Oleh: Muliadi Saleh
Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran
“Simbol boleh berbeda, tapi nilai dapat bertemu. Bentuk boleh beragam, tapi ruhnya bisa sejalan”
Indonesia adalah taman besar kebudayaan. Di dalamnya tumbuh beragam tradisi dengan bentuk yang berbeda, tetapi berakar pada nilai yang sama: syukur, kebersamaan, dan penghormatan kepada kehidupan. Tetapi terkadang masih ada yang melihat perbedaan pada sebatas permukaan dan kulit luar. Lupa menyelami makna yang hidup di dalamnya.
Di Papua, masyarakat adat mengenal tradisi Barapen atau Bakar Batu, yang oleh sebagian orang lebih dikenal sebagai pesta babi. Sementara di banyak daerah Nusantara, masyarakat merayakan pesta panen dengan nama yang berbeda-beda: Seren Taun di tanah Sunda, Gawai Dayak di Kalimantan, Mapag Sri di Jawa, Mappadendang, mappadekko. dan Maudu Lompoa di Sulawesi Selatan, dan berbagai tradisi lainnya.
Sekilas keduanya tampak berbeda. Yang satu menghadirkan babi sebagai simbol utama ritual adat, sementara yang lain berpusat pada hasil panen dan anugerah pertanian. Namun jika kita menyingkap lapisan simboliknya, keduanya sesungguhnya bertemu pada ruang makna yang sama.
Hakekat Barapen bukanlah soal babi semata. Sebagaimana hakekat pesta panen bukanlah sekadar padi, jagung, atau umbi-umbian. Keduanya adalah bahasa budaya untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Sang Pencipta. Keduanya merupakan cara manusia merayakan hubungan harmonis dengan alam yang telah memberi kehidupan.
Dalam tradisi Papua, babi memiliki nilai sosial, ekonomi, dan spiritual yang tinggi. Ia menjadi simbol pengorbanan, penghormatan, dan persaudaraan. Ketika masyarakat berkumpul, memasak bersama dengan batu panas, lalu makan dalam satu lingkaran kebersamaan, yang sedang dirayakan bukan sekadar daging yang tersaji, melainkan perdamaian yang dipulihkan, persaudaraan yang diteguhkan, dan solidaritas yang diperbarui.
Bukankah pesan yang sama juga hidup dalam pesta panen di berbagai daerah? Setelah musim tanam yang panjang, masyarakat berkumpul untuk mengucap syukur. Mereka berbagi hasil bumi, menampilkan kesenian, memperkuat ikatan sosial, dan mewariskan nilai-nilai leluhur kepada generasi muda. Yang dirayakan bukan hanya hasil panen, tetapi keberlangsungan kehidupan itu sendiri.
Di titik inilah kita menemukan sebuah pelajaran penting. Kebudayaan tidak selalu harus seragam untuk memiliki makna yang sama. Simbol boleh berbeda, tetapi nilai dapat bertemu. Bentuk boleh beragam, tetapi ruhnya bisa sejalan.
Karena itu, pesta babi dan pesta panen layak dipahami dalam konteks kearifan lokal masing-masing. Yang satu tidak mengurangi yang lain. Justru keduanya memperkaya mozaik kebudayaan Indonesia. Mereka bersanding, bukan bertanding.
Di tengah adanya kecenderungan menyeragamkan segala sesuatu, tradisi-tradisi lokal mengingatkan kita bahwa kemanusiaan tumbuh melalui keberagaman. Indonesia tidak menjadi kuat karena semua daerah memiliki budaya yang sama, melainkan karena setiap daerah menghadirkan warna yang berbeda dalam satu kanvas kebangsaan.
Barapen mengajarkan syukur melalui simbol yang hidup dalam kosmologi masyarakat Papua. Pesta panen mengajarkan syukur melalui hasil bumi yang dipelihara dengan kerja keras. Keduanya adalah nyanyian yang berbeda nada, tetapi berpadu dalam satu harmoni: rasa terima kasih kepada Tuhan, penghormatan kepada alam, dan cinta kepada sesama manusia.
Pada akhirnya, peradaban tidak dibangun dengan mempertentangkan simbol-simbol budaya, melainkan dengan menemukan makna universal yang tersembunyi di baliknya. Ketika kita mampu melihat makna itu, kita tidak lagi sibuk mencari perbedaan, melainkan belajar merayakan kebijaksanaan yang diwariskan oleh para leluhur Nusantara.
Di sana, pada tungku Barapen yang mengepul di pegunungan Papua dan pada lumbung-lumbung panen yang penuh di berbagai pelosok negeri, kita menemukan pesan yang sama: manusia akan tetap utuh selama ia mampu bersyukur, berbagi, dan hidup selaras dengan alam serta sesamanya.
__________
Muliadi Saleh: Menulis Makna, Membangun Peradaban.

