Oleh: ๐๐ช๐ ๐๐๐จ๐ข๐๐ฃ
KEMARIN malam saya baru pulang dari perjalanan melintasi beberapa kabupaten.
Di mana-mana pemandangannya sama: antrean kendaraan mengular di setiap SPBU. Dari kejauhan saya sempat mengira ada hajatan besar. Begitu mendekat, ternyata bukan. Para sopir cuma sedang berburu solar.
Entah sejak kapan mengantre BBM naik kelas menjadi olahraga nasional. Cabangnya bukan angkat besi, melainkan angkat sabar. Hadiahnya juga unik: kalau beruntung tangki terisi penuh, kalau apes pulang membawa wajah mappakereng-kereng na mappote-pote.
Rasanya lebih mudah menemukan durian montong harga murah daripada menemukan SPBU tanpa antrean.
Pengalaman pahit itu makin nyata saat saya ikut mengantre di sebuah SPBU di Maros kemarin subuh.
Berjam-jam mobil hanya merayap sejengkal demi sejengkal, sampai akhirnya tinggal dua mobil lagi di depan saya.
Dada mulai berbunga-bunga. Perasaan saya melambung, persis suporter yang tim kesayangannya baru mendapat hadiah penalti pada menit ke-90. Sebentar lagi tangki bakal penuh, batin saya sambil nyengir sendiri.
Tiba-tiba sopir truk di depan turun. Wajahnya kusut, langkahnya pelan, sorot matanya seperti dokter spesialis hewan hendak menyampaikan kabar hasil laboratorium. Ia mengetuk kaca mobil saya, lalu berkata santai, โ ๐๐ฐ๐ญ๐ข๐ณ ๐ฉ๐ข๐ฃ๐ช๐ด, ๐๐ข๐ฌ!โ
๐๐ถ๐ข๐ฅ๐ฅ๐ถ๐ถ๐ถโฆ!
Seketika harapan ambruk tanpa sempat mengucapkan istigfar. Bintang-bintang serasa ๐ฎ๐ข๐ค๐ค๐ฆ๐ฏ๐ฏ๐ฆโ-๐ค๐ฆ๐ฏ๐ฏ๐ฆโ berputar di luar kepala.
Deretan doa sabar yang sejak tadi saya wiridkan mendadak berubah menjadi helaan napas panjang di dalam kabin.
Rasanya seperti sudah berdiri paling depan di antrean prasmanan pesta, ehโฆ panitianya malah mengumumkan, โMaaf, makanannya habis.โ ๐๐ฎ๐ฃ๐ฐโ ๐ค๐ช๐ญ๐ข๐ฌ๐ข!
Sisa bahan bakar di tangki makin kritis. Jarum indikator seolah berubah profesi menjadi penceramah, terus-menerus mengingatkan agar segera bertobatโฆ eh, segera mengisi BBM.
Lampu indikatornya berkedip lebih rajin daripada notifikasi grup WhatsApp keluarga. Seolah-olah berteriak, โCepat cari solar sebelum saya pensiun!โ
Saya pun merayap pelan menuju Makassar dengan sisa BBM yang tinggal mengandalkan doa. Mata saya mendadak berubah profesi menjadi radar pencari SPBU. Untung tidak susah menemukannya. Sekarang saya tak lagi mencari papan SPBU. Cukup cari kerumunan truk yang mengular. Di situlah biasanya solar sedang diperebutkan.
๐๐ญ๐ฉ๐ข๐ฎ๐ฅ๐ถ๐ญ๐ช๐ญ๐ญ๐ข๐ฉ, di depan Hotel Dalton masih ada SPBU buka 24 jam. Hati saya kembali berbunga. Siapa tahu rezeki isi tangki belum diserahkan kepada sopir lain. Dalam hati saya berdoa, semoga kali ini yang penuh bukan cuma harapan, tetapi juga tangki mobil.
Saya kembali mengambil nomor antrean untuk ketiga kalinya. Kalau antrean ini diberi kartu anggota, sepertinya saya sudah berhak mendapat diskon pelanggan setia.
Sesampainya di sana, saya malah disambut episode baru. Persis sinetron televisi. Satu masalah selesai, masalah berikutnya langsung muncul sebelum pemirsa sempat pindah saluran.
Sebuah truk ๐ต๐ข๐ฌ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ค๐ช๐ฏ๐จ mogok tepat setelah mengisi solar, persis di mulut jalur keluar SPBU.
Kalau mogoknya lima meter lebih jauh, mungkin tidak jadi pusat perhatian se-SPBU.
Sopirnya melambai-lambai meminta bantuan. Lucunya, yang dimintai tolong justru para sopir yang masih berpuasa solar di dalam antrean.
Baru kali ini saya melihat orang belum menikmati rezekinya, tetapi tenaganya sudah lebih dulu disedekahkan.
๐๐ข๐ด๐บ๐ข ๐๐ญ๐ญ๐ข๐ฉ. Di tengah sulitnya mencari solar, ternyata mencari orang baik masih jauh lebih mudah.
Para sopir truk berdatangan tanpa dikomando, spontan mengulurkan tangan. Belum sempat bertanya asal kampung, apalagi pilihan politik, mereka sudah lebih dulu menyumbangkan tenaga.
Melihat pemandangan itu, saya yang kebetulan antre tepat di belakang truk ikut turun tangan. Maklum, sesama anak cucu Adam, sama-sama korban panjangnya antrean BBM.
Dalam sekejap suasana berubah heboh. Para sopir memasang kuda-kuda lalu serempak mendorong truk dengan wajah kepayahan. Badannya kelihatan ๐ญ๐ฐ๐บ๐ฐ๐ฏ๐ช๐ด๐ข๐ด๐ช, persis belum bersentuhan dengan sepiring nasi selama dua hari.
Kalau mereka mendorong dengan dua tangan, saya cukup satu. Satu telapak saya tempelkan di bodi truk sebagai bukti ikut gotong royong, sementara tangan satunya sigap memegang ponsel. Jangan sampai pahala lewat, konten juga hilang.
Bahkan judul fotonya sudah saya siapkan: โ ๐๐ฆ๐ฅ๐ข๐ฏ๐จ ๐๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ฐ๐ณ๐ฐ๐ฏ๐จ ๐๐ณ๐ฐ๐ฏ๐ต๐ฐ๐ฏ ๐๐ฐ๐จ๐ฐ๐ฌ. ๐๐ฐ๐ฉ๐ฐ๐ฏ ๐๐ฐ๐ข๐ฏ๐บ๐ข.โ
Beginilah penyakit zaman sekarang.
Ada orang tenggelam di kolam, sebagian malah lebih sibuk menyelamatkan kamera tuk memotretnya daripada manusianya.
๐๐ขโ๐ด๐ฆ๐ญ๐ง๐ช๐ฆ-๐ด๐ฆ๐ญ๐ง๐ช๐ฆ kadang lebih cepat daripada saling tolong-menolong.
Hasilnya mudah ditebak. Truk itu cuma bergeser sekitar dua sentimeter, lalu berhenti lagi. Sopirnya kembali melambai-lambai meminta bala bantuan.
Saya pun ikut berteriak, โ ๐๐ฐ๐ญ๐ฐ๐ฏ๐จ ๐ฑ๐ข๐ฌ ๐ด๐ฐ๐ฑ๐ช๐ณ, ๐ฃ๐ข๐ฏ๐ต๐ถ ๐ฅ๐ฐ๐ณ๐ฐ๐ฏ๐จ!โ
Ajaibnya, teriakan itu langsung mengundang peleton sopir lain berdatangan.
Di sebelah saya, seorang sopir mendorong dengan energi ala tenaga dalam. Mukanya memerah, napasnya memburu tanpa pakai baju, sampai akhirnya sukses ๐ฎ๐ฆ๐ต๐ต๐ถโ ๐ญ๐ฆ๐ฎ๐ฐ, ๐ฎ๐ข๐ฃ๐ฃ๐ข๐ถ ๐ฌ๐ฐ๐ฏ๐ซ๐ช.
Suara kentutnya persis knalpot racing bocor saat dipaksa menanjak di Sumpang Labbu.
๐๐ญ๐ฉ๐ข๐ฎ๐ฅ๐ถ๐ญ๐ช๐ญ๐ญ๐ข๐ฉ, truk itu akhirnya bergeser. Begitu mesinnya menyala, sopirnya langsung melambai kegirangan. Wajahnya berbinar seperti penumpang Kapal Kerinci melambai-lambai tangannya meninggalkan Pelabuhan Awerange menuju Samarinda.
Melihat pemandangan itu, saya ikut tersenyum. Di tengah langkanya solar dan panjangnya antrean, ternyata stok solidaritas rakyat kecil masih full tank. Barangkali itulah satu-satunya โenergiโ yang sampai hari ini belum pernah mengalami kelangkaan.
๐๐ญ๐ข ๐ฌ๐ถ๐ญ๐ญ๐ช ๐ฉ๐ข๐ญ, akhirnya tibalah giliran saya. Mobil perlahan saya merapatkan ke dekat selang pengisian, persis di belakang truk yang baru saja mogok tadi.
Baru saja napas mulai teratur karena kupon arisan solar sudah naik, tiba-tiba seorang operator SPBU berseragam merah lengan pendek berjalan lurus ke arah mobil saya.
Jantung saya langsung ๐ฅ๐ถ๐ฎ๐ฃ๐ขโ-๐ฅ๐ถ๐ฎ๐ฃ๐ขโ. Degupnya lebih kencang daripada sound system kampanye pemilu 2024 lalu.
Membayangkan kalimat, โ ๐๐ฐ๐ญ๐ข๐ณ ๐ฉ๐ข๐ฃ๐ช๐ด, ๐๐ข๐ฌ!โ di Maros kemarin subuh mendadak berkelebat lagi. ๐๐ข๐ต๐ฆ ๐ฎ๐ช ๐ซ๐ขโ, ๐ค๐ข๐ฑ๐ฑ๐ถโ๐ด๐ช ๐ฌ๐ข๐ฑ๐ข๐ฏ๐จ. ๐๐ข๐ฏ๐ณ๐ข๐ด๐ข ๐ต๐ฐ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ฏ๐จ ๐ฏ๐ช ๐ช๐บ๐ฆ!
Jangan-jangan takdir saya hari ini memang cuma mengoleksi antrean, bukan mengoleksi solar.
Petugas SPBU itu mengetuk kaca mobil. Dengan wajah datar ia berkata pelan, โ ๐๐ถ๐ฌ๐ข ๐ต๐ถ๐ต๐ถ๐ฑ ๐ต๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ช๐ฏ๐บ๐ข, ๐๐ข๐ฌโฆ ๐ฎ๐ข๐ถ ๐ช๐ด๐ช ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฑ๐ข?โ
๐๐ฏ๐จ ๐๐ฏ๐จ ๐๐ฐ๐ฐ๐ฐ๐ฏ๐จ๐จโฆ!
Rasanya seperti terpidana yang sudah pasrah menunggu vonis, ehโฆ hakim malah berkata, โ ๐๐ฆ๐ณ๐ฅ๐ข๐ฌ๐ธ๐ข ๐ฅ๐ช๐ฏ๐บ๐ข๐ต๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ฃ๐ข๐ด.โ
Napas yang tadi tercekat langsung kembali ke habitatnya.
Hampir saja saya sujud syukur di samping dispenser SPBU.
Sedikit lagi saya bacakan Surah Luqman, ditambah amalan โpertolongan saat kesulitanโ warisan nenek Tenri. Untung saya masih ingat sedang berada di SPBU, bukan di mushalla.
Ternyata petugas hanya ingin memastikan barcode dan posisi kendaraan terbaca sistem GPS.
Tidak ada drama kehabisan solar. Drama hari ini cukup dimainkan oleh jantung saya sendiri.
Mengisi BBM sekarang memang bukan lagi sekadar membuka tutup tangki. Rasanya seperti mengurus administrasi keberangkatan haji. Barcode dipindai, nomor polisi dicocokkan, lokasi kendaraan dipastikan. ๐๐ฆ๐ณ๐ญ๐ฆ๐ต๐ฆ-๐ญ๐ฆ๐ต๐ฆโฆ eh, bertele-tele.
Kadang saya curiga, jangan-jangan yang mau diisi bukan tangki mobil, melainkan data kependudukan.
Kalau begini terus, aturan berikutnya mungkin lebih canggih lagi. Nama di STNK harus sama dengan pengemudi. Wajah wajib cocok dengan foto KTP. Kendaraan pun diminta tersenyum ke kamera sebelum nozzle boleh dimasukkan. Kalau senyumnya kurang meyakinkan, silakan mengantre lagi dari belakang.
Saya membayangkan bagaimana kalau sistem barcode dan GPS itu bukan cuma mengawasi tangki kendaraan, tetapi juga perut orang Indonesia. Wahโฆ negeri ini pasti jauh lebih heboh daripada final Piala Dunia.
Bayangkan, setiap orang dijatah makan tiga piring sehari. Begitu ada yang nekat mengambil piring keempat di warung mana pun, sirene langsung meraung. Lampu merah berkedip. Operator warung berdiri sambil berteriak melalui pengeras suara, โPerhatianโฆ pelanggan atas nama ๐๐ฎ๐ฃ๐ฐโ ๐๐ถ๐ฌ๐ฌ๐ข ๐๐ญ๐ถ terdeteksi melakukan pengisian nasi melebihi kuota harian!โ
Layar monitor langsung menampilkan foto ๐๐ฎ๐ฃ๐ฐโ ๐๐ถ๐ฌ๐ฌ๐ข ๐๐ญ๐ถ lengkap dengan nomor KTP, alamat rumah, bahkan menu kepala kambing favoritnya.
Seluruh pengunjung serentak menoleh. Yang bersangkutan cuma bisa menunduk sambil pura-pura mengaduk es teh. ๐๐ช๐ณ๐ชโ-๐ด๐ช๐ณ๐ชโ ๐ฆ ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข!
Beginilah uniknya urusan antre BBM. Selalu saja ada cerita yang tidak diajarkan di sekolah, tetapi lulus dengan predikat ๐ค๐ถ๐ฎ๐ญ๐ข๐ถ๐ฅ๐ฆ di jalan raya.
Saya teringat pengalaman di Makale, Tana Toraja. Waktu itu sekitar pukul dua dini hari saat hendak membawakan materi manasik haji. Jarum indikator BBM sudah berada di fase sakaratul maut. Lampunya berkedip lirih, seolah sedang membaca talqin untuk dirinya sendiri.
Untunglah, mobil paling depan dalam antrean ternyata ditinggal sopirnya tidur pulas sejak semalam. Entah sedang bermimpi menemukan sumur Pertalite atau mungkin sudah berkhayal menjadi komisaris kilang minyak.
Dari belakang, bunyi klakson bersahut-sahutan memekakkan telinga. Sopirnya tetap tidak bangun di mushalla SPBU. Tidurnya begitu khusyuk, mungkin kalau dibangunkan pakai toa masjid pun masih sempat bilang, โ ๐๐ช๐ฎ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ช๐ต ๐ญ๐ข๐จ๐ชโฆโ
Melihat peluang emas itu, saya segera meminta izin kepada petugas SPBU untuk menyelip ke posisi terdepan. Modal saya cuma satu: wajah paling melas yang pernah saya miliki. Kalau almarhum Benyamin S. masih hidup, mungkin beliau rela menyerahkan piala akting kepada saya.
Puji syukur, jurus melas bin iba itu berhasil. Hari itu saya masuk Tanah Leluhur Makale membawa tangki penuh, lengkap dengan rasa syukur dan sedikit rasa bersalah kepada sopir yang masih terlelap. Untung saja beliau bangun setelah saya selesai mengisi, kalau tidak, mungkin saya yang diminta mendorong mobilnya sekalian.
Namun pengalaman-pengalaman seperti itu menyisakan satu pertanyaan besar. Mengapa membeli BBM sekarang terasa seperti berburu benda langka?
Pertalite makin sulit dijumpai, solar makin susah didapat, Pertamax membuat dompet pura-pura tidak kenal pemiliknya, sementara Dexlite sanggup membuat sopir menelan ludah sebelum menekan ๐ฏ๐ฐ๐ป๐ป๐ญ๐ฆ.
Lama-lama publik mulai curiga. Jangan-jangan antrean panjang ini cuma ๐ต๐ณ๐ข๐ช๐ญ๐ฆ๐ณ. Film utamanya nanti: harga naik.
Semoga dugaan itu keliru. Tetapi kalau keadaan terus dibiarkan, jangan salahkan rakyat kalau mulai membuat humor sendiri. Siapa tahu suatu hari nanti lahir varian BBM terbaru. Bukan Pertalite, bukan pula Pertamax, melainkan Pertengkaran.
Khusus dipakai sesama pengantre SPBU. Oktannya 98, emosinya 1.000.
Islam mengajarkan sabar dan tawakal. Namun kesabaran rakyat setebal Fort Rotterdam jangan dijadikan alasan membiarkan antrean BBM menjadi pemandangan abadi.
Bersabar itu pahala, tetapi pelayanan yang baik juga kewajiban.
Kasihan para sopir. Demi beberapa liter solar, kabin truk lebih sering menjadi kamar tidur daripada ruang kemudi. Mereka lebih akrab dengan deru mesin daripada suara anak-anak di rumah.
Rakyat tidak meminta BBM gratis. Sopir hanya ingin mengisi tangki tanpa drama, tanpa waswas, dan tanpa antrean yang terasa seperti ujian hidup.
Bila tangki kendaraan terus dibiarkan kosong, jangan kaget bila yang lebih dulu habis bukan solar di SPBU, melainkan kepercayaan rakyat.
๐๐ ๐๐ฎ๐ฅ๐ข ๐๐๐๐

