Site icon KABARIKA

Dunia di Tangan Para Penjaga Pangan, Di Mana Posisi Indonesia?

Oleh: Muliadi Saleh
Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran

Di sebuah meja makan sederhana, seorang ibu memecah roti untuk anaknya.
Di tempat lain, seorang petani memanen padi dengan kaki berlumpur.
Di sudut dunia yang berbeda, kapal-kapal gandum bergerak melintasi laut yang sedang tegang oleh perang, embargo, dan perebutan pengaruh geopolitik.

Pangan bukan hal sederhana.
Di balik sebutir beras, sepotong roti, atau semangkuk jagung rebus, tersimpan jaringan kekuasaan global yang begitu rumit dan rapuh.

Dunia modern dibangun di atas ketergantungan pangan yang sangat terkonsentrasi.
Hanya beberapa negara yang menjadi “penyangga perut” miliaran manusia. Ketika satu kawasan terguncang perang, kekeringan, atau konflik politik, seluruh dunia ikut merasakan getarnya.

Perang Rusia-Ukraina beberapa tahun terakhir,  membuka mata dunia tentang satu kenyataan bahwa pangan bukan sekadar komoditas ekonomi, tetapi urat nadi peradaban.

Gandum yang tertahan di Laut Hitam bukan hanya persoalan ekspor. Ia menjelma menjadi antrean roti di Timur Tengah, kenaikan harga tepung di Afrika, dan kecemasan rumah tangga di Asia.

Di titik inilah manusia modern mulai sadar bahwa globalisasi ternyata tidak hanya menyatukan pasar, tetapi juga menyatukan kerentanan.

Kita hidup di zaman ketika cuaca di Brazil dapat memengaruhi harga ayam di Jakarta.
Kebijakan ekspor beras India bisa membuat kepanikan di pasar Asia Tenggara.
Kekeringan di Australia dapat mengguncang cadangan pangan dunia.

Peradaban hari ini tampak maju dengan kecerdasan buatan, satelit, dan revolusi digital. Namun ironisnya, stabilitas dunia masih sangat ditentukan oleh tanah, hujan, benih, dan tangan petani.

Di tengah gegap gempita teknologi, manusia tetap tidak bisa makan algoritma.

Amerika Serikat masih menjadi raksasa jagung dan kedelai dunia. Brazil tumbuh sebagai kekuatan besar pangan global. Rusia dan Ukraina menjadi penopang gandum internasional. India memegang denyut perdagangan beras dunia.

Negara-negara itu bukan hanya sedang menanam pangan. Mereka sedang memegang pengaruh strategis terhadap stabilitas global.

Kini pangan telah berubah menjadi bahasa baru kekuasaan.

Dahulu dunia bertarung memperebutkan emas dan minyak. Hari ini, dunia perlahan mulai menyadari bahwa pangan mungkin jauh lebih menentukan masa depan manusia.

Sebab minyak dapat diganti energi lain.
Tetapi manusia tidak dapat hidup tanpa makan.

Lalu di mana posisi Indonesia?

Pertanyaan itu penting dijawab dengan optimisme dan kebanggaan berbasis
kesadaran geopolitik dan peradaban.

Indonesia mungkin bukan eksportir gandum terbesar dunia. Kita juga bukan penguasa pasar kedelai global. Namun Indonesia memiliki sesuatu yang sangat menentukan: populasi besar, biodiversitas luar biasa, tanah tropis yang subur, serta posisi strategis sebagai salah satu pusat pangan Asia.

Indonesia adalah salah satu konsumen beras terbesar dunia. Apa yang terjadi di sawah-sawah Nusantara bukan hanya urusan domestik, tetapi ikut menentukan stabilitas pangan kawasan.

Ketika produksi beras Indonesia terganggu, pasar regional ikut bergejolak. Ketika Indonesia meningkatkan impor, pasar global bergerak. Sebaliknya, ketika Indonesia mampu menjaga produksi dan stok nasional, tekanan pasar Asia dapat mereda.

Artinya, Indonesia bukan sekadar penonton dalam geopolitik pangan dunia. Indonesia adalah salah satu simpul penting stabilitas pangan regional.

Lebih dari itu, Indonesia memiliki potensi jauh lebih besar daripada yang selama ini dibayangkan.

Kita memiliki hamparan laut yang kaya, sumber pangan lokal yang beragam, kawasan tropis yang memungkinkan panen lebih dari sekali setahun, serta jutaan petani yang diam-diam menjaga denyut kehidupan bangsa.

Jagung, sagu, kelapa, kakao, kopi, rempah-rempah, perikanan, hingga kekayaan pangan lokal Nusantara sesungguhnya adalah modal besar untuk menjadi kekuatan pangan dunia.

Namun ironisnya, bangsa ini terkadang lebih bangga menjadi pasar daripada menjadi lumbung.

Pertanian Indonesia tidak boleh  dipandang sebagai sektor pinggiran. Sebab dari sanalah  fondasi kedaulatan bangsa dibangun.

Masa depan mungkin tidak lagi ditentukan hanya oleh negara yang memiliki teknologi tercanggih, tetapi oleh negara yang mampu menjaga air, tanah, benih, dan petaninya.

Pencapaian swasembada pangan saat ini memang bukan hanya prestasi yang membanggakan. Ia juga  menyangkut keberlanjutan lingkungan, keberpihakan pada petani, inovasi pertanian, distribusi yang adil, hingga kesadaran kolektif menjaga alam.

Krisis pangan global sesungguhnya memberi peluang besar bagi Indonesia untuk bangkit sebagai kekuatan agraris-maritim baru.

Dunia membutuhkan sumber pangan alternatif. Dunia membutuhkan stabilitas. Dunia membutuhkan negara-negara yang mampu menjaga keseimbangan produksi di tengah perubahan iklim.

Dan Indonesia memiliki semua prasyarat itu.

Tetapi potensi tanpa kesadaran hanya akan menjadi angka statistik.

Karena itu, membangun pangan sesungguhnya adalah membangun martabat bangsa.

Di balik seluruh kecemasan global itu, sesungguhnya ada pelajaran spiritual yang sangat mendalam.

Bahwa manusia ternyata tetap makhluk yang bergantung pada alam.

Setinggi apa pun teknologi berkembang, manusia tetap membutuhkan hujan yang turun dengan tepat, tanah yang subur, dan musim yang bersahabat.

Kita bisa menciptakan robot, tetapi belum mampu menciptakan sebutir padi dari kehampaan.

Karena itu, krisis pangan sejatinya bukan hanya krisis produksi. Ia adalah krisis kesadaran.

Krisis ketika manusia terlalu lama memandang alam sebagai objek eksploitasi, bukan mitra kehidupan.

Padahal tanah bukan sekadar hamparan ekonomi.
Ia adalah rahim peradaban.

Petani bukan sekadar profesi pinggiran.
Mereka sesungguhnya penjaga sunyi keberlangsungan dunia.

Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin rapuh, masa depan peradaban justru akan ditentukan oleh bangsa-bangsa yang mampu menjaga pangan, menjaga petani, dan menjaga hubungan sakral antara manusia dengan bumi.

Indonesia memiliki kesempatan menjadi bagian dari itu.

Bukan hanya untuk memberi makan rakyatnya sendiri, tetapi juga untuk ikut menjaga keseimbangan pangan global dan memberi harapan bagi dunia yang semakin rentan.

Sebab pada akhirnya, sejarah dunia tidak hanya ditulis oleh para penguasa dan pemilik modal, tetapi juga oleh tangan-tangan petani yang diam-diam memberi makan bumi.(*)

Muliadi Saleh: Menulis Makna, Membangun Peradaban

Exit mobile version