Site icon KABARIKA

Dirgahayu IKA Unhas 2026: Dari Silaturahmi, Kita Menapak Jejak Pengabdian

Penulis: Muliadi Saleh
Alumni Universitas Hasanuddin

ADA yang tidak pernah benar-benar selesai di sebuah kampus.  Perjumpaan. Ia mungkin berakhir secara administratif saat toga dilepas dan ijazah digenggam, tetapi sesungguhnya ia justru mulai menemukan maknanya setelah itu. Di jalan hidup yang panjang, di medan pengabdian yang tak selalu mudah dibaca.

Pada 23 Maret 1963, di tanah Makassar yang menyimpan jejak pelayaran dan keberanian, lahir sebuah simpul batin bernama Ikatan Keluarga Alumni Universitas Hasanuddin (IKA UNHAS). Ia bukan sekadar organisasi, melainkan ikrar  bahwa mereka yang pernah ditempa oleh ilmu yang sama, tak akan berjalan sendiri-sendiri dalam nuansa yang terpisah.

Dari tangan-tangan awal yang merintis dengan kesadaran bahwa ilmu harus kembali ke masyarakat, IKA Unhas tumbuh sebagai ruang pertemuan yang melampaui ruang dan waktu. Di sana, silaturahmi tidak sekadar menjadi tradisi sosial, tetapi berubah menjadi energi yang menggerakkan. Ia menjadi jembatan antara kenangan dan tanggung jawab, antara masa lalu yang membentuk dan masa depan yang menuntut.

Waktu pun berlapis-lapis menguji. Generasi berganti, kepemimpinan beralih, zaman berubah arah. Namun, ikatan itu tetap menemukan jalannya. Dalam perjalanan panjangnya, nama Jusuf Kalla pernah menjadi penjaga ritme kebersamaan selama seperempat abad. Kepemimpinan bukan sekadar jabatan, melainkan ketekunan merawat api. Lalu estafet itu beralih kepada Andi Amran Sulaiman, yang menghadirkan semangat baru: memperluas jangkauan, memperdalam makna, dan menegaskan kembali arah pengabdian.

Kini, IKA Unhas bukan lagi sekadar simpul di Makassar. Ia telah menjelma menjadi jejaring yang mengalir ke berbagai penjuru. Dari kota-kota besar hingga wilayah terluar, bahkan melintasi batas negara. Setiap pertemuan alumni, setiap kegiatan sosial, setiap diskusi ilmiah, adalah cara lain untuk mengatakan bahwa kita masih terhubung, kita masih peduli.

Namun, yang paling penting bukanlah seberapa luas jaringan itu terbentang, melainkan seberapa dalam ia berakar. Sebab pada akhirnya, kekuatan IKA Unhas tidak terletak pada struktur organisasinya, melainkan pada kesediaan anggotanya untuk terus menapak—pelan, tekun, dan setia—di jalan pengabdian.

Silaturahmi, dalam pengertian ini, bukan sekadar berjabat tangan dan saling menyapa. Ia adalah kesediaan untuk hadir bagi sesama. Ia adalah keberanian untuk berbagi, untuk menguatkan, untuk menjadi bagian dari solusi di tengah masyarakat yang terus berubah.

Dan di hari ini, saat dirgahayu kembali mengetuk kesadaran, kita diingatkan bahwa menjadi alumni bukanlah status yang selesai, melainkan perjalanan yang terus diperbarui. Kita menapak, bukan untuk dikenang, tetapi untuk memberi makna. Kita berjalan, bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk mereka yang membutuhkan cahaya dari ilmu yang pernah kita pelajari.

IKA Unhas adalah rumah yang tidak pernah menua. Ia hidup dalam setiap langkah alumninya, dalam setiap niat baik yang ditanamkan, dalam setiap pengabdian yang dilahirkan.
Dari silaturahmi, kita berangkat.
Dan di jejak pengabdian, kita menemukan alasan untuk terus pulang. (*)

Exit mobile version