Oleh : Muliadi Saleh
Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran
Ada buah yang ketika lumbung padi kosong, ketika musim kemarau memanjangkan derita, bahkan ketika perang memutus rantai logistik, buah itu hadir sebagai penolong. Di Sulawesi Selatan, umumnya masyarakat menyebutnya Bakara.
Bakara bukan sekadar nama lokal bagi sukun. Ia adalah bagian dari ingatan kolektif masyarakat Bugis-Makassar. Pohon-pohonnya telah lama tumbuh di pekarangan rumah, kebun campuran, hingga lereng-lereng perbukitan. Jauh sebelum republik ini berdiri, para leluhur Austronesia membawa dan menyebarkan tanaman ini ke berbagai wilayah Nusantara. Sejak saat itu, sukun menjadi bagian dari lanskap kehidupan masyarakat Sulawesi Selatan.
Dalam masyarakat agraris, Bakara bukanlah pangan utama, tetapi pangan penyelamat. Ketika sawah gagal panen, ketika kemarau berkepanjangan mengeringkan ladang, atau ketika harga beras melambung akibat krisis, masyarakat beralih kepada pohon-pohon sukun. Buahnya dikukus, dibakar, atau digoreng. Kandungan karbohidrat, serat, vitamin, dan mineralnya menjadikan Bakara bukan sekadar pengganjal lapar, melainkan sumber energi yang menopang kehidupan.
Sejarah juga mencatat peran Bakara pada masa-masa paling kelam di Sulawesi Selatan. Ketika pergolakan DI/TII melanda kawasan pegunungan Enrekang pada dekade 1950-an, jalur distribusi pangan nyaris lumpuh. Di tengah keterisolasian wilayah gerilya, pohon-pohon sukun yang tumbuh liar di lereng gunung menjadi sumber logistik alami. Buahnya membantu masyarakat sipil maupun mereka yang bertahan di pedalaman melewati “zaman susah”.
Bakara menjadi saksi sejarah bahwa ketahanan pangan bukan hanya persoalan produksi, tetapi juga kemampuan alam menyediakan kehidupan ketika sistem formal berhenti bekerja.
Ironisnya, ketika keadaan membaik dan pangan modern semakin mudah diperoleh, terkadang bakara perlahan tersisih. Ia kalah populer oleh beras, gandum, dan berbagai pangan impor. Seolah lupa bahwa pohon yang pernah menyelamatkan kehidupan itu masih tetap berdiri, menunggu untuk kembali dihargai.
Kini, sejarah seperti berputar ke titik awal.
Kabupaten Bone sedang menghidupkan kembali kejayaan Bakara. Gerakan penanaman hingga jutaan pohon sukun bukan sekadar program penghijauan, melainkan investasi jangka panjang bagi ketahanan pangan, konservasi lingkungan, dan kebangkitan ekonomi desa. Pohon sukun dipilih bukan hanya karena produktif, tetapi juga memiliki sistem perakaran yang kuat untuk mengurangi risiko longsor dan menjaga keseimbangan ekologi.
Lebih jauh lagi, Bakara tidak lagi dipandang sebagai buah kampung. Ia telah memasuki babak baru sebagai komoditas ekonomi bernilai tambah. Tepung sukun bebas gluten mulai dilirik sebagai bahan pangan sehat. Keripik premium, aneka roti, brownies, hingga “Bakara Peppe” menjadi wajah baru kuliner lokal yang siap bersaing di pasar modern. Sentra pembibitan dan kawasan budidaya di Bone bahkan diarahkan menjadi destinasi agrowisata edukatif yang mempertemukan pertanian, pariwisata, budaya, dan kewirausahaan.
Sesungguhnya, kebangkitan Bakara bukan hanya tentang menghidupkan kembali sebuah tanaman. Ia adalah upaya mengembalikan kepercayaan bangsa kepada kekayaan pangan lokalnya sendiri. Di tengah ancaman perubahan iklim, ketidakpastian ekonomi global, dan meningkatnya ketergantungan pada pangan impor, sukun menawarkan bahwa solusi masa depan sering kali tersimpan dalam kearifan masa lalu.
Bakara mengajarkan bahwa peradaban tidak selalu dibangun oleh teknologi yang paling canggih, tetapi juga oleh kemampuan sebuah masyarakat merawat warisan alamnya. Pohon-pohon sukun yang dahulu menjadi penyelamat saat paceklik, kini dapat menjadi penyangga ekonomi desa, sumber inovasi pangan, sekaligus simbol kedaulatan pangan Indonesia.
Mungkin sudah saatnya kita berhenti memandang Bakara sebagai buah biasa. Sebab, di balik setiap buah yang jatuh dari pohonnya, tersimpan sejarah panjang tentang ketahanan, pengorbanan, dan harapan. Dan di sanalah, sesungguhnya, peradaban pangan menemukan akarnya. (Bagian terakhir dari dua tulisan)
__________
Muliadi Saleh: Menulis Makna, Membangun Peradaban.

