Oleh: ๐๐ฎ๐ ๐๐๐ฌ๐ฆ๐๐ง
Aku tersentak membaca Sunnah mulia-Nya, gema titah Rasulullah ๏ทบ:
โ๐๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ, ๐ซ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ช๐ฌ๐ด๐ข; ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ช ๐ฌ๐ข๐ฃ๐ข๐ณ ๐จ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ช๐ณ๐ข, ๐ซ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ถ๐ด๐ช๐ข ๐ญ๐ข๐ณ๐ช.โ
Sejak itu aku mengerti, utusan Tuhan hadir membawa aneka kegembiraanโbukan teror ketakutan, bukan ancaman batin menyesakkan dada.
Kukatakan pada jiwaku, atas karunia-Nya, kegembiraan menjelang Ramadhan pantas dirayakan, bahkan melampaui hitungan nalar dunia.
Getarnya kurasa lebih kuat dari syahwat sesaat, lebih dalam dari sorak kemenangan arena laga.
Baru kini kusadari, ulama salaf memanjatkan doa enam bulan demi satu detik perjumpaan dengan Syahrul Mubarak:
โ๐ ๐ข ๐๐ญ๐ญ๐ข๐ฉ, ๐ด๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฌ๐ฆ ๐๐ข๐ฎ๐ข๐ฅ๐ฉ๐ข๐ฏ.โ
Kerinduan itu sendiri menjadi ibadah, tanda bahwa menyambut Ramadhan dengan gembira adalah kemuliaan ruhani.
Fajar Ramadhan mulai terasa mendekat.
Keyakinanku menguat: kegembiraan menyambutnya menjadi sebab perlindungan dari api neraka.
Janji langit itu telah lama kuterima, jauh sebelum dahi kembali menyentuh sajadah sunyi.
Aku ingin menyambut Ramadhan 1447 H sebagai Hadiah Agungโtanpa balutan gemerlap dunia.
Kuterima ia sebagai anugerah dari Arsy: pembebasan dari belenggu nafsu dan harapan menuju Jannatul Firdaus.
Pengalaman tahun-tahun lalu menjadi saksi: Ramadhan meruntuhkan sekat sosial.
Mukmin saling menyuapi sesama mukmin, pedagang non-Muslim pun tersenyum melihat rezeki mengalir.
Bagiku, ia bukan sekadar putaran waktu, melainkan penjaga suci dari jalan menuju azab.
Aku memilih menyongsong bulan suci Ramadhan dengan damai.
Keyakinanku sederhana: pikiran lurus, dakwah terus berjalan, ruang kuliah tetap hidup; selebihnya, hasil akan menemukan jalannya sendiri.
Kegembiraan melahirkan senyum, dan sering kali senyum itulah pintu pertama menuju kegembiraan sejati.
Saudaraku, semakin kita bergembira menyambut Ramadhan, semakin utuh rasa hidup ini.
Aku merasa kecil, seperti debu di tengah cahaya luas.
Saat mengucap โyaโ pada undangan Tuhan, aku hanyalah cermin sederhana, mencoba memantulkan cahaya-Nya agar jiwa-jiwa letih menemukan tempat bernaung.
Kini aku memahami tingkat kegembiraan.
Ada gembira pribadi saat melewati ujian dunia.
Ada gembira bersama saat ibadah dirayakan ramai-ramai.
Namun di atas semuanya, ada kegembiraan tertinggi:
saat tabir dunia tersingkap,
saat pandangan bertemu wajah Allah tanpa penghalang.
โ๐๐ข๐ซ๐ข๐ฉ-๐ธ๐ข๐ซ๐ข๐ฉ (๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ-๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ถ๐ฌ๐ฎ๐ช๐ฏ) ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฉ๐ข๐ณ๐ช ๐ช๐ต๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐ฆ๐ณ๐ช-๐ด๐ฆ๐ณ๐ช.
๐๐ฆ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข ๐๐ข๐ฃ๐ฃ-๐ฏ๐บ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต.โ (QS. Al-Qiyamah: 22โ23)
๐๐บ๐ข๐ฉ๐ฅ๐ข๐ฏ, dua keberuntungan kukunci dalam hidup ini:
gembira kala Maghrib membasahi kerongkongan,
dan kegembiraan agung saat ruh kembali kepada Sang Penciptaโdalam keabadian tanpa batas.
๐๐ ๐ ๐๐๐ซ๐ฎ๐๐ซ๐ข ๐๐๐๐ (๐๐)

