Oleh Muliadi Saleh, Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran
Jika para leluhur Bugis, Makassar, Toraja, dan Mandar dahulu menciptakan berbagai ritual pertanian sebagai bentuk dialog dengan alam, maka generasi hari ini menghadapi kenyataan yang jauh lebih rumit. Pertanian tidak lagi hanya berhadapan dengan persoalan musim, tetapi juga dengan perubahan iklim global, penyusutan lahan, degradasi lingkungan, krisis regenerasi petani, hingga ketidakpastian pasar yang terus berubah.
Di tengah kecemasan dunia terhadap krisis pangan, perubahan iklim, dan menurunnya jumlah petani, Sulawesi Selatan sesungguhnya menyimpan sebuah pelajaran berharga. Pelajaran itu tidak lahir dari laboratorium modern atau ruang-ruang konferensi internasional, melainkan dari sawah, ladang, dan tradisi yang telah hidup berabad-abad dalam denyut kehidupan masyarakat Bugis, Makassar, Toraja, dan Mandar.
Hari ini, sektor pertanian menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Perubahan iklim membuat musim sulit diprediksi. Kekeringan panjang datang silih berganti dengan banjir yang merusak tanaman. Hama dan penyakit berkembang lebih cepat. Lahan pertanian terus menyusut akibat alih fungsi menjadi kawasan permukiman dan industri. Di saat yang sama, sebagian besar petani memasuki usia senja, sementara minat generasi muda untuk bertani semakin berkurang.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, banyak orang mencari solusi pada teknologi semata. Padahal, ada kekuatan lain yang sering luput dari perhatian: kearifan lokal.
Sulawesi Selatan memiliki tradisi agraris yang sangat kaya. Dalam tradisi Mappalili, masyarakat mengawali musim tanam dengan ritual yang sarat makna, sebagai bentuk penghormatan kepada alam sekaligus ikhtiar kolektif menghadapi musim yang akan datang. Dalam Maddoja Bine, benih padi dijaga sepanjang malam sambil melantunkan kisah-kisah kebijaksanaan dari Sureq La Galigo. Melalui Mappadendang, panen raya dirayakan dalam irama lesung yang menghadirkan rasa syukur dan kebersamaan.
Ada pula Manre Sipulung yang mempererat solidaritas sosial, Akkudu-kudu sebagai ungkapan syukur atas hasil panen, A’pare-pare yang mengajarkan agar tidak ada rezeki yang terbuang, hingga sistem tumpang sari yang menjaga keseimbangan ekologi dan kesuburan tanah.
Bagi sebagian orang, tradisi-tradisi tersebut mungkin tampak sebagai warisan budaya yang hanya layak dikenang. Namun sesungguhnya, di dalamnya tersimpan pengetahuan sosial, ekologis, dan spiritual yang sangat relevan untuk menjawab tantangan pertanian masa kini.
Modernisasi pertanian sering kali gagal bukan karena teknologinya buruk, tetapi karena pendekatannya mengabaikan budaya masyarakat. Inovasi yang datang tanpa memahami cara berpikir petani sering berakhir sebagai program yang tidak berumur panjang. Sebaliknya, ketika teknologi berjalan bersama nilai-nilai lokal, proses adopsi menjadi lebih cepat dan berkelanjutan.
Ritual seperti Mappalili dapat menjadi ruang strategis untuk memperkenalkan kalender tanam digital, varietas unggul tahan iklim, atau teknologi prediksi cuaca. Forum Mappadendang dan Manre Sipulung dapat menjadi media evaluasi bersama sekaligus sarana memperkenalkan inovasi pascapanen yang mengurangi kehilangan hasil produksi.
Dalam budaya Bugis dikenal nilai Siri’ na Pesse, sedangkan masyarakat Makassar mengenal Pacce. Nilai-nilai ini menempatkan solidaritas, tanggung jawab moral, dan penghormatan terhadap sesama sebagai fondasi kehidupan bersama. Ketika penyuluh pertanian memahami nilai tersebut, hubungan yang terbangun bukan lagi hubungan instruktif antara pemberi dan penerima informasi, melainkan kemitraan yang didasarkan pada kepercayaan.
Kepercayaan adalah pupuk sosial yang membuat inovasi tumbuh subur.
Budaya gotong royong yang kuat juga mempercepat transfer pengetahuan. Teknologi baru tidak diperkenalkan kepada individu secara terpisah, melainkan melalui kelompok tani yang bekerja dan belajar bersama. Dengan demikian, proses pembelajaran menjadi lebih cepat, murah, dan efektif.
Lebih menarik lagi, masyarakat Sulawesi Selatan telah lama mengenal pengetahuan membaca tanda-tanda alam melalui Palontara. Pengetahuan ini dapat dipadukan dengan data klimatologi modern, sensor cuaca, dan teknologi smart farming. Ketika kearifan leluhur bertemu sains modern, lahirlah model pertanian yang tidak hanya canggih, tetapi juga kontekstual dan membumi.
Kearifan lokal juga memberi pelajaran penting tentang keberlanjutan. Sistem tumpang sari yang diwariskan turun-temurun merupakan bentuk pertanian ramah lingkungan yang mampu menjaga kesuburan tanah dan mencegah kerusakan ekosistem. Apa yang kini disebut pembangunan berkelanjutan sejatinya telah lama dipraktikkan oleh para petani dalam bahasa kehidupan sehari-hari.
Di sisi lain, keberagaman komoditas lokal yang berkembang di Sulawesi Selatan menjadi modal penting dalam memperkuat ketahanan pangan. Ketergantungan pada satu jenis pangan selalu menyimpan risiko. Karena itu, pengembangan jagung, umbi-umbian, kopi, dan berbagai komoditas lokal lainnya perlu terus didorong melalui inovasi pengolahan yang memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.
Pada akhirnya, masa depan pertanian tidak dapat dibangun hanya dengan mesin yang lebih modern, benih yang lebih unggul, atau aplikasi yang lebih canggih. Pertanian membutuhkan sesuatu yang lebih mendasar: kebijaksanaan.
Kebijaksanaan untuk memahami bahwa alam bukan sekadar objek produksi, melainkan mitra kehidupan. Kebijaksanaan untuk menyadari bahwa teknologi terbaik adalah teknologi yang menghormati budaya masyarakat. Kebijaksanaan untuk melihat bahwa ketahanan pangan tidak hanya dibangun di atas produktivitas, tetapi juga di atas solidaritas sosial dan keberlanjutan ekologis.
Sulawesi Selatan telah menunjukkan bahwa tradisi dan inovasi bukanlah dua kutub yang saling bertentangan. Keduanya dapat berjalan beriringan, saling menguatkan, dan bersama-sama menjawab tantangan zaman.
Sebab sesungguhnya, masa depan pertanian Indonesia tidak hanya ditentukan oleh apa yang kita ciptakan hari ini, tetapi juga oleh seberapa bijak kita merawat warisan pengetahuan yang telah ditanamkan para leluhur sejak lama.
Dari sawah-sawah yang menghampar, dari lesung yang berdentang dalam Mappadendang, dari doa-doa petani yang mengiringi musim tanam, kita belajar satu hal: peradaban yang besar selalu tumbuh dari kemampuan menghormati akar sambil menatap masa depan.
Muliadi Saleh: Menulis Makna, Membangun Peradaban.

