๐ข๐น๐ฒ๐ต: ๐ฆ๐๐ณ ๐๐ฎ๐๐บ๐ฎ๐ป
MALAM ke-18 Ramadan telah berlalu.
Tiga rakaat witir baru saja tertunaikan sempurna. Saya beranjak pulang dari Masjid A. Oddang, membelah kepadatan Jalan Pelita Raya menuju Bukit Baruga.
Hujan mengguyur Makassar. Kendaraan mulai padat merayap mirip ๐๐ข๐ญ๐ข๐ฑ๐ถ๐ข ๐ฏ๐ข ๐๐ฆ๐ด๐ข ๐๐ฐ๐ซ๐ฐ๐ฏ๐จ. Siraman air langit membasahi aspal yang sudah jenuh oleh lalu lintas malam.
Sebelum roda kendaraan menyentuh aspal A.P. Pettarani, ponselku berdering. Suara Prof. Marjuni terdengar renyah di balik bising hujan. Beliau melihat kendaraan saya lewat, lalu mengajak singgah ngopi bareng di Warkop Pelita.
Saya heran, koleksi warkop Prof. Marjuni sepertinya banyak sekali.
Dulu beliau mengajak saya pertama kali ke Warkop Daeng Anas di Jalan Faisal. Malam ini lokasinya berpindah lagi. ๐๐ช๐ด๐ด๐ฆ๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ฆ๐ฏ๐จ. Saya tidak tahu warkop apa lagi yang akan dimasuki besok.
Di sana, Pak Rektor UIM bersama kawan-kawan sudah duduk melingkar. Formasi duduk mirip gaya โ๐ฎ๐ข๐ฅ๐ฅ๐ฐ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จโ.
Saya melihat wajah-wajah penuh gurat kelelahan menggantung di bawah mata. Bak mesin mobil Panther penumpang dipaksa menanjak jalan terjal berkelok di Camba tanpa henti, suhu pemikiran mereka sepertinya sudah masuk zona merah demi memburu amal jariyah di Syahrul Mubarak ini.
Sekali-kali saya perlu ikut nimbrung. Perlu mendinginkan piston dan suspensi pikiran. Selama Ramadan ini pikiran dipaksa berakselerasi penuh memperbarui hafalan dalil.
Saya memesan kopi susu โ๐๐ข๐ค๐ค๐ข๐ฏ๐ฅ๐ถ ๐ฏ๐ข ๐๐ข๐ด๐ด๐ข๐ฅ๐ช๐ฅ๐ถโ racikan wanita muda belia. Ia melayani sambil membungkuk sopan, menunjukkan ekspresi siap mendengar setiap permintaan tamu datang.
Itulah keunggulan warkop: harga terjangkau, suasana santai-kekeluargaan, menu merakyat, dan pelayanan ramah dari para pelayan yang cekatan.
Tak lama, pesanan datang: secangkir kecil kopi mirip minuman satu shotโโ๐๐ช๐ด๐ฆ๐ฎ๐ฎ๐ช ๐ญ๐ข๐ช-๐ด๐ฎ๐ข๐ค๐ฌ๐ฅ๐ฐ๐ธ๐ฏ, ๐ค๐ข๐ฑ๐ฑ๐ถโ๐ฏ๐ชโโmembuat saya tak tidur sampai esok hari.
Usai itu muncullah aneka kue: dadaraโ hijau mirip kasur gulung kapuk, ada pula kue menyerupai ban motor Vespa berlubang tengahnya, serta risol mayo super lembek tak bertenaga alias loyonisasi. Namun suasana terasa syahdu saat tawa lepas pecah.
Kami duduk santai mirip gaya โmendiskusikan rudal balistik mau dikirim ke Tel Avivโ; asyik ๐ฎ๐ข๐ค๐ค๐ฐ๐ณ๐ช๐ต๐ข ๐ฅ๐ฆ ๐จ๐ข ๐ด๐ช๐ฑ๐ข๐ญ๐ข๐ฃ๐ฆโ tanpa judul jelas. Inilah momen mahal yang sering terkubur di bawah tumpukan jadwal.
Di sini saya merasakan teman berasa seperti saudara. Silaturahmi di warkop menjadi pelumas ukhuwah paling orisinal.
Seorang teman sejati adalah dia memberi nasihat ketika melihat kesalahanmu.
Saya pernah mempraktikkan wejangan Imam Ali kepada seorang teman. Saya mengingatkan kesalahan tajwidnya dengan niat tulus, karena pelafalannya terdengar kurang tepat.
Namun ia justru meledak marah. Hingga detik ini ia selalu menjaga jarak. Hati saya hanya bergumam: โKasihan sekali dia. Anda memang siapa!โ
Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. pernah berpesan: โJanganlah engkau mengharapkan persahabatan dari orang yang tidak menginginkanmu sebagai sahabat.โ
Orang bersedia mengkritikmu dengan jujur berarti peduli pada persahabatanmu. Sementara mereka yang menutup-nutupi kesalahanmu, sesungguhnya tidak benar-benar peduli padamu.
Warkop malam itu bekerja layaknya ๐ธ๐ช๐ฏ๐ฅ๐ด๐ฉ๐ช๐ฆ๐ญ๐ฅ ๐ธ๐ช๐ฑ๐ฆ๐ณ. Sapuan kaca ini menyapu sisa kabut kelelahan dan debu residu negatif di kaca depan pemikiran saya. Pandangan kembali jernih.
Mendinginkan mesin sejenak justru memanaskan kembali semangat pengabdian. Lelah ini juga bagian dari ibadah.
Ngopi dulu agar terhindar dari golongan orang merugi. Kopi tak pernah dusta atas nama rasa: hitam tak selalu kotor, pahit tak harus sedih.
Sesekali kita memang perlu jedaโmengunjungi diri sendiri, jangan cuma mengunjungi utang. Kalau mata selalu mengantuk saat pengajian, coba pikirkan cicilan. Pasti langsung terbuka lebar tanpa perlu ganjal korek api.
Malam itu saya pulang dengan satu kesimpulan sederhana: kadang persaudaraan tidak lahir dari ruang rapat atau mimbar ceramah. Ia justru tumbuh diam-diam di meja warkopโdi antara uap kopi panas dan tawa yang tidak dibuat-buat.
๐๐ต๐ฎ๐ฑ, ๐ญ๐ด ๐ฅ๐ฎ๐บ๐ฎ๐ฑ๐ต๐ฎ๐ป ๐ญ๐ฐ๐ฐ๐ณ ๐/ ๐ด ๐ ๐ฎ๐ฟ๐ฒ๐ ๐ฎ๐ฌ๐ฎ๐ฒ ๐
๐ฆ๐

