Oleh: Rusman Madjulekka
UMUR ternyata hanyalah angka belaka bagi Salahuddin Alam. Kendati sudah gaek tapi semangat belajar-nya tetap menyala, tak kalah dengan mahasiswa yang jauh lebih muda dan bugar darinya.
Alam–begitu panggilan sehari-harinya-mampu membuktikan diri dan tidak hanya bisa meraih gelar S1 (FIB) tapi juga gelar magister keuangan di usia 56 tahun. Dan tidak menunjukkan tanda-tanda melambat setelah lulus, bahkan Alam tetap aktif dan makin semangat.
Saya baru sempat mengucapkan selamat secara langsung di Jakarta pada saat acara rapat koordinasi IKA Unhas Jabodetabek, Minggu (2/11). Pagi itu ia mewakili Ketum IKA Unhas Andi Amran Sulaiman. Wajahnya nampak sumringah saat beberapa alumni memberi ucapan selamat padanya.
“Selamat apa ini?” tanyanya penasaran.
“Selamat atas gelar baru magister keuangan,” jawab para alumni.
“Ohh…amin dan terima kasih,”
Jarak waktu yang panjang setelah dirinya lulus S-1 di Fakultas Sastra (kini FIB) ke studi S2-nya di FEB Unhas diakuinya karena kesibukan dan larut dalam berbagai aktivitas organisasi, gerakan sosial dan kemanusiaan. Meski begitu ia bersyukur masih diberi waktu dan kesehatan menuntaskan pendidikan jenjang magister keuangan.
“Ternyata lebih gampang membuat kegiatan atau event daripada membuat laporan keuangan, apalagi kalau uangnya belum ada hehe,” ujarnya disambut tawa para alumni.
Direktur Eksekutif Pengurus Pusat Ikatan Alumni (IKA) Universitas Hasanuddin ini, diwisuda 27 Oktober 2025 setelah dinyatakan lulus cumlaude IPK 3,97 pada program pasca sarjana magister keuangan daerah FEB Unhas dengan tesis berjudul “Optimalisasi Peran PT Sulsel Citra Indonesia (SCI) Sebagai Perseroda Terhadap Peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Sulawesi Selatan”.
Dalam tesisnya, lelaki yang setiap pagi rutin mengkonsumi suplemen herbal tradisional dan stretching ini, mengungkapkan bahwa untuk mengurangi ketergantungan terhadap pusat provinsi bisa menggenjot PAD melalui melalui optimalisasi pengelolaan BUMD.
“Kalau di Sulsel seperti PT Sulsel Citra Indonesia (SCI) sangat diharapkan berkontribusi terhadap PAD melalui sektor perhotelan, kuliner, transportasi, dan pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan,” kata Alam.
Untuk mengoptimalkan kontribusi BUMD PT SCI ini, menurut Alam, maka diperlukan sejumlah langkah strategis yang bersifat solutif dan berkelanjutan. Yakni, Pemprov Sulsel perlu segera melakukan inventarisasi dan penataan ulag aset daerah, serta mendorong perceatan alih Kelola aset potensial yang masih dikuasai pihak ketiga agar dapat dikelola secara langsung oleh SCI. “Hal ini akan memperluas ruang gerak SCI dalam menciptakan sumber pendapatan baru,” ujarnya.
Selain itu, lanjut Alam, perlu dibangun mekanisme koordinasi yang lebih efektif dan terpadu antar perangkat daerah, khususnya dalam hal perizinan. Lalu juga disarankan agar Pemprov Sulsel melakukan revisi regulasi dan kebijakan daerah yang mengatur peran BUMD sehingga lebih adaptif terhadap dinamika ekonomi.
“Yang tak kalah pentingnya juga pendekatan kolaboratif dengan menjalin kemitraan stretagis dengan investor swasta dan internasioal melalui model kerjasama bisnis yang saling menguntungkan,” tandasnya.
Sementara Dekan FEB Unhas, Prof Mursalim Nohong memberikan apresiasi terhadap effort yang sudah ditunjukkan Salahuddin Alam dan mengharapkan ilmu yang diperoleh bisa memberikan kontribusi bagi kemajuan Pembangunan daerah.
Sungguh waktu 1 tahun 1 bulan terlalu cepat bagi seorang Alam yang telah berusia 56 tahun lebih ini. So, mahasiswa yang jauh lebih muda, jangan mau kalah sama lelaki yang sudah diambang usia lansia ini.
Selamat bagi Salahuddin Alam SS, M.Si, semoga menjadi inspirasi bahwa menuntut ilmu tidak mengenal usia. Dan tak ada kata terlambat.

