Site icon KABARIKA

Alumni Pengusaha

Oleh Rusman Madjulekka

Mungkin harus dikaji. Kenapa kampus yang berbasis teknologi seperti ITB banyak melahirkan pengusaha papan atas. Sebut saja Teddy Rahmat, Aburizal Bakrie dan masih banyak lagi. Beda dengan Universitas Hasanuddin (Unhas).

Konon terkenal banyak melahirkan pengusaha dan pedagang hebat, justru cenderung lebih banyak melahirkan birokrat dan politisi. Memang ada alumni pengusaha, tidak banyak dibanding ITB.

Padahal sejarah basicnya Unhas itu ilmu ekonomi dengan alasan dulunya di Makassar banyak melahirkan pengusaha dengan spirit saudagar yang ikut mewarnai blantika bisnis dan ekonomi nasional.

Itulah mengapa Fakultas Ekonomi di Makassar, Sulawesi Selatan yang didirikan 8 Oktober 1948 hadir lebih duluan dari induknya, dan menjadi cikal bakal lahirnya Universitas Hasanuddin pada 10 September 1956.

Hal tersebut terungkap dalam pemaparan Jusuf Kalla, Wapres RI ke 10 dan 12 yang menjadi pembicara utama pada Sarasehan Ekonomi bertajuk “Jalan Baru Ekonomi Indonesia: Evaluasi dan Rekonstruksi Strategi Pembangunan Indonesia” di kampus Unhas Tamalanrea, Makassar, Senin (15/12/2025).

Kegiatan tersebut dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-77 Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unhas.

Fenomena menurunnya jumlah dan animo “pengusaha” itu membuat resah JK. Sebab baginya, kemajuan suatu bangsa dimana pun itu sangat ditentukan sektor swata yang dimotori kalangan pengusaha. Karena dari sektor inilah yang paling besar berkontribusi mendongkrak pertumbuhan ekonomi.

Menjadi motor penggerak mendorong peningkatan pendapatan per kapita dan penciptaan lapangan kerja baru bagi masyarakat.

“Dulu sebelum di wisuda, para mahasiswa calon alumnus Unhas terlebih dulu mengikuti pembekalan berupa orientasi dunia usaha kerjasama dengan Kadin. Namanya Moda.

Tujuannya supaya mereka punya pengetahuan dan pengalaman setelah lulus sarjana,” cerita Jusuf Kalla yang masa itu menjabat Ketua Kadin Sulsel.

Saya menangkap “keresahan” serupa diraut wajah Dekan FEB Unhas, Prof Mursalim Nohong saat memberi sambutan pada sarasehan ekonomi hari itu. Pria asal Sidrap ini dituntut harus menyelesaikan bangunan gedung kantor dan perkuliahan vertikal “FEB Tower” yang masih kekurangan dana pembangunan.

“Kalau sebagian orang menanggap 13 sebagai angka yang kurang beruntung, maka bagi saya angka 15 yang membuat resah. Angka itu mengacu gedung tower FEB yang berlantai 15,” ujarnya.

Tentu saja untuk mengatasi keresahan itu, FEB Unhas juga perlu dukungan para alumni. Dan pasti tidak keberatan kalau dapat donasi untuk kelanjutan pembangunan gedung dan dana abadi. Tentu donatur dari alumni Unhas dan pihak lainnya.

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Peribahasa lawas ini tepat untuk menggambarkan perbedaan universitas/institut di Indonesia. Di tanah air, beberapa univeritas yang terkemuka seperti UI, UGM, ITB, IPB, Unair, ITS, Unhas, dan sebagainya. Namun soal dukungan alumninya, perguruan tinggi di Jawa boleh dibilang sangat antusias.

Saya tak tahu persis yang menyebabkan “keantusiasan” tersebut begitu tinggi. Tetapi, dugaan saya, karena dukungan dana yang maksimal. Dan itu bukan dari pemerintah. Sumbangan dana itu hanya sebagian kecil berasal dari uang kuliah, sebagian besarnya justru dari donasi dan kerjasama kemitraan riset dan inovasi dengan korporat atau perusahaan swasta.

Lagi-lagi siklusnya kembali ke sektor swasta atau pengusaha. Jadi tak salah bila JK meminta Unhas, terutama FEB, agar kembali bisa mencetak lebih banyak alumni sarjana yang berorientasi dunia usaha atau wirausahawan dengan spirit saudagar tangguh:Ewako!

Kenapa mesti tangguh? Kok saya jadi ragu pada istilah daya beli turun. Yang sering turun justru “daya tahan” pelaku usahanya. Mereka yang bertahan lama biasanya bukan yang pintar secara akademik, tapi paling banyak pengalaman.

Seperti kata JK, kesuksesan seseorang ditentukan dua pilihan. Pertama kepintaran dan kedua pengalaman (leadership). “Kebetulan saya memilih yang kedua,” ujar JK.

Sambil merenung, tiba-tiba saya berpikir. Mungkin masa depan ekonomi Indonesia tidak butuh “jalan baru”, ditentukan pidato panjang atau kebijakan gegap-gempita. Tapi boleh jadi keputusan kecil yang dikerjakan dengan sabar. Kadang cukup ketekunan dan konsistensi. Disitulah sesungguhnya denyut ekonomi bekerja.(*)

Exit mobile version