Oleh: Muliadi Saleh | Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran
Di sebuah hamparan sawah, seorang petani mengajarkan pelajaran yang tidak pernah saya temukan di bangku kuliah.
Ia tidak memulai dengan racun. Ia tidak mengawali dengan perang. Di sudut antara Timur dan Selatan di petakan sawahnya, ia duduk di pematang. Komat kamit mulutnya mengucapkan sesuatu.
Ia seakan akan berbicara kepada tikus. Berbahasa Bugis dengan fasih yang artinya kira- kira begini ;
“Wahai tikus, jika engkau tidak mengganggu padiku, besok akan kubawakan makanan untukmu: nasi, kunyit, dan telur rebus. Keesokan harinya ia kembali menelusuri setiap jengkal sawahnya. Jika ia tak menemukan gangguan tikus, iapun menyiapkan “menu spesial”. Dibawa ke sawah dan dipersembahkan ke tikus, seperti yang ia janjian.
Sekilas, kalimat dan “ritual” sederhana itu1 terdengar seperti dongeng. Namun, semakin direnungkan, semakin tampak bahwa di baliknya tersimpan kearifan ekologis yang luar biasa.
Tentu saja, tidak ada bukti ilmiah bahwa tikus memahami bahasa manusia atau akan mengubah perilakunya karena diajak berbicara. Namun, dialog itu adalah simbol. Ia melatih batin petani agar tidak memusuhi alam dengan kebencian, melainkan menghadapinya dengan pemahaman, kesabaran, dan ikhtiar.
Yang lebih menarik lagi, tiga “hidangan” yang disebutkan—nasi, kunyit, dan telur rebus—ternyata bukan sekadar makanan. Ketiganya memiliki manfaat nyata bagi tanah dan ekosistem sawah.
Nasi yang telah mengalami fermentasi dapat menjadi sumber mikroorganisme lokal (MOL). Mikroba di dalamnya membantu mempercepat dekomposisi bahan organik, memperkaya kehidupan mikro di dalam tanah, dan meningkatkan kesuburan lahan.
Kunyit mengandung kurkumin dan minyak atsiri yang dikenal memiliki sifat antijamur dan antimikroba. Dalam pertanian alami, kunyit dimanfaatkan sebagai fungisida nabati, membantu menekan patogen tertentu, sekaligus mendukung keseimbangan mikroorganisme tanah.
Telur rebus, terutama cangkangnya, merupakan sumber kalsium alami. Setelah dihancurkan dan dikembalikan ke tanah, cangkang telur membantu memperbaiki struktur tanah dan menjadi sumber hara. Air rebusannya pun mengandung mineral yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik sederhana.
Maka, tanpa disadari, “menu untuk tikus” itu sesungguhnya adalah “makanan” bagi tanah.
Inilah keindahan kearifan lokal. Sebuah tradisi yang tampak sederhana sering kali menyimpan logika ekologis yang baru dipahami oleh ilmu pengetahuan bertahun-tahun kemudian.
Tentu, pengendalian hama tikus tetap harus dilakukan dengan pendekatan ilmiah. Sanitasi lahan, gropyokan, tanam serempak, Trap Barrier System (TBS), pengelolaan air, serta pelestarian musuh alami seperti burung hantu tetap merupakan strategi yang terbukti efektif. Kearifan lokal bukan pengganti ilmu, melainkan mitra yang memperkaya cara kita memandang alam.
Barangkali itulah sebabnya para petani dahulu tidak mengatakan “membasmi” alam.
Mereka mengatakan, “mengendalikan.”
Karena bagi mereka, tikus bukan musuh abadi.
Ia hanyalah sesama makhluk hidup yang harus ditempatkan kembali pada batas keseimbangan.
Dan mungkin, sawah yang paling subur bukanlah sawah yang bebas dari semua makhluk lain. Melainkan sawah yang dipelihara dengan ilmu, dijaga dengan kesabaran, dan dirawat dengan kebijaksanaan.
Di situlah pertanian berubah menjadi peradaban. Sebab ketika petani masih mampu mengajak tikus “berdialog”, sesungguhnya ia sedang berdialog dengan dirinya sendiri: menaklukkan amarah, merawat keikhlasan, dan menjaga harmoni antara manusia, tanah, dan seluruh ciptaan Tuhan.
___________
“Muliadi Saleh: Menulis Makna, Membangun Peradaban.”

