Oleh: Deni Prasetya (Ketua Bidang Pertanian dan Perkebunan PW GP Ansor Jawa Timur)
Pengumuman Presiden Prabowo Subianto mengenai tercapainya swasembada pangan nasional menandai babak penting dalam sejarah ketahanan pangan Indonesia. Produksi beras tertinggi sepanjang sejarah dalam satu tahun pemerintahan bukan hanya capaian teknokratis, tetapi juga kemenangan strategis bangsa dalam menjaga kemandirian dan ketahanan nasional.
Dalam dunia yang semakin rentan krisis pangan global, kemampuan sebuah negara memberi makan rakyatnya adalah ukuran nyata dari kedaulatannya.
Di balik capaian tersebut, peran Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman tidak dapat dipisahkan. Keseriusan dan konsistensinya dalam menata sektor pangan menghadirkan satu refleksi menarik: jejak kebijakan pangan hari ini memiliki kemiripan nilai dengan strategi pangan Nabi Yusuf AS di masa silam, yakni keberanian membaca masa depan, menguatkan produksi di masa subur, dan menyiapkan fondasi kuat untuk menghadapi ketidakpastian.
Sebagaimana Nabi Yusuf AS yang menata Mesir melalui kebijakan pangan jangka panjang setelah menafsirkan mimpi raja tentang tujuh tahun masa subur dan tujuh tahun masa paceklik, Mentan Amran memimpin sektor pertanian dengan pendekatan yang tidak reaktif, tetapi strategis.
Swasembada pangan tidak dikejar secara instan, melainkan dibangun melalui perencanaan terukur, kerja masif, dan keberpihakan nyata pada petani.
Langkah tersebut terlihat dari kombinasi kebijakan intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian yang dijalankan secara seimbang. Dari sisi intensifikasi, pemerintah memperkuat penggunaan benih unggul, pompanisasi, optimasi lahan, perbaikan dan pembangunan irigasi, modernisasi pertanian, hingga peremajaan alat dan mesin pertanian (alsintan).
Semua ini merupakan ikhtiar meningkatkan produktivitas lahan tanpa menunggu perluasan wilayah secara berlebihan. Sementara itu, dari sisi ekstensifikasi, percepatan cetak sawah baru dilakukan sebagai upaya memperluas basis produksi nasional.
Kebijakan ini mencerminkan semangat Nabi Yusuf AS yang tidak hanya mengandalkan hasil panen yang ada, tetapi juga memastikan kapasitas produksi mencukupi untuk kebutuhan jangka panjang umat.
Dalam berbagai kesempatan, Mentan Amran menegaskan bahwa modernisasi pertanian adalah kunci utama ketahanan pangan berkelanjutan. Tantangan pertanian ke depan mulai dari perubahan iklim, krisis tenaga kerja, hingga tekanan global tidak bisa dihadapi dengan pola lama.
“Modernisasi pertanian menjadi kunci dalam menjaga ketahanan pangan nasional,” tegasnya suatu waktu.
Pemerintah terus memperkuat mekanisasi, penyediaan sarana produksi, dan pendampingan petani agar produktivitas meningkat seiring dengan naiknya kesejahteraan mereka.
Pendekatan ini selaras dengan spirit Nabi Yusuf AS yang mengandalkan manajemen, ilmu, dan tata kelola yang baik dalam mengelola pangan. Teknologi hari ini adalah padanan hikmah dan kecerdasan yang dahulu digunakan Nabi Yusuf dalam menyusun kebijakan lumbung pangan Mesir.
Penerapan teknologi terlihat nyata melalui penggunaan combine harvester dalam panen raya yang mampu mempercepat panen, menekan kehilangan hasil, dan mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja manual.
Di sisi hulu, penggunaan varietas unggul padi Inpari 32 dengan potensi hasil hingga 8,42 ton per hektare menjadi pengungkit signifikan bagi peningkatan produksi nasional. Ini adalah bentuk ‘menyimpan hasil di bulirnya’, sebagaimana pesan Nabi Yusuf AS. mengoptimalkan hasil agar tidak terbuang sia-sia.
Keberhasilan swasembada pangan di era Presiden Prabowo dengan Mentan Amran sebagai pelaksana utama kebijakan, membuktikan bahwa ketahanan pangan lahir dari kepemimpinan yang visioner, berani, dan berpijak pada kepentingan rakyat. Swasembada pangan bukan hanya sekadar soal angka produksi, melainkan soal keberlanjutan, keadilan, dan kesiapan menghadapi masa depan.
Dalam perspektif nilai, kebijakan pangan ini sejalan dengan prinsip hifẓ al-nafs (menjaga kehidupan) dan hifẓ al-māl (menjaga kesejahteraan) yang menjadi inti dari kemaslahatan umat. Negara hadir bukan hanya sebagai regulator, tetapi sebagai penjaga kehidupan rakyatnya.
Maka, menyebut Mentan Amran Sulaiman sebagai pengikut jejak pangan Nabi Yusuf AS tidaklah berlebihan. Bukan dalam makna simbolik semata, tetapi dalam semangat kepemimpinan: membaca tanda zaman, bekerja sebelum krisis datang, dan menata pangan sebagai pilar keselamatan bangsa.
Dari lumbung-lumbung padi hari ini, Indonesia sedang menulis kisah kedaulatan pangannya sendiri, sebuah ikhtiar yang berpijak pada ilmu, nilai, dan keberanian mengambil keputusan besar demi masa depan. (*)

