Oleh: ๐๐ฎ๐ ๐๐๐ฌ๐ฆ๐๐ง
MUSIM durian telah tiba lagi!
Bagi pecinta sejati, aroma dari lapak-lapak durian bukan sekadar wewangian, melainkan godaan yang menggetarkan lidah. Celakanya, rayuan itu hampir selalu datang lebih cepat daripada tanggal gajian.
Kalaupun hari ini sedang terserang wabah KANKER (Kantong Kering), minimal tandai dulu lapaknya. Bulan depan setelah gajian, datanglah kembali. Bukan untuk membeli, cukup memastikan bekas lapaknya saja. Besar kemungkinan duriannya sudah habis diborong ๐๐ข๐จ๐จ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ.
Kemarin saya singgah makan durian di pinggir Jalan Toddopuli. Di sana berlaku semacam hukum adat yang tak pernah tertulis: makan di tempat, garansi penuh! Kalau duriannya kurang bagus, penjual langsung mengganti saat itu juga. Belum sempat pembeli memasang wajah kecewa, durian pengganti sudah lebih dulu mendarat di meja. Pokoknya, Anda puas, penjual lemas!
Sambil menunggu giliran, saya memperhatikan gaya penjual memilih durian. Satu per satu diangkat, diketuk, lalu diintip pangkalnya sambil diendus berkali-kali. Serius sekali. Persis anjing Herder yang sedang melacak narkotika. Bedanya, kalau Herder memburu barang terlarang, penjual durian sedang memburu buah yang siap mengabdi kepada lidah rakyat.
Beda cerita kalau membeli durian tanpa โuji klinisโ alias โuji intervensiโ. Saya pernah mengalaminya. Penjual membelah durian pertama, gagal total. Durian kedua dibongkar, hasilnya tetap mengecewakan. Durian ketiga malah keras bagai ๐ฃ๐ข๐ต๐ถ ๐ค๐ฐ๐ฃ๐ฆโ๐ฏ๐ข ๐๐ญ๐ญ๐ข๐ฌ๐ฌ๐ถ๐ข๐ฏ๐จ.
Penjual mulai ๐ฎ๐ข๐ฌรช๐ณรช๐ฏ๐จ-๐ฌรช๐ณรช๐ฏ๐จ. Senyumnya lenyap, wajahnya mendadak sangar karena tak kunjung menemukan satu saja durian yang layak dieksekusi. Kalau memilih durian matang masuk cabang Piala Dunia, sepertinya dia sendiri belum tentu lolos babak grup.
Saya tahu emosinya mulai mendidih ketika membelah durian berikutnya sambil โ ๐ด๐ช๐จ๐ข๐ณ๐ช๐จ๐จ๐ชโ ๐ช๐ด๐ช ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ถ๐ฏ๐ฏ๐ข โโgiginya bunyi gemeletuk ๐ต๐ข๐ฑ๐ฑรช๐ณรช-๐ฑรช๐ณรช menahan kesal. Sekali tebas, durian memang terbelah dua, tetapi parangnya ikut tertancap di batang. Berkali-kali ditarik, tetap bergeming.
Melihat wajahnya yang mulai merah padam, naluri bertahan hidup saya langsung aktif. Tanpa menunggu aba-aba, saya perlahan mundur mencari titik evakuasi. Khawatir parang panjangnya yang mirip kalewang Pattimura di uang seribu rupiah mendadak salah sasaran lalu mendarat di lutut saya.
๐๐ขรช ๐ต๐ฆ๐ฑ๐ฑ๐ข ๐ฌรช๐ฑ๐ฑ๐ข๐ฏ๐จ ๐ญ๐ฆ๐ต๐ต๐ถ ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ฆโ ๐ญ๐ช๐ฏ๐ฐ! (Pincang seumur hidup).
Lagi pula, durian satu mobil Kijang itu sepertinya masih โse-kimiawiโ, alias sepupuan semua. Kalau satu ternyata masih muda, biasanya yang lain juga belum siap ranum. Jangan-jangan malam sebelum dipanen mereka sempat menggelar ๐ต๐ถ๐ฅ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ช๐ฑ๐ถ๐ญ๐ถ๐ฏ๐จ sesama durian lalu bersepakat,
โ ๐๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ช ada yang matang dulu. Kita kompak saja bikin pembeli naik darah!โ
Dalam hati saya cuma bisa bergumam, โUntuk apa dijual kalau semuanya belum siap mengabdi kepada lidah rakyat?โ Kasihan lidah, datang membawa harapan, pulang membawa trauma.
Dari luar aromanya memang semerbak bak parfum seribu bunga. Siapa pun yang menciumnya bisa langsung menelan ludah tiga kali. Namun, sesampainya di rumah, harapan itu mendadak ambruk. Begitu dibelah, isinya malah membuat dada ikut kopong. Manisnya entah ke mana, dagingnya tipis, bijinya lebih percaya diri tampil ke depan.
๐๐ข๐ฃ๐ฆโ๐ด๐ช ๐ช๐ด๐ฆ ๐ฅ๐ฐ๐ฎ๐ฑ๐ฆ๐ต-๐ฆ.
Sakti memang sebagian penjual durian. Berbekal ketukan parang tumpul dan penciuman setajam hidung kucing garong, mereka mampu meyakinkan pembeli bahwa duriannya manis. Padahal, dari bunyi ketukan itu pula mereka sebenarnya sudah tahu mana yang matang dan mana yang masih mengkal.
Anehnya, yang mengkal justru biasa diarahkan kepada pembeli yang berniat membawanya pulang. Begitu keluar dari lapak, hubungan penjual dan durian resmi putus. Selebihnya urusan takdir.
Durian ternyata juga mengenal kasta. Ada Durian Montong, bangsawan dunia perdurian. Besarnya mirip ransel Mapala yang hendak mendaki Gunung Lompobattang. Si raja durian itu dibanderol dengan harga yang sanggup merobek dompet sampai ke serat-seratnya.
Kemarin saya iseng bertanya harganya.
โEnam puluh ribu rupiah per kilo.โ Sahut penjualnya.
Beratnya enam kilo.
Hitung makiโ sendiriโฆ
Saya langsung mundur perlahan, ala gerakan Paskibraka.
Ada pula durian seukuran kelapa hibrida yang ramah di kantong. Ada juga yang cuma sebesar ๐ฑ๐ข๐ซ๐ซ๐ข๐จ๐จ๐ถ๐ณ๐ถโ (kepalan tangan).
โ ๐๐ฆ ๐ฏ๐ฅ๐ฐ ๐ฆโฆ kecilnya!โ
Yang beginian tidak usah dibelah. Langsung ditelan bulat-bulat bersama kulitnya. Siapa tahu durinya sekalian mengerok dahak batuk kering.
Fenomena durian sebenarnya menarik untuk bahan penelitian.
Mengapa luarnya dipenuhi duri tajam, tetapi dalamnya manis luar biasa? Sebaliknya, buah pare berkulit mulus mengilap, tetapi pahitnya tak ketolongan. Penelitian begini rasanya harus dipromotori dua malaikat (Malik dan Pencabut nyawa) karena mulai mengusik sebagian rahasia Sang Pencipta.
Walaupun demikian, dalam dunia akademik hampir semua hal bisa diteliti. Jangankan buah yang tampak, setan Sumiati yang gaib pun bisa diteliti. Coba saja gelar riset di Pekuburan Macanda tengah malam sendirianโฆ
๐ฌ๐ฐ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ฐโ๐ฌ๐ฐ ๐ฏ๐ข๐ญ๐ฆ๐ญ๐ญ๐ถ๐ฏ๐จ ๐ฑ๐ข๐ณ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ๐จ!
Secara filosofis, durian adalah media tadabbur alam. Kulitnya yang tajam mengajari kita agar tidak menilai seseorang dari sampulnya, sedangkan dagingnya yang manis mengingatkan bahwa keberkahan sering menunggu di balik ikhtiar menembus duri-duri kehidupan.
Namun realitas lapangan tak seindah teori.
Kapok karena pernah ditipu ๐๐ข๐จ๐จ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ yang langsung menguap di gang sempit, kini saya menerapkan prinsip ๐๐ข๐ต๐ฉ๐ข๐ฏ๐ข๐ฉ (cerdik): kadang membawa wadah ๐๐ถ๐ฑ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ธ๐ข๐ณ๐ฆ dari rumah.
Suruh penjualnya mengeksekusi di tempat, periksa kualitasnya, lalu masukkan ke dalam wadah. Strategi sederhana ini bukan cuma menyelamatkan dompet, tetapi juga menjaga kedamaian rumah tangga saat bertemu istri. Maklum, beliau merangkap jabatan sebagai security rumah.
Usai makan durian, saya teringat teman yang menyuruh minum dari cekungan kulitnya.
Katanya supaya tidak teler.
Jujur saja, kemarin saya coba berkali-kali.
Hasilnya?
Bukannya kebal, malah ๐ค๐ฆ๐ฅ๐ฅ๐ฆโ๐ฎ๐ข ๐ฎ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ฏ๐ฆโ (hampir muntah) karena kebanyakan minum air ketimbang makan isinya.
Puncak drama musiman itu terjadi saat saya membawa durian dari Mamuju menuju Makassar menggunakan bus umum sejenis Borlindo.
Awalnya situasi kondusif.
Namun, perlahan-lahan aroma tajam durian berhasil menyelinap menembus ritsleting tas lalu menguasai seluruh kabin ber-AC.
Suasana mendadak mencekam.
Penumpang mulai gelisah. Ada yang menutup hidung, ada yang menggerutu, sampai akhirnya terdengar tuntutan agar durian misterius itu segera diturunkan.
Naluri survival saya langsung menyala.
Demi menyelamatkan aset berharga, saya menggelar Operasi Kamuflase Tingkat Tinggi.
Dengan mimik paling polos dan nada suara pura-pura emosi, saya ikut celingukan lalu berteriak paling nyaring,
โIya betul itu! Siapa sih yang bawa durian? Bikin pusing orang saja! Turunkan cepat!โ
Saya berpura-pura menjadi korban.
Padahal pelakunya ya saya sendiri.
Berkat akting kelas wahid, perhatian seluruh penumpang langsung terpecah. Mereka saling pandang. Kalau bukan mereka, lalu siapa? Jangan-jangan memang ada penumpang gaib yang ikut naik bus.
Alhamdulillah, durian pemberian Ibu Wakil Gubernur Sulawesi Barat selamat sampai Makassar.
Saya juga.
Tanpa diadili warga satu bus.
Selebihnya, pengalaman lapangan mengajarkan satu pelajaran yang lebih praktis: kalau membeli dari ๐๐ข๐จ๐จ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ, bawalah ๐๐ถ๐ฑ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ธ๐ข๐ณ๐ฆ. Kalau membawa durian naik bus, jangan lupa siapkan kemampuan akting.
๐๐๐ค๐๐ฌ๐ฌ๐๐ซ, ๐๐ ๐๐ฎ๐ฅ๐ข ๐๐๐๐

