Oleh: Muliadi Saleh
Esais Reflektif | Arsitek Kesadaran
Laut selalu mengajarkan satu hal yang sederhana tetapi mendalam: kehidupan bergerak karena keterhubungan. Tidak ada ombak yang lahir sendirian. Ia adalah hasil perjumpaan angin, arus, gravitasi, dan kedalaman. Demikian pula masa depan masyarakat pesisir. Ia tidak mungkin dibangun hanya oleh kebijakan, hanya oleh penelitian, atau hanya oleh semangat masyarakat. Ketiganya harus bertemu dalam satu gelombang yang sama.
Makassar, pada 20–23 Juli 2026, menjadi ruang perjumpaan itu. PAIR Annual Meeting 2026 mengangkat tema Coastal Communities Sulawesi: Science, Policy and Action. Tema ini sesungguhnya bukan sekadar slogan konferensi. Ia adalah rumusan filosofis tentang bagaimana peradaban bekerja. Sains melahirkan pengetahuan. Kebijakan memberikan arah. Aksi menghadirkan perubahan.
Tiga kata itu tampak sederhana. Namun di sanalah masa depan pesisir dipertaruhkan.
Selama ini kita terlalu sering membiarkan ilmu berhenti di rak perpustakaan. Penelitian selesai ketika jurnal terbit, padahal masyarakat belum merasakan manfaatnya. Di sisi lain, kebijakan sering lahir tanpa cukup mendengarkan data. Akibatnya, program berjalan, tetapi persoalan tetap tinggal.
Masyarakat pesisir memahami kenyataan ini lebih cepat daripada siapa pun. Mereka membaca perubahan iklim bukan dari grafik, melainkan dari arah angin yang berubah. Mereka memahami kenaikan muka laut bukan dari laporan ilmiah, melainkan dari halaman rumah yang semakin sering digenangi air asin. Mereka mengenali krisis ekosistem bukan dari seminar, tetapi dari jaring yang pulang dengan hasil yang semakin sedikit.
Di sinilah sains menemukan makna sejatinya. Pengetahuan bukan sekadar menjelaskan dunia, tetapi membantu manusia menjaganya.
Sulawesi adalah laboratorium kehidupan. Garis pantainya yang panjang menyimpan kekayaan hayati sekaligus tantangan ekologis. Terumbu karang, padang lamun, mangrove, perikanan tangkap, hingga budaya maritim menjadi mosaik yang tidak hanya penting bagi Indonesia, tetapi juga bagi dunia.
Karena itu, membangun masyarakat pesisir tidak cukup dengan pendekatan sektoral. Laut tidak mengenal batas administrasi. Ombak tidak berhenti di garis provinsi. Perubahan iklim pun tidak pernah meminta izin sebelum datang. Semua persoalan itu membutuhkan cara berpikir yang lintas disiplin, lintas institusi, bahkan lintas negara.
Kolaborasi Indonesia dan Australia melalui PAIR memperlihatkan bahwa ilmu pengetahuan memiliki bahasa yang melampaui perbedaan. Ketika para peneliti, pemerintah, perguruan tinggi, komunitas lokal, dan pelaku pembangunan duduk bersama, sesungguhnya mereka sedang merancang masa depan yang lebih rasional sekaligus lebih manusiawi.
Namun, ada satu pelajaran yang lebih penting daripada seluruh presentasi ilmiah dalam forum semacam ini.
Bahwa masyarakat bukan objek penelitian.
Mereka adalah subjek pengetahuan.
Nelayan yang setiap hari membaca laut menyimpan pengalaman yang tidak seluruhnya dapat ditangkap oleh satelit. Petani tambak memahami musim dengan intuisi yang dibentuk oleh puluhan tahun interaksi dengan alam. Perempuan pesisir mengetahui perubahan kualitas air melalui pengalaman mengelola rumah tangga. Pengetahuan lokal semacam ini bukan lawan bagi sains modern. Ia adalah mitra dialog yang membuat ilmu menjadi lebih utuh.
Di sinilah lahir konsep co-production of knowledge—pengetahuan yang dibangun bersama antara ilmuwan dan masyarakat. Ketika data bertemu pengalaman, ketika laboratorium bertemu kampung nelayan, ketika universitas bertemu kearifan lokal, ilmu tidak lagi terasa asing. Ia menjadi milik bersama.
Masa depan pesisir sesungguhnya bukan hanya tentang menjaga garis pantai. Ia adalah tentang menjaga martabat manusia yang hidup di tepinya. Tentang memastikan anak-anak nelayan memiliki pendidikan yang baik, perempuan pesisir memperoleh ruang ekonomi yang adil, dan generasi muda tetap melihat laut sebagai harapan, bukan sekadar tempat yang harus ditinggalkan.
Karena itu, tema Science, Policy and Action patut dibaca sebagai perjalanan yang tidak boleh terputus. Sains tanpa kebijakan akan menjadi pengetahuan yang sunyi. Kebijakan tanpa sains mudah kehilangan arah. Sementara keduanya tanpa tindakan hanya akan menjadi arsip yang berdebu.
Kita membutuhkan ketiganya berjalan seirama.
Sebab laut tidak menunggu manusia selesai berdebat.
Gelombang terus datang. Iklim terus berubah. Waktu terus bergerak.
Pertanyaannya bukan lagi apakah kita memiliki cukup pengetahuan, melainkan apakah kita memiliki cukup keberanian untuk menerjemahkan pengetahuan menjadi tindakan.
Makassar telah memperlihatkan bahwa kolaborasi itu mungkin. Kini tantangannya adalah memastikan percakapan ilmiah tidak berhenti di ruang konferensi, melainkan mengalir ke desa-desa pesisir, menjadi kebijakan yang berpihak, teknologi yang membumi, dan aksi yang benar-benar mengubah kehidupan.
Sebab pada akhirnya, peradaban tidak diukur dari banyaknya penelitian yang diterbitkan, melainkan dari seberapa jauh ilmu mampu menghadirkan harapan bagi manusia dan menjaga keseimbangan alam.
Di setiap ombak yang menyentuh pantai Sulawesi, selalu ada pesan yang sama: masa depan hanya dapat dibangun oleh mereka yang bersedia mendengar suara alam, menghormati pengetahuan, dan bekerja bersama demi kehidupan yang lebih berkelanjutan.
___________
Muliadi Saleh: Menulis Makna, Membangun Peradaban.

