Oleh Muliadi Saleh
Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran
Pengalaman di lapangan sering mengajarkan bahwa data terbaik tidak lahir dari daftar pertanyaan, melainkan dari hubungan antarmanusia.
Pagi itu, matahari baru saja menghangatkan hamparan persawahan di Desa Kajaolaliddong, Kecamatan Barebbo, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Di atas pematang sawah yang membelah petak-petak padi, saya bersama beberapa petani duduk melingkar. Tidak ada ruang berpendingin udara, tidak ada meja rapat, tidak ada layar presentasi. Yang ada hanyalah tanah yang lembap, semilir angin, suara burung, dan wajah-wajah petani yang telah puluhan tahun berdialog dengan musim.
Wawancara lapangan itu sejatinya merupakan bagian dari upaya memahami bagaimana petani memaknai perubahan dalam cara mereka bertani. Namun, pagi itu saya justru memperoleh pelajaran yang jauh lebih berharga daripada sekadar data penelitian.
Di tangan saya telah tersedia daftar pertanyaan. Salah satunya berbunyi, “Inovasi pertanian apa yang telah Bapak terapkan?”
Para petani saling berpandangan. Ada yang tersenyum, ada pula yang memilih diam.
Saya mengulang pertanyaan dengan kalimat yang hampir sama. Hasilnya tetap tidak banyak berubah. Bukan karena mereka tidak tahu, melainkan karena bahasa yang saya gunakan belum bertemu dengan bahasa kehidupan mereka.
Saya pun mengubah cara bertanya.
“Pak, selama beberapa tahun terakhir, adakah cara bertani yang sekarang terasa lebih mudah dibanding dulu?”
Wajah mereka seketika berubah cerah.
“Oh… kalau itu banyak,” jawab salah seorang petani. “Sekarang kami sudah pakai benih yang lebih bagus. Cara tanamnya juga berubah. Dulu pupuknya begini, sekarang begitu. Air juga kami atur lebih hemat.”
Percakapan pun mengalir tanpa terasa. Saya tidak lagi sedang mewawancarai seorang responden. Saya sedang mendengarkan seorang guru kehidupan.
Di situlah saya memahami bahwa petani tidak hidup dalam istilah “inovasi”. Mereka hidup dalam pengalaman. Mereka tidak menghitung perubahan dengan bahasa akademik, tetapi dengan bahasa keseharian: pekerjaan menjadi lebih ringan, biaya lebih hemat, hasil lebih banyak, dan panen lebih pasti.
Kesalahan terbesar seorang pewawancara adalah menganggap responden sebagai sumber data. Padahal, sebelum menjadi responden, ia adalah manusia yang telah bertahun-tahun berdialog dengan alam. Setiap musim tanam telah menjadi buku yang dibacanya. Setiap gagal panen adalah laboratorium yang mendidiknya. Setiap keberhasilan adalah hasil dari ribuan keputusan kecil yang tidak pernah tercatat dalam jurnal ilmiah.
Karena itu, wawancara bukan sekadar aktivitas mengajukan pertanyaan. Wawancara adalah seni membangun kepercayaan. Pertanyaan terbaik lahir setelah hubungan terbangun, bukan sebelum daftar pertanyaan selesai disusun.
Sering kali pewawancara terlalu sibuk mencari jawaban, padahal yang dibutuhkan responden hanyalah seseorang yang bersedia mendengar. Ketika seorang petani merasa dihargai sebagai manusia, bukan sebagai objek penelitian, maka cerita-cerita terbaik akan mengalir dengan sendirinya.
Saya semakin yakin bahwa kualitas penelitian lapangan tidak hanya ditentukan oleh metodologi, tetapi juga oleh empati. Bahasa ilmiah memang penting, tetapi bahasa kemanusiaan jauh lebih penting. Sebab ilmu pengetahuan yang kehilangan empati akan melahirkan angka-angka tanpa makna.
Dalam penyuluhan pertanian, prinsip yang sama berlaku. Penyuluh tidak cukup membawa teknologi. Ia harus mampu menerjemahkan teknologi menjadi bahasa yang hidup dalam keseharian petani. Istilah “inovasi pertanian” mungkin terdengar megah di ruang seminar, tetapi di pematang sawah, petani lebih mudah memahami kalimat sederhana: “cara bertani yang lebih baik, lebih mudah, lebih hemat, dan hasilnya lebih banyak.”
Pada akhirnya, saya belajar bahwa tugas seorang pewawancara bukan sekadar mengumpulkan informasi. Tugasnya adalah membuka ruang agar pengalaman manusia dapat berbicara. Sebab di balik setiap jawaban seorang petani, tersimpan pengetahuan yang tidak hanya memperkaya penelitian, tetapi juga memperkaya cara kita memandang kehidupan.
Mungkin itulah hakikat wawancara yang sesungguhnya: bukan seni bertanya, melainkan kebijaksanaan untuk mendengar. Ketika kita mampu mendengar dengan hati, setiap petani sesungguhnya adalah profesor kehidupan yang mengajarkan bahwa ilmu terbesar lahir dari pengalaman, dan pengalaman hanya dapat dipahami oleh mereka yang rendah hati untuk mendengarkan.
Muliadi Saleh: Menulis Makna, Membangun Peradaban.

