Oleh: Muliadi Saleh
Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran
Talkshow hari kedua pada PAIR Annual Meeting 2026: Coastal Communities Sulawesi—Science, Policy and Action di Makassar, 21 Juli 2026, diskusi fokus pada topik rumput laut. Mempertemukan pengusaha, peneliti, pemerintah pusat dan daerah. Temanya tentang rumput laut berkelanjutan.
Laut tidak pernah benar-benar diam. Di bawah riak yang tampak tenang, ia menyimpan percakapan panjang antara angin, garam, arus, dan tangan-tangan manusia yang setiap pagi menanam harapan. Di sana, rumput laut tumbuh. Bukan sekadar tanaman, melainkan kehidupan yang tumbuh dari kesabaran para petani yang menunggu, keberanian menghadapi cuaca, dan keikhlasan menerima ketidakpastian.
Bagi Arman Arfah, pengusaha rumput laut yang lebih dari dua puluh tahun bersinggungan dengan laut dan pesisir, laut adalah halaman depan rumah. Ia menyaksikan laut yang memberi kehidupan, sekaligus laut yang perlahan terluka.
Di antara bentangan rumput laut, sampah plastik ikut tumbuh: botol, tali, limbah, dan sesuatu yang lebih kecil daripada pandangan mata—mikroplastik. Luka yang tidak selalu terlihat, tetapi dapat masuk ke tubuh organisme laut, termasuk kerang dan rumput laut. Dari laut, ia mungkin kembali kepada manusia melalui rantai pangan. Laut yang memberi makan, perlahan kita biarkan sakit.
Indonesia adalah salah satu produsen utama rumput laut dunia. Pada 2024, produksinya sekitar 10,81 juta ton atau 29,6 persen produksi global.
Sulawesi menjadi jantung penting produksi rumput laut nasional, menyumbang lebih dari separuh produksi Indonesia. Sulawesi Selatan berada di garis depan. Luwu, Takalar, Wajo, Bone, dan Luwu Timur adalah nama-nama yang menghidupkan ekonomi pesisir. Di Pinrang, industri pengolahan karaginan menjadi salah satu fondasi penting hilirisasi.
Namun, produksi yang besar belum otomatis berarti petani sejahtera. Rumput laut tumbuh di laut Sulawesi. Petani menanam dan memanennya. Tetapi nilai tambah sering kali tumbuh jauh dari tempat asalnya. Di sinilah luka lain berada: petani menanggung risiko terbesar, tetapi sering menerima nilai paling kecil. Maka teknologi harus hadir bukan hanya untuk meningkatkan produksi, tetapi memotong rantai pasok dan mendekatkan nilai tambah kepada petani.
Rumput laut tidak boleh berhenti sebagai bahan mentah. Ia dapat menjadi pangan, karaginan, agar-agar, kosmetik, farmasi, biopigmen, bioplastik, hingga biostimulan pertanian. Bahkan limbahnya dapat dikembangkan dalam ekonomi sirkular. Dari satu tanaman laut, lahir banyak kemungkinan, asalkan ilmu bertemu teknologi dan teknologi bertemu keberanian.
Tetapi sebelum berbicara tentang industri, kita harus berbicara tentang laut.
Tidak mungkin membangun industri rumput laut berkelanjutan di laut yang tercemar. Karena itu, Laut SEBASAH—Laut Sehat Bebas Sampah—harus menjadi gerakan nyata. Sampah harus dihentikan dari hulu: sungai, muara, pesisir, pelabuhan, dan pulau-pulau kecil. Kita membutuhkan bank sampah pesisir, pasar bagi limbah plastik, dan material budidaya yang lebih ramah lingkungan. Sebab sampah yang kita buang tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berubah bentuk, berpindah tempat, lalu mungkin kembali kepada kita.
Sulawesi memiliki masa depan ekonomi biru yang besar. Namun masa depan itu tidak cukup dibangun dengan memperluas budidaya.
Kita membutuhkan bibit yang tahan perubahan iklim, teknologi, tata ruang laut, pengendalian mikroplastik, industri pengolahan, dan kelembagaan yang kuat. Di Sulawesi Barat, potensi laut dan ribuan pembudidaya menunggu hadirnya industri, sebab sebagian besar rumput laut masih keluar daerah untuk diolah. Rumput laut tumbuh di sana. Petani bekerja di sana. Namun nilai tambah pergi ke tempat lain.
Ekonomi biru tidak boleh sekadar berarti mengambil kekayaan laut. Ia harus berarti membangun kesejahteraan masyarakat yang hidup dari laut. Karena itu, melalui PAIR Annual Meeting 2026, satu pesan menjadi penting: Science, Policy, Action. Ilmu membaca kenyataan. Kebijakan memberi arah. Tindakan menghadirkan perubahan. Sains tanpa aksi hanyalah pengetahuan yang tertidur. Kebijakan tanpa ilmu adalah perjalanan tanpa kompas. Keduanya tanpa keberanian hanya menjadi dokumen.
Laut tidak pernah benar-benar lupa. Ia mengingat siapa yang datang mengambil. Ia juga mengingat siapa yang datang menjaga. Suatu hari, generasi baru akan berdiri di tepi pantai Sulawesi dan bertanya: Apa yang telah kita lakukan terhadap laut yang diwariskan kepada kita?
Semoga jawabannya bukan tentang berapa banyak yang telah kita ambil, melainkan tentang berapa banyak yang telah kita kembalikan: laut yang bersih, rumput laut yang sehat, petani yang sejahtera, industri yang adil, dan masa depan yang berkelanjutan. Sebab luka dalam di rumput laut adalah luka dalam dalam hubungan manusia dengan alam. Dan jika kita ingin menyembuhkan rumput laut, barangkali yang pertama harus kita sembuhkan adalah kesadaran manusia. (*)
Muliadi Saleh: “Menulis Makna, Membangun Peradaban.”

