Oleh: Muliadi Saleh, Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran
Muharram datang membawa kita ke ruang-ruang reflektif untuk muhasabah. Tahun Baru Islam adalah momentum untuk menoleh ke belakang, membaca jejak perjalanan, sekaligus menata langkah menuju masa depan. Dalam tradisi Islam, Muharram mengajarkan makna hijrah: keberanian meninggalkan yang kurang baik menuju keadaan yang lebih baik.
Di negeri agraris seperti Indonesia, refleksi Muharram menemukan maknanya yang paling nyata di hamparan sawah, kebun, ladang, dan laut yang menjadi sumber kehidupan jutaan rakyat. Sebab di sanalah sesungguhnya denyut peradaban bekerja. Pangan bukan sekadar kebutuhan biologis untuk mengenyangkan perut, melainkan fondasi utama yang menentukan kemandirian, stabilitas, dan martabat sebuah bangsa.
Setiap butir padi yang tumbuh menyimpan kisah panjang tentang kerja keras petani, kesabaran menghadapi musim, ketekunan merawat tanah, serta harapan akan kehidupan yang lebih baik.
Di balik sebutir beras terdapat ekosistem besar yang menghubungkan manusia, alam, ilmu pengetahuan, teknologi, kebijakan publik, dan nilai-nilai kemanusiaan. Karena itu, pangan sejatinya adalah tentang masa depan bangsa.
Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia mencatat berbagai capaian yang patut diapresiasi. Produksi sejumlah komoditas strategis menunjukkan peningkatan. Infrastruktur pertanian terus diperkuat. Pemanfaatan teknologi, mekanisasi, benih unggul, hingga digitalisasi sektor pertanian mulai berkembang. Kesadaran tentang pentingnya ketahanan dan kedaulatan pangan juga semakin menguat di tengah berbagai ketidakpastian global.
Dunia hari ini menghadapi tantangan yang tidak ringan. Perubahan iklim mengganggu pola tanam. Konflik geopolitik memengaruhi rantai pasok pangan dunia. Pertumbuhan penduduk meningkatkan kebutuhan pangan secara signifikan. Dalam situasi seperti itu, kemampuan bangsa menjaga ketersediaan pangan menjadi ukuran penting ketahanan nasional.
Namun Muharram bukan hanya bulan syukur. Ia juga bulan muhasabah. Sebagaimana seorang musafir yang berhenti sejenak untuk memeriksa arah perjalanan, bangsa ini pun perlu menilai apa yang masih harus diperbaiki.
Kesejahteraan petani masih menjadi pekerjaan rumah. Alih fungsi lahan produktif terus berlangsung. Regenerasi petani berjalan lebih lambat dibanding kebutuhan sektor pertanian masa depan. Ketimpangan akses terhadap teknologi dan permodalan masih terjadi. Sementara ancaman perubahan iklim semakin nyata di depan mata.
Di sinilah spirit hijrah menemukan relevansinya. Hijrah dalam konteks pembangunan pangan bukan sekadar perubahan kebijakan, melainkan perubahan cara pandang. Dari memandang pangan sebagai komoditas semata menjadi fondasi peradaban. Dari orientasi jangka pendek menuju visi lintas generasi. Dari ketergantungan menuju kemandirian. Dari eksploitasi alam menuju keberlanjutan.
Sawah sesungguhnya adalah ruang belajar yang kaya makna. Petani memahami bahwa panen tidak pernah lahir dari tergesa-gesa. Benih membutuhkan waktu. Tanah membutuhkan perawatan. Air memerlukan pengelolaan. Kesabaran menjadi bagian dari proses. Nilai-nilai inilah yang sering hilang dalam kehidupan modern yang serba cepat.
Para arif bijaksana mengingatkan bahwa manusia memanen apa yang ditanam, bukan hanya di ladang tetapi juga di dalam hati. Jika yang ditanam adalah keserakahan, maka kerusakan yang tumbuh. Jika yang ditanam adalah amanah dan tanggung jawab, maka keberkahan yang dipanen. Dalam perspektif ini, ketahanan pangan bukan hanya soal produksi, melainkan juga soal etika, keadilan, dan kesadaran kolektif.
Muharram mengajarkan bahwa setiap awal adalah kesempatan untuk memperbaiki arah. Tahun Baru Islam menjadi pengingat bahwa pembangunan pangan tidak cukup hanya mengejar angka-angka produksi. Yang lebih penting adalah memastikan petani hidup bermartabat, tanah tetap lestari, generasi muda tertarik kembali ke sektor pertanian, dan seluruh rakyat memperoleh akses terhadap pangan yang sehat, aman, dan terjangkau.
Pada akhirnya, masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh gedung-gedung tinggi, teknologi canggih, atau pertumbuhan ekonomi yang mengesankan. Masa depan bangsa juga ditentukan oleh kemampuan menjaga sawah tetap produktif, melindungi petani tetap sejahtera, serta memastikan pangan tersedia bagi setiap anak negeri.
Ketika Muharram tiba, hamparan sawah seakan mengajarkan satu pelajaran penting, bahwa peradaban yang besar selalu tumbuh dari kemampuan menghargai sumber kehidupan. Sebagaimana benih yang tumbuh perlahan sebelum menjadi padi yang menguning, demikian pula bangsa yang kuat dibangun melalui kerja panjang, kesabaran, ilmu pengetahuan, dan kesadaran bersama.
Mungkin itulah pesan terdalam Muharram bagi kita semua. Bahwa hijrah terbesar bangsa ini adalah bergerak dari sekadar mencukupi kebutuhan hari ini menuju membangun kedaulatan pangan untuk generasi yang akan datang. Sebab di balik hamparan sawah, sesungguhnya tersimpan harapan tentang Indonesia yang berdaulat, berkeadilan, dan berperadaban. (*)
__________
Muliadi Saleh: “Menulis Makna, Membangun Peradaban.”

