Oleh: Munawir Kamaluddin
Di tengah kehidupan yang semakin bising, manusia sesungguhnya tidak sedang kekurangan ilmu, harta, atau teknologi. Yang hilang adalah ketenangan hati. Padahal, hati tidak pernah menjadi damai karena banyaknya dunia, tetapi karena banyaknya mengingat Allah. Dzikir bukan sekadar untaian kata di bibir, melainkan cahaya yang menghidupkan jiwa dan jembatan yang menghubungkan seorang hamba dengan Rabb-nya. Karena itu, Al-Faqih Abu al-Laits as-Samarqandi rahimahullah berpesan, siapa yang menjaga tujuh kalimat ini akan dimuliakan Allah, diampuni dosa-dosanya, merasakan manisnya ketaatan, serta memperoleh kebaikan dalam hidup dan kematiannya.
قال الفقيه أبي الليث رحمه الله تعالى: مَنْ حَفِظَ سَبْعَ كَلِماَتٍ فَهُوَ شَرِيْفٌ عِنْدَ اللهِ تَعَالَى وَالْمَلَائِكَةِ وَيَغْفِرُ اللهُ ذُنُوْبَهُ وَلَوْ كَانَتْ مِثْلُ زَبَدِ الْبَحْرِ وَيَجِدُ حَلَاوَةَ الطَّاعَةِ وَيَكُونُ حَيَاتُهُ وَمَمَاتُهُ خَيْرًا
“Al-Faqih Abil Laits rahimahullahu ta’ala berkata: ‘Barangsiapa yang menghafal tujuh (7) kalimat, maka dia dimuliakan oleh Allah Ta’ala dan para malaikat. Allah akan mengampuni dosanya meskipun sebanyak buih di lautan dan dia akan menemukan manisnya ketaatan, serta hidup dan matinya akan dalam keadaan baik’.” (Muhammad Nawawi bin Umar Al-Bantani, Nashaihul Ibad, halaman 33)
Tujuh kalimat itu sesungguhnya adalah pedoman hidup seorang mukmin. بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ mengajarkan kita memulai segala urusan dengan mengharap keberkahan Allah, الْحَمْدُ لِلَّهِ mendidik hati agar selalu bersyukur dalam setiap keadaan, أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ membersihkan jiwa dari noda dosa, إِنْ شَاءَ اللَّهُ menanamkan kesadaran bahwa manusia hanya mampu berikhtiar, sedangkan Allah-lah yang menentukan, لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ menguatkan hati ketika menghadapi kesulitan, إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ melapangkan dada saat menerima musibah, dan لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ menjadi puncak tauhid yang membebaskan manusia dari penghambaan kepada selain Allah.
Ketujuh kalimat ini bukan sekadar wirid untuk dihafal, tetapi nilai-nilai yang harus dihidupkan. Basmalah mengawali langkah, Hamdalah menyempurnakan nikmat, Istighfar menghapus dosa, Insya Allah meluruskan niat, Hauqalah menguatkan harapan, Tarji’ menenangkan jiwa, dan Kalimat Tauhid menuntun seluruh arah kehidupan. Bila lisan senantiasa basah oleh dzikir dan hati menghayati maknanya, hidup akan terasa lebih ringan, musibah lebih mudah diterima, nikmat lebih disyukuri, dan ibadah menjadi sumber kebahagiaan. Sebab, kebahagiaan sejati bukanlah ketika dunia berada dalam genggaman, melainkan ketika Allah selalu hadir di dalam hati.
#Wallahu A’lam Bishawab🙏

