Site icon KABARIKA

Berjabat Tangan atau Bersalaman?

Oleh: Muliadi SalehEsais Reflektif dan Arsitek Kesadaran

Tangan. Ia tak mengucapkan kata. Ia menyampaikan makna. Ia tidak menulis kalimat, tetapi menghadirkan rasa. Ketika dua tangan bertemu, ada sesuatu yang melampaui sekadar gerakan. Ada pengakuan, ada penerimaan, ada keinginan untuk terhubung.

Berjabat tangan atau bersalaman, istilah yang sering kita gunakan, seolah sama, namun menyimpan kedalaman makna.

Berjabat tangan adalah pertemuan.
Bersalaman adalah penyampaian.

Dalam jabat yang erat, ada kepercayaan yang diserahkan. Ada sinyal bahwa kita tidak datang sebagai ancaman, tetapi sebagai sesama. Tangan terbuka adalah tanda damai. Ia tidak menggenggam senjata, tidak menyembunyikan sesuatu. Ia jujur.

Bukankah sejak awal, tangan adalah simbol kuasa?

Dengan tangan, manusia bekerja, membangun, mencipta. Dengan tangan pula manusia bisa melukai. Tetapi ketika tangan itu dipertemukan dalam jabat yang tulus, kuasa itu berubah menjadi cinta. Kekuatan itu berubah menjadi kelembutan.
Di situlah keindahannya.
Jabat tangan bukan sekadar kebiasaan sosial. Ia adalah peristiwa batin. Ia meruntuhkan jarak yang tak terlihat, mencairkan kekakuan, dan membuka pintu percakapan yang lebih dalam.

Dan ketika ia disertai dengan senyum, dengan tatapan yang hangat, ia menjadi bahasa universal yang tak memerlukan terjemahan.

Sementara bersalaman bukan hanya pertemuan tangan, tetapi pertemuan doa.

Dalam setiap ucapan selamat, ada harapan yang disisipkan. Dalam setiap sentuhan, ada pesan damai yang disampaikan. Kita tidak hanya berkata “maaf lahir batin,” tetapi juga sedang berkata : hati kita bersama dalam ketulusan yang membahagiakan.

Kata “Islam” sendiri berakar dari makna damai, selamat, dan teratur. Sebuah keadaan di mana tidak ada ancaman, tidak ada ketakutan, tidak ada kegelisahan yang merusak.

Dan bersalaman adalah bentuk kecil dari makna besar itu.

Ia adalah praktik damai dalam bentuk paling sederhana.

Namun, terkadang maknanya bisa memudar jika kita tidak menjaganya.

Tangan bisa saja bertemu, tetapi hati tetap berjauhan. Jabat bisa terjadi, tetapi tanpa rasa. Salam bisa terucap, tetapi tanpa keikhlasan.

Di situlah kita perlu kembali bertanya. Apakah kita benar-benar hadir dalam setiap jabat tangan? Apakah kita sungguh ingin berdamai, atau hanya menjalankan kebiasaan?

Sebab yang membuat sebuah jabat tangan indah bukanlah gerakannya, tetapi niatnya.

Bukan pada seberapa erat kita menggenggam, tetapi pada seberapa tulus kita membuka.

Di hari-hari seperti Idulfitri, tangan-tangan itu kembali dipertemukan.

Yang lama tak bersua, kembali mendekat.
Yang sempat menjauh, kembali merapat.
Yang menyimpan luka, perlahan belajar melepas.

Di antara ribuan jabat tangan, ada yang ringan, ada yang berat, ada yang penuh haru. Tetapi semuanya membawa kemungkinan yang sama: untuk memulai kembali.

Untuk merangkul, bukan menjauh.
Untuk menyatukan, bukan memisahkan.

Berjabat tangan atau bersalaman—pada akhirnya bukan soal istilah.

Ia adalah tentang bagaimana kita memperlakukan sesama.

Apakah tangan kita menjadi jembatan, atau justru tembok?
Apakah ia membawa damai, atau hanya formalitas?

Karena di dunia yang sering gaduh oleh perbedaan, mungkin yang paling kita butuhkan bukanlah kata-kata yang panjang, tetapi tangan yang tulus.

Tangan yang berani mendekat.
Tangan yang siap memaafkan.
Tangan yang mengajak untuk berjalan bersama.

Dan ketika tangan-tangan itu saling bertemu dengan niat yang jernih,
maka di situlah damai menemukan bentuknya yang paling sederhana,
dan paling indah.
__________
Muliadi Saleh: “Menulis Makna, Membangun Peradaban”

Exit mobile version