Oleh: Muliadi Saleh
Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran
Selama puluhan tahun, Indonesia bangga menyebut dirinya sebagai negara agraris. Kalimat itu begitu akrab di ruang-ruang kelas, pidato kenegaraan, hingga percakapan sehari-hari. Namun, di tengah perubahan geopolitik global, kebanggaan semata tidak lagi cukup. Dunia tidak lagi mengukur sebuah bangsa dari luas sawah yang dimilikinya, tetapi dari kemampuan mengubah kekayaan alam menjadi kekuatan strategis.
Sudah saatnya Indonesia melangkah lebih jauh. Bukan sekadar menjadi negara agraris, tetapi menjadi superpower pangan.
Di tengah ancaman krisis pangan dunia akibat perubahan iklim, konflik geopolitik, dan terganggunya rantai pasok global, pangan telah menjadi instrumen kekuatan baru. Negara yang mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri, bahkan menjadi pemasok bagi dunia, akan memiliki daya tawar politik, ekonomi, dan diplomasi yang jauh lebih kuat daripada negara yang bergantung pada impor.
Dalam Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri (KSTI) Indonesia 2026, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan gagasan yang layak menjadi agenda nasional. Ia mengajak perguruan tinggi, ilmuwan, dan lembaga riset membangun kolaborasi yang lebih kuat agar inovasi tidak berhenti di laboratorium, melainkan hadir di sawah, kebun, kandang, dan kehidupan para petani.
Ajakan itu bukan retorika. Ia berpijak pada bukti nyata. Benih padi hasil riset IPB telah mampu meningkatkan produktivitas dari sekitar 5,5 ton per hektare menjadi 9 ton, bahkan mencapai 13,9 ton per hektare. Di sektor peternakan, inovasi Universitas Gadjah Mada berhasil meningkatkan bobot sapi hingga mendekati satu ton. Teknologi telah membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah takdir.
Kolaborasi Kementerian Pertanian dengan berbagai perguruan tinggi juga telah melahirkan inovasi yang menjanjikan. IPB mengembangkan benih unggul, ITS menghadirkan traktor dan alat panjat kelapa, Universitas Hasanuddin menghasilkan inovasi ayam dan jagung, Universitas Andalas mengembangkan gambir, Universitas Lampung memperkuat teknologi ubi, sementara ITB menghadirkan mesin pengering (dryer) untuk meningkatkan kualitas pascapanen. Semua inovasi itu harus terus dihilirkan agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh petani.
Di sinilah letak tantangan besar dunia akademik. Kampus tidak cukup menjadi pusat produksi pengetahuan, tetapi harus menjadi pusat produksi solusi. Penelitian tidak boleh berhenti sebagai jurnal ilmiah yang hanya dibaca kalangan terbatas. Riset harus menjelma menjadi teknologi yang meningkatkan hasil panen, menekan biaya produksi, memperkuat ketahanan pangan, dan menaikkan kesejahteraan petani.
Ukuran keberhasilan ilmu pengetahuan bukan hanya jumlah publikasi, melainkan sejauh mana ilmu itu mampu mengubah kehidupan masyarakat. Ketika inovasi hadir di tengah petani, saat itulah ilmu menemukan makna terdalamnya.
Komitmen tersebut diperkuat oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto, yang menyatakan kesiapan menginventarisasi berbagai hasil penelitian yang siap dihilirkan, mulai dari alat pertanian modern, elektronika, hingga precision agriculture. Ini adalah sinyal bahwa negara mulai membangun jembatan yang selama ini sering terputus antara laboratorium, industri, dan lapangan.
Arah itu sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto yang menegaskan bahwa perguruan tinggi harus menjadi motor kebangkitan bangsa. Pertanyaan beliau, “Mengapa kita belum mampu menghasilkan benih gandum sendiri?”, bukan sekadar kritik, tetapi tantangan bagi seluruh ilmuwan Indonesia agar berani melahirkan terobosan. Bangsa besar adalah bangsa yang tidak takut memecahkan persoalannya sendiri melalui ilmu pengetahuan.
Indonesia sesungguhnya memiliki seluruh prasyarat menjadi kekuatan pangan dunia. Tanah yang subur, iklim tropis yang memungkinkan panen sepanjang tahun, kekayaan biodiversitas, sumber daya manusia yang melimpah, ratusan perguruan tinggi, ribuan peneliti, serta jutaan petani yang selama ini menjaga denyut kehidupan bangsa. Semua modal itu hanya memerlukan satu hal: kolaborasi yang terintegrasi dan berorientasi pada hasil.
Kampus harus lebih dekat dengan desa. Peneliti harus lebih akrab dengan lumpur sawah daripada sekadar ruang seminar. Dunia industri harus menjadi penghubung antara inovasi dan pasar. Pemerintah harus memastikan setiap hasil riset memiliki jalan menuju implementasi. Ketika seluruh ekosistem itu bekerja dalam irama yang sama, Indonesia tidak hanya akan mencapai swasembada pangan, tetapi juga menjadi pemain utama dalam percaturan pangan dunia.
Pada akhirnya, menjadi superpower pangan bukan hanya tentang menghasilkan panen yang melimpah. Ia adalah tentang membangun kedaulatan, menjaga martabat bangsa, memperkuat ekonomi rakyat, dan menghadirkan kesejahteraan yang berkelanjutan. Sawah bukan sekadar hamparan tanah, melainkan ruang lahirnya peradaban. Petani bukan sekadar produsen pangan, tetapi penjaga masa depan bangsa. Dan kampus bukan sekadar tempat mencetak sarjana, melainkan tempat menumbuhkan harapan.
Maka, jangan lagi hanya bangga menjadi negara agraris. Tantangan hari ini dan ke depan adalah menjadikan Indonesia superpower pangan. Bangsa yang memberi makan rakyatnya dengan ilmu, menggerakkan ekonominya dengan inovasi, dan mengukuhkan kehormatannya melalui kedaulatan pangan.
Karena bangsa yang mampu menguasai pangan, sesungguhnya sedang menulis masa depannya sendiri.(*)
Muliadi Saleh: Menulis Makna, Membangun Peradaban.

