan permintaan maaf itu untuk memastikan bahwa segalanya telah ia persembahkan untuk yang dicintai tetapi mungkin saja ada kekurangan atas hal tersebut maka sang pecinta menyatakan maaf. Kekurangan itu bila ada pada sang pecinta bukan karena disengaja atau diinginkan tetapi memang sampai batas itu saja kemampuan paling puncak dari seorang manusia yang tak luput dari kekurangan.

Ada istilah lain Deborah Levi (2013) yaitu ‘apology non apology’ (Permintaan maaf yang bukan permintaan maaf ). Menurut Levi, ‘apology non apology’ adalah bentuk permintaan maaf tetapi tidak disertai penyesalan atau tanggungjawab.
Deborah Levi memperkenalkan jenis permintaan maaf ‘apology non apology sebagai berikut:

Permintaan Maaf Taktis: Ketika seseorang yang dituduh melakukan kesalahan membuat permintaan maaf verbal dan strategis yang belum tentu tulus.

Permintaan Maaf Penjelasan: Ini adalah ketika seseorang yang dituduh melakukan kesalahan meminta maaf yang hanya merupakan isyarat dan ucapan yang dibuat untuk menentang tuduhan telah melakukan kesalahan.

Permintaan Maaf Formal: ketika seseorang yang dituduh melakukan kesalahan meminta maaf atas saran dan rekomendasi dari orang yang berpengaruh (yang bisa menjadi orang yang sama yang melakukan kesalahan).

Permintaan maaf dengan akhir yang bahagia: ketika seseorang yang dituduh melakukan kesalahan menerima sepenuhnya kesalahan dan tanggung jawab untuk itu dan benar-benar mengungkapkan penyesalan atas tindakannya.

Terakhir jenis permintaan maaf ala Pete Linnet yaitu; Pertama, seseorang meminta maaf karena ingin menyelematkan diri dari seseorang. Kedua, Permintaan maaf yang tulus dengan harapan suatu masalah dapat diakhiri dengan baik. Ketiga, Permintaan maaf yang tulus lantaran ingin ingin membangun kembali hubungan yang pernah retak.

Jelas sudah bahwa meminta maaf bukan otomatis sebuah pernyataan untuk mengakui kesalahan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *