Oleh: Muliadi Saleh (Esais Reflektif| Arsitek Kesadaran Sosial)
Di momentum kebersamaan alumni, suara kemanusiaan kembali ditegaskan oleh Ketua Umum IKA UNHAS yang juga Menteri Pertanian. Pesannya sederhana, tetapi mengguncang kesadaran: tidak boleh ada anak bangsa yang kelaparan. Sebuah kalimat yang bukan sekadar seruan moral, melainkan mandat sosial yang menuntut tindakan nyata.
Secara ilmiah, kelaparan bukan hanya persoalan ketersediaan pangan. Ia berkaitan dengan distribusi, daya beli, solidaritas sosial, dan kepekaan komunitas. Negara boleh memiliki cadangan pangan besar, tetapi tanpa empati di tingkat mikro — tetangga, lingkungan sekitar, komunitas alumni — kelaparan tetap bisa bersembunyi di balik tembok rumah kita sendiri. Di sinilah pendekatan sosial berbasis komunitas menjadi sangat relevan.
Kick off bakti sosial alumni menjadi simbol bahwa kepedulian tidak selalu harus menunggu program besar pemerintah. Kepedulian justru lahir dari langkah kecil. Mendata tetangga yang kesulitan, memastikan tidak ada yang terabaikan, dan menghidupkan kembali tradisi saling menjaga. Dalam perspektif sosiologi pembangunan, jejaring sosial seperti komunitas alumni sering kali lebih cepat bergerak dibanding institusi formal karena dilandasi kedekatan emosional dan rasa memiliki.
Ajakan untuk berbagi juga disertai penegasan menarik. Jika bantuan belum hadir dari negara, ada ruang gerak masyarakat sipil, termasuk melalui AAS Foundation. Kehadiran lembaga filantropi semacam ini menunjukkan bahwa ekosistem kesejahteraan modern tidak lagi bertumpu pada satu aktor saja. Pemerintah, komunitas, dan lembaga sosial saling melengkapi, menciptakan jaring pengaman yang lebih luas bagi kelompok rentan.
Namun, pesan terdalam dari pernyataan tersebut justru bersifat spiritual. Kita tidak pernah tahu siapa yang benar-benar diridai Tuhan. Karena itu, kesombongan dalam memberi harus dijauhkan. Berbagi bukan panggung prestise, melainkan latihan kerendahan hati. Dalam tradisi sufistik, memberi bukan hanya transfer materi, tetapi proses penyucian diri dari ego dan keterikatan duniawi.
Dimensi spiritual ini menjadi semakin relevan ketika memasuki bulan suci. Puasa bukan sekadar menahan lapar, melainkan pendidikan empati. Rasa haus dan lapar yang kita rasakan seharusnya membuka mata terhadap mereka yang mengalaminya bukan karena ibadah, melainkan keterpaksaan ekonomi. Jika kesadaran ini tumbuh, maka puasa berubah dari ritual individual menjadi gerakan sosial yang transformatif.
Secara ilmiah-populer, fenomena berbagi berbasis komunitas terbukti meningkatkan kohesi sosial. Penelitian sosial menunjukkan bahwa masyarakat dengan solidaritas tinggi cenderung memiliki tingkat ketahanan pangan rumah tangga lebih baik, karena informasi dan bantuan mengalir lebih cepat. Artinya, mendata tetangga bukan tindakan administratif semata, tetapi strategi sosial untuk mencegah kerentanan kolektif.
Ada keindahan tersendiri dalam berbagi yang lahir dari kesadaran, bukan kewajiban. Ia menciptakan rasa hangat yang tak terukur secara statistik, tetapi terasa nyata dalam kehidupan sehari-hari. Senyum yang kembali merekah, kecemasan yang mereda, dan harapan yang tumbuh — semua itu adalah indikator kesejahteraan yang sering luput dari angka-angka ekonomi.
Gerakan bakti sosial alumni pada akhirnya bukan hanya agenda seremonial. Ia bisa menjadi model solidaritas sosial berbasis intelektual. Alumni perguruan tinggi yang tidak hanya berbagi ilmu, tetapi juga kepedulian. Sebab ilmu tanpa empati mudah menjadi menara gading, sementara empati tanpa ilmu kadang kehilangan arah. Ketika keduanya bertemu, lahirlah gerakan sosial yang berdaya dan berkelanjutan.
Maka pesan moralnya kembali sederhana yaitu lihat dan perhatikan sekitar kita. Jangan biarkan kelaparan menjadi cerita sunyi yang tak terdengar. Dari pintu rumah terdekat, dari tetangga paling dekat, dari lingkar alumni yang kita miliki — kepedulian bisa dimulai.
Dan barangkali di situlah letak keindahan berbagi. Tidak selalu besar, tetapi selalu bermakna. Ia tidak selalu terlihat, tetapi dampaknya terasa. Ia tidak selalu dipuji, tetapi bisa jadi justru di situlah keridaan Tuhan bersemayam. (*)
Muliadi Saleh: “Menulis Makna Membangun Peradaban.”

