Site icon KABARIKA

Hari Persahabatan Sedunia 2026: Menjalin Hati di Tengah Dunia yang Berubah

Amril Taufik Gobel

Amril Taufik Gobel

Oleh Ir. Amril Taufik Gobel, ST,IPU.,ASEAN Eng.

Ketua Bidang Komunikasi dan Informatika IKA Teknik Unhas / Blogger (daengbattala.com)

Dua puluh tiga abad lalu seorang filsuf Yunani menulis satu kalimat yang terasa seperti diagnosis bagi zaman kita: tidak seorang pun memilih hidup tanpa sahabat, sekalipun seluruh kebaikan dunia lain telah tergenggam.

Aristoteles menempatkan persahabatan bukan sebagai hiasan hidup, melainkan sebagai syarat hidup itu sendiri.

Kalimat itu bergema kembali setiap 30 Juli, tanggal yang lahir dari gagasan sederhana seorang dokter Paraguay, Ramón Artemio Bracho, yang pada 1958 menggerakkan sekelompok kawannya di Puerto Pinasco, sebuah pelabuhan kecil di tepi Sungai Paraguay, dan meyakini bahwa kekuatan permusuhan tidak sebanding dengan kekuatan sahabat.

Gerakannya, World Friendship Crusade, berkali-kali mengetuk pintu Perserikatan Bangsa-Bangsa hingga akhirnya Sidang Umum PBB mengesahkan Resolusi A/RES/65/275 pada 27 April 2011 dan meresmikan Hari Persahabatan Sedunia setiap 30 Juli.

Resolusi itu berakar pada Deklarasi Budaya Perdamaian 1997 dan secara khusus menitikberatkan keterlibatan kaum muda sebagai pemimpin masa depan yang mampu merawat keberagaman. Dari sebuah pertemuan kecil di kota kecil, dunia memperoleh satu hari untuk mengingat bahwa perdamaian sering dimulai dari sapaan, bukan dari perjanjian.

Enam puluh delapan tahun setelah pertemuan itu, dunia justru sedang menghitung korban dari kebalikannya. Komisi Koneksi Sosial Organisasi Kesehatan Dunia melaporkan bahwa satu dari enam penduduk bumi mengalami kesepian, kondisi yang berkaitan dengan lebih dari 871.000 kematian setiap tahun atau sekitar seratus nyawa per jam, dengan 17 hingga 21 persen penduduk berusia 13 sampai 29 tahun mengaku kesepian dan sekitar 24 persen warga negara berpendapatan rendah merasakan hal yang sama, dua kali lipat angka di negara berpendapatan tinggi.

Angka itu menempatkan keterputusan sosial sejajar dengan tembakau dan obesitas sebagai ancaman kesehatan publik, sebab kesepian meningkatkan risiko penyakit jantung, diabetes tipe dua, depresi, penurunan fungsi kognitif, hingga kematian dini.

Yang paling memilukan, temuan itu tidak menunjuk kaum lanjut usia sebagai satu-satunya kelompok rapuh. Justru anak muda dan warga negara miskin memikul beban paling berat, karena kesempitan ekonomi mempersempit ruang perjumpaan dan memaksa orang berpindah meninggalkan jaringan sosialnya.

Indonesia berdiri tepat di tengah paradoks itu. Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia mencatat penetrasi internet nasional pada 2026 mencapai 81,72 persen atau 235,26 juta jiwa dari 287,3 juta penduduk, dengan alasan pemakaian terbesar berupa komunikasi dan jejaring sosial sebanyak 19,9 persen, serta penetrasi tertinggi pada kelompok milenial 90,34 persen dan Gen Z 89,02 persen.

Sebagai praktisi media sosial saya menyaksikan sendiri betapa mudah kita mengumpulkan seribu pengikut dan betapa sulit menemukan satu orang yang bisa dihubungi pukul dua pagi.

Survei kesehatan mental remaja nasional pertama, I-NAMHS, menemukan satu dari tiga remaja Indonesia menanggung setidaknya satu masalah kesehatan mental, sekitar 15,5 juta jiwa, sedangkan hanya 2,6 persen di antaranya pernah mengakses layanan konseling. Kita generasi paling terhubung sepanjang sejarah, sekaligus generasi yang paling jarang bertamu.

Tekanan ekonomi memperberat semuanya, meski permukaannya tampak cerah. Bank Indonesia mencatat ekonomi nasional tumbuh 5,61 persen pada triwulan pertama 2026, ditopang konsumsi rumah tangga 5,52 persen dan konsumsi pemerintah 21,81 persen, dengan proyeksi pertumbuhan sepanjang 2026 pada kisaran 4,9 sampai 5,7 persen.

Namun angka gagah itu berjalan bersama sinyal yang perlu dibaca jujur: nilai tukar rupiah melemah ke kisaran Rp17.346 per dolar Amerika pada akhir April 2026 dan indeks harga saham gabungan tergerus sekitar 19,55 persen sejak awal tahun.

Di pasar kerja, tingkat pengangguran terbuka Februari 2026 tercatat 4,68 persen dari angkatan kerja 154,91 juta orang, rata-rata upah buruh Rp3,29 juta per bulan, sementara pertanian tetap menjadi bantalan terbesar dengan menyerap 42,49 juta pekerja atau 28,78 persen.

Ilustrasi Hari Persahabatan Sedunia (sumber ChatGPT Image)

Di balik desimal itu tersimpan cerita yang jarang masuk laporan: anak muda yang menolak undangan reuni karena malu belum bekerja, ayah yang memilih pulang lewat gang sepi agar tidak ditanya kabar, ibu yang berhenti ikut pengajian karena tidak sanggup menyumbang. Kemiskinan waktu dan kemiskinan uang bekerja bersama, lalu memutus benang-benang halus yang selama ini menahan kita.

Tantangan ke depan karena itu bersifat ganda. Pertama, ekonomi yang serba tidak pasti mendorong orang bekerja lebih panjang, berpindah kota, dan menukar perjumpaan dengan layar.

Kedua, ruang digital yang seharusnya mendekatkan justru kerap melukai, sebab algoritma memberi upah tertinggi pada pamer dan perbandingan. Kepercayaan sosial pun terkikis ketika penipuan online dialami 13,6 persen pengguna dan pencurian data menimpa 7,8 persen. Sekali seseorang belajar mencurigai setiap pesan masuk, ia juga perlahan belajar mencurigai setiap orang.

Kabar baiknya, Indonesia memegang modal yang tidak dimiliki banyak negara kaya. Laporan World Giving Report 2025 memang menurunkan peringkat kita ke urutan dua puluh satu, namun rata-rata sumbangan warga Indonesia setara 1,55 persen pendapatan, jauh di atas rata-rata dunia 1,04 persen, dan lebih tinggi daripada Malaysia, Singapura, serta Thailand.

Gotong royong belum mati, ia hanya kehilangan panggung. Karena itu solusinya perlu bersifat sistematis, bukan seremonial. Puskesmas dan posyandu bisa menambahkan dua pertanyaan sederhana tentang rasa kesepian dan jumlah orang yang bisa dimintai tolong ke dalam layanan pemeriksaan kesehatan yang kini menjangkau puluhan juta warga, sehingga kesehatan sosial diukur sama seriusnya dengan tekanan darah.

Sekolah dapat mengajarkan keterampilan berkawan secara eksplisit, mulai dari cara meminta bantuan sampai cara menemani kawan yang sedang jatuh, sebab komisi WHO menempatkan pelatihan semacam ini sebagai intervensi pencegahan yang paling luas manfaatnya.

Rukun tetangga, masjid, gereja, pura, banjar, dan karang taruna layak memperoleh dana kecil namun rutin untuk menghidupkan kembali kegiatan bersama yang tidak menuntut biaya, karena persahabatan tumbuh dari pengulangan, bukan dari acara besar sekali setahun.

Dunia usaha memegang kunci yang sama pentingnya. Perusahaan yang memberi ruang istirahat bersama, jam kerja manusiawi, dan izin bagi pekerjanya menghadiri hajatan tetangga sedang berinvestasi pada produktivitas, bukan mengorbankannya.

Pemerintah daerah bisa merancang kota yang membuat orang bertemu tanpa harus berbelanja: trotoar layak, taman lingkungan, perpustakaan kelurahan, lapangan yang terang pada malam hari. Kita yang bekerja di media sosial memikul tanggung jawab paling langsung, yaitu berhenti memproduksi kecemasan dan mulai memproduksi undangan.

Satu unggahan yang mengajak orang menelepon kawan lama selama tiga menit lebih berharga daripada seribu tayangan yang membuat penonton merasa hidupnya kurang.

Bagi setiap pribadi, resepnya bahkan tidak membutuhkan anggaran: kirim satu pesan tanpa maksud tersembunyi, tanyakan kabar seorang kawan yang sudah lama diam, terima ajakan makan meski sedang lelah, dan pulang lebih awal satu hari dalam sepekan untuk duduk bersama keluarga.

Peringatan 30 Juli tahun ini sebaiknya kita perlakukan bukan sebagai perayaan nostalgia, melainkan sebagai resep kesehatan masyarakat yang murah, aman, dan terbukti. Sebuah bangsa yang mampu menumbuhkan ekonominya 5,61 persen tentu mampu pula memastikan tidak seorang pun warganya makan sendirian tanpa pilihan.

Persahabatan tidak menghapus utang, tidak menguatkan rupiah, dan tidak menciptakan lapangan kerja dalam semalam. Ia melakukan hal lain yang tidak kalah menentukan: memastikan seseorang bertahan cukup lama untuk melihat keadaan membaik.

Mari mulai hari ini dari yang paling sederhana, seperti pesan seorang perempuan kecil dari Kalkuta ketika menerima Nobel Perdamaian, bahwa senyum adalah awal dari cinta.

Exit mobile version