Oleh Ir. Amril Taufik Gobel, ST,IPU.,ASEAN Eng.
Ketua Bidang Komunikasi dan Informatika IKA Teknik Unhas / Blogger (daengbattala.com)
“Sedikit pemikiran dan sedikit kebaikan sering kali lebih berharga daripada banyak uang.” Kalimat John Ruskin itu terasa pas untuk membuka peringatan Hari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Sedunia yang jatuh pada 27 Juni 2026.
Sebab di balik setiap gerobak bakso yang berkeliling kampung, setiap penjahit yang menyalakan lampu sebelum subuh, dan setiap petani yang menebar benih sebelum matahari terbit, tersimpan ketekunan kecil yang dikerjakan setiap hari tanpa sorotan kamera.
Dari ketekunan kecil itulah ekonomi sebuah bangsa sesungguhnya berdiri tegak.
Tanggal 27 Juni bukan sekadar penanda kalender. Sejarahnya bermula pada 6 April 2017, ketika Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapkan hari ini melalui Resolusi A/RES/71/279 untuk mengakui kontribusi luar biasa usaha mikro, kecil, dan menengah terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.
Usulan itu datang dari Argentina, didukung oleh International Council for Small Business serta disponsori 54 negara anggota yang mewakili lima miliar penduduk dunia. Pengakuan itu lahir dari kenyataan yang sulit dibantah: secara global, UMKM mencakup sekitar 90 persen seluruh bisnis dan menyediakan lebih dari 70 persen lapangan kerja dunia.
Tahun ini, dunia mengangkat tema generasi masa depan UMKM dengan semangat kewirausahaan yang berpusat pada manusia, sebuah jawaban atas derasnya gelombang kecerdasan buatan dan otomatisasi yang mulai merombak wajah bisnis global.
Bagi Indonesia, peringatan ini menyentuh urat nadi yang paling dalam. Sektor UMKM menyumbang sekitar 61 persen Produk Domestik Bruto, setara dengan Rp9.580 triliun, dan menyerap hampir 97 persen tenaga kerja nasional.
Jumlah pelaku usahanya menembus 65,5 juta unit yang menampung lebih dari 119 juta pekerja. Jika Anda berhenti sejenak dan menghitung, hampir setiap keluarga di negeri ini bersinggungan dengan UMKM, entah sebagai pemilik, pekerja, pemasok, atau pembeli.
Inilah ekonomi yang wajahnya bukan grafik di layar bursa, melainkan wajah ibu yang menumbuk bumbu, anak muda yang mengemas kopi, dan nenek yang menenun kain di teras rumah.
Namun mari kita jujur. Memasuki tahun 2026, jalan yang ditempuh para pejuang kecil ini sedang menanjak terjal. Tekanan ekonomi global berupa perlambatan dan ketegangan geopolitik membuat permintaan dunia melemah, sementara di dalam negeri daya beli rumah tangga belum sepenuhnya pulih.
Konsumen menjadi jauh lebih berhati-hati membelanjakan uangnya, dan karena mayoritas pembeli UMKM adalah rumah tangga, daya beli yang rendah langsung menekan omzet, terutama di sektor kuliner dan ritel sehari-hari. Di saat pasar lesu, biaya operasional justru naik. Harga bahan baku, ongkos logistik, dan energi terus merangkak, dipersulit oleh ketidakpastian regulasi yang menggerus kepercayaan berusaha.
Pukulan ini bukan teori. Ia terasa nyata setiap kali seorang pedagang kecil menghitung ulang berapa banyak dagangan yang harus ia kurangi agar dapurnya tetap mengepul.
Tantangan kedua datang dari ruang pembiayaan. Meski negara menggelontorkan likuiditas besar, ironi tetap terjadi. Berdasarkan catatan Otoritas Jasa Keuangan, sepanjang akhir 2025 kredit UMKM justru mengalami kontraksi sekitar 0,64 persen secara tahunan, berbanding terbalik dengan kredit korporasi yang tumbuh dua digit.
Banyak usaha kecil yang belum tersentuh bank karena terganjal syarat administratif, agunan, dan rekam jejak usaha. Sebagian memilih bersikap konservatif terhadap utang baru, sebab mereka paham persoalan utamanya bukan kekurangan modal, melainkan pasar yang sedang sepi. Menambah pinjaman di tengah pasar lesu sama saja menumpuk beban tanpa jaminan pemasukan.
Tantangan ketiga adalah jurang digital. Di era ketika kecerdasan buatan menjadi standar baru dunia usaha, masih sekitar 44 persen pelaku UMKM yang belum memahami cara memanfaatkan iklan digital.
Tanpa pendampingan yang berpihak, gelombang teknologi yang seharusnya menjadi tangga justru berisiko menjadi tembok yang memperlebar ketimpangan ekonomi.
Belum lagi tuntutan konsumen global yang kian peduli pada produk ramah lingkungan, persaingan harga yang sengit di lokapasar, serta mahalnya biaya distribusi antarpulau yang menggerus margin tipis para pelaku usaha.
Lalu, di mana harapannya?
Justru di sinilah letak keindahan kisah UMKM Indonesia. Sejarah berulang kali membuktikan bahwa di setiap krisis, sektor inilah yang menjadi bantalan paling lentur dan paling cepat pulih dibanding korporasi besar yang kaku.
Maka solusi yang paling mendesak adalah menyalakan kembali daya beli masyarakat. Kebijakan ekonomi perlu diarahkan pada stabilisasi harga pangan, penciptaan lapangan kerja berkualitas, dan ketepatan sasaran perlindungan sosial. Selama dapur rumah tangga mampu berbelanja, selama itu pula warung dan kios akan tetap hidup.
Di sisi pembiayaan, negara sudah membuka pintu lebih lebar. Pada 2026, Kredit Usaha Rakyat diarahkan semakin fleksibel dengan target plafon hingga Rp295 triliun, suku bunga 6 persen per tahun, dan porsi lebih besar untuk sektor produksi.
Tugas kita bersama adalah memastikan dana ini benar-benar mengalir kepada yang non-bankable, bukan berputar di kalangan yang sudah mapan. Skema penilaian kredit berbasis rekam jejak digital perlu diperluas agar penjahit, pedagang sayur, dan pengrajin tanpa agunan fisik tetap memperoleh akses modal.
Pendampingan yang sabar sering kali lebih berharga daripada suntikan dana yang besar namun ditinggal tanpa bimbingan.
Digitalisasi tetap menjadi jalan strategis, asalkan dilakukan secara inklusif dan manusiawi. Kabar baiknya, sekitar 25 juta UMKM telah masuk ke ekosistem digital, dengan transaksi QRIS tumbuh hampir 140 persen pada akhir 2025.
Pelatihan, perluasan infrastruktur, dan akses teknologi harus terus diperluas, dengan menggandeng perguruan tinggi, pemerintah daerah, sektor swasta, dan komunitas.
Optimalisasi program berskala besar seperti Makan Bergizi Gratis yang mampu menyerap hingga 90 persen produk UMKM lokal juga membuktikan bahwa belanja negara bisa menjadi pasar yang nyata bagi rakyat kecil.
Kisah keberpihakan perbankan turut menambah harapan, sebagaimana BNI yang merajut rantai pemberdayaan dari sawah hingga pasar dunia, membuktikan bahwa modal, pelatihan, dan akses pasar bisa berjalan seiring.
Pada akhirnya, tema dunia tahun ini menegaskan satu kebenaran yang sederhana namun sering terlupakan: teknologi tercanggih sekalipun tidak akan berarti tanpa manusia di dalamnya.
UMKM bukan sekadar angka kontribusi terhadap PDB. Ia adalah martabat seorang ibu yang menyekolahkan anaknya dari hasil berjualan kue, harga diri seorang pemuda desa yang menolak menyerah pada keadaan, dan harapan jutaan keluarga yang menggerakkan ekonomi negeri ini dengan tangan mereka sendiri. Merawat UMKM berarti merawat kemanusiaan kita.
Maka pada 27 Juni ini, mari kita tutup dengan kata-kata yang dinisbatkan kepada Margaret Mead: jangan pernah ragu bahwa sekelompok kecil orang yang berpikir dan bekerja sungguh-sungguh dapat mengubah dunia, karena sesungguhnya hanya itulah yang pernah terjadi.
Para pelaku UMKM adalah sekelompok kecil orang itu, yang jumlahnya puluhan juta, yang setiap hari diam-diam mengubah nasib bangsanya.
Selamat Hari UMKM Sedunia. Teruslah menyala.

