Site icon KABARIKA

DARI SAWAH MENUJU KEDAULATAN Harga Pangan Turun, Emak-Emak Sumringah

Refleksi Sejarah, Ketahanan Pangan dan Kepemimpinan dalam Membangun Indonesia

Oleh Muslimin Mawi
Aktivis dan Pemerhati Organisasi

“Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang hanya mampu membeli pangan, tetapi bangsa yang mampu memproduksi pangannya sendiri”
Kalimat tersebut mungkin tidak pernah tercantum secara resmi dalam konstitusi Indonesia. Namun, seluruh perjalanan bangsa ini menunjukkan bahwa pangan selalu menjadi fondasi utama keberlangsungan sebuah negara.
Negara boleh memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah.
Negara boleh memiliki teknologi yang maju.
Negara boleh memiliki kekuatan militer yang besar.
Namun apabila rakyatnya kesulitan memperoleh pangan, maka sesungguhnya negara sedang menghadapi ancaman yang paling mendasar.
Karena itulah sejarah membuktikan bahwa pangan bukan sekadar urusan pertanian. Pangan adalah urusan peradaban.

I. Mengapa Harga Pangan Selalu Menjadi Berita Besar?

Di Indonesia, tidak ada berita ekonomi yang lebih cepat menyentuh kehidupan masyarakat selain harga pangan.
Ketika harga cabai naik, media memberitakannya.
Ketika harga beras melonjak, masyarakat membicarakannya.
Ketika minyak goreng langka, seluruh negeri merasakannya.
Sebaliknya, ketika harga-harga mulai turun, suasana psikologis masyarakat ikut berubah.
Emak-emak kembali tersenyum, Pedagang lebih tenang, Rumah tangga kembali memiliki ruang untuk menabung.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pangan sesungguhnya bukan hanya persoalan ekonomi. Ia merupakan indikator stabilitas sosial.

II. Dari Bung Karno hingga Indonesia Modern

Sejarah Panjang Membangun Kedaulatan Pangan
Kemerdekaan Indonesia bukan hanya membebaskan bangsa dari penjajahan politik.
Kemerdekaan juga membawa tantangan besar untuk memberi makan seluruh rakyat Indonesia.

Era Soekarno

Pada masa awal kemerdekaan, tantangan terbesar adalah mempertahankan negara yang baru lahir.
Produksi pangan masih rendah.
Infrastruktur rusak.
Konflik politik terjadi di berbagai daerah.
Namun Bung Karno telah meletakkan satu pemikiran besar.
Pangan adalah bagian dari nation building.
Beliau berkali-kali mengingatkan bahwa bangsa yang tidak mampu memberi makan rakyatnya tidak akan pernah benar-benar merdeka.

Era Soeharto

Memasuki dekade 1970-an hingga 1980-an, pembangunan pertanian menjadi prioritas nasional.
Revolusi Hijau dijalankan.
Irigasi dibangun.
Pupuk disubsidi.
Benih unggul dikembangkan.
Penyuluh pertanian diperbanyak.
Puncaknya terjadi pada tahun 1984 ketika Indonesia memperoleh pengakuan dunia karena berhasil mencapai swasembada beras.
Momentum ini menjadi salah satu tonggak sejarah pertanian Indonesia.

Era Reformasi

Setelah reformasi 1998, tantangan berubah.
Globalisasi membuka pasar.
Alih fungsi lahan semakin cepat.
Perubahan iklim mulai terasa.
Urbanisasi meningkat.
Jumlah petani menurun.
Indonesia memasuki era baru, yaitu bagaimana mempertahankan produksi pangan di tengah perubahan dunia yang semakin kompleks.

Era Kini

Kini tantangan tidak lagi hanya memproduksi pangan.
Tetapi juga menghadapi:
krisis iklim, perang geopolitik, gangguan rantai pasok, fluktuasi harga dunia, pertumbuhan penduduk, serta kebutuhan modernisasi pertanian.
Di sinilah pertanian Indonesia memasuki babak baru.

III. Ketahanan Pangan Adalah Kedaulatan Negara

Menurut teori pembangunan modern, negara tidak dapat disebut berdaulat apabila kebutuhan pangan rakyatnya sepenuhnya bergantung pada negara lain.
Konsep food security kemudian berkembang menjadi food sovereignty.
Ketahanan pangan berarti pangan tersedia.
Sedangkan kedaulatan pangan berarti bangsa memiliki kemampuan menentukan masa depannya sendiri.
Indonesia sesungguhnya sedang bergerak menuju konsep kedua.
Karena itu pembangunan pertanian bukan sekadar proyek ekonomi.
Ia adalah strategi geopolitik nasional.

IV. Dari Sawah Menuju Ekonomi Kerakyatan

Lebih dari separuh wilayah Indonesia adalah kawasan pertanian.
Jutaan keluarga hidup dari sawah.
Artinya, setiap peningkatan produksi bukan hanya menghasilkan gabah.
Ia menghasilkan:
pendapatan, lapangan kerja, perdagangan, transportasi, UMKM, hingga pertumbuhan ekonomi desa.
Inilah wajah nyata ekonomi kerakyatan.

V. Kepemimpinan Sebagai Mata Rantai Sejarah

Setiap zaman memiliki pemimpinnya.
Tidak ada satu pemimpin yang membangun Indonesia sendirian.
Sejarah selalu bergerak melalui estafet.
Demikian pula pembangunan pertanian.
Apa yang diletakkan Bung Karno, diperkuat pada era Soeharto, mengalami penyesuaian pada era Reformasi dan kini memasuki tahap modernisasi.
Dalam mata rantai sejarah inilah kepemimpinan Andi Amran Sulaiman memperoleh tempatnya.
Bukan sebagai titik awal sejarah.
Bukan pula sebagai titik akhir.
Melainkan sebagai salah satu aktor penting yang melanjutkan perjalanan panjang pembangunan pertanian Indonesia.

VI. Siri’ na Pacce sebagai Etika Kepemimpinan Publik

Di balik kebijakan terdapat karakter.
Di balik karakter terdapat budaya.
Sebagai putra Bugis, Andi Amran Sulaiman tumbuh dalam falsafah:
Siri’. Integritas. Harga diri. Kejujuran dan Amanah.
Sementara Pacce
adalah empati. Solidaritas. Keberpihakan kepada mereka yang lemah.
Kedua nilai inilah yang sesungguhnya sangat dibutuhkan dalam tata kelola pemerintahan modern.

VII. Harga Pangan Turun, Emak-emak Sumringah

Pada akhirnya seluruh teori pembangunan kembali kepada satu titik.
Rakyat.
Apabila harga pangan turun, Petani tetap memperoleh keuntungan, Stok nasional aman, inflasi terkendali, dan masyarakat mampu membeli kebutuhan pokok, maka sesungguhnya negara sedang bekerja.
Keberhasilan itu tidak hanya tercermin dalam grafik ekonomi.
Tetapi terlihat jelas dari wajah seorang ibu yang pulang dari pasar dengan senyum yang lebih ringan.

Penutup

Sawah Adalah Halaman Depan Kedaulatan Indonesia
Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar pangan dunia.
Indonesia harus menjadi lumbung pangannya sendiri.
Karena bangsa yang mampu memberi makan rakyatnya akan lebih siap menghadapi perubahan zaman dibanding bangsa yang menggantungkan hidupnya kepada negara lain.
Perjalanan menuju cita-cita tersebut tentu bukan pekerjaan satu pemerintahan, satu kementerian ataupun satu tokoh. Ia adalah kerja sejarah yang melibatkan banyak generasi, banyak pemimpin, para petani, ilmuwan, penyuluh, pelaku usaha dan masyarakat luas. Dalam kesinambungan itulah, kepemimpinan Andi Amran Sulaiman dapat dipandang sebagai bagian dari ikhtiar memperkuat fondasi pertanian Indonesia pada zamannya.
Dan ketika harga pangan menjadi lebih terjangkau sehingga emak-emak pulang dari pasar dengan wajah sumringah, sesungguhnya yang sedang dirawat bukan sekadar stabilitas ekonomi rumah tangga. Yang sedang dipelihara adalah kepercayaan rakyat kepada negara, daya tahan bangsa menghadapi krisis, serta harapan bahwa sawah-sawah Indonesia akan terus menjadi halaman depan kedaulatan nasional.

Eramas 2000, 04 Juli 2026

Exit mobile version