Site icon KABARIKA

Ketika Sawah Diuji Musim: Menakar Jalan Menuju 34,77 Juta Ton Beras Indonesia

Oleh: Muliadi Saleh
Esais Reflektif | Arsitek Kesadaran

Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan lompatan yang menggembirakan. Produksi beras Indonesia meningkat dari 30,62 juta ton pada 2024 menjadi sekitar 34,69 juta ton pada 2025, atau naik sekitar 13,29 persen. Kenaikan itu didukung oleh meluasnya areal panen dari 10,05 juta hektare menjadi sekitar 11,32 juta hektare. Capaian tersebut menjadi penanda bahwa Indonesia sedang menapaki jalan menuju kedaulatan pangan yang semakin kokoh.

Kini, pemerintah melalui Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menargetkan produksi beras tahun 2026 mencapai 34,77 juta ton. Selisihnya memang tidak besar dibanding capaian tahun sebelumnya. Namun, mempertahankan keberhasilan sering kali lebih sulit daripada meraihnya.

Strategi yang ditempuh pemerintah cukup jelas: percepatan cetak sawah baru, optimalisasi lahan, serta penguatan jaringan irigasi. Program-program tersebut bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan investasi peradaban pangan.

Sawah baru berarti ruang hidup baru bagi pangan nasional. Optimalisasi lahan berarti menghidupkan kembali tanah yang selama ini belum produktif. Sementara irigasi adalah nadi yang memastikan kehidupan terus mengalir hingga ke akar tanaman.

Seluruh upaya tersebut tentu tak lepas dari tantangan alam. Prediksi musim kemarau yang lebih kering meningkatkan risiko berkurangnya pasokan air, terutama di lahan tadah hujan. Ancaman hama seperti wereng, tikus, walang sangit, dan penggerek batang juga berpotensi meningkat ketika kondisi lingkungan semakin kering. Tanah yang kehilangan kelembapan membuat pupuk tidak bekerja optimal karena unsur hara sulit terlarut dan diserap akar tanaman.

Swasembada sesungguhnya juga  dibangun melalui kemampuan beradaptasi terhadap perubahan iklim. Teknologi irigasi hemat air, penggunaan varietas tahan kekeringan, sistem peringatan dini terhadap serangan organisme pengganggu tanaman, hingga penguatan penyuluhan pertanian harus berjalan beriringan.

Pertanian masa depan bukan sekadar menanam, melainkan mengelola risiko dengan ilmu pengetahuan.
Meski demikian, harapan tetap terbuka.

Proyeksi BPS menunjukkan potensi produksi beras Januari–Agustus 2026 telah mencapai sekitar 25,28 juta ton. Artinya, masih tersedia empat bulan yang sangat menentukan. Jika pengelolaan air, pengendalian hama, distribusi pupuk, dan semangat gotong royong petani dapat dijaga, target 34,77 juta ton bukanlah sesuatu yang mustahil.

Dalam perspektif spiritualitas sufistik, tanah mengajarkan kerendahan hati. Ia menerima pijakan siapa pun, tetapi hanya memberi hasil kepada mereka yang bersungguh-sungguh merawatnya.
Air mengajarkan kasih sayang karena menghidupkan tanpa memilih. Matahari mengajarkan ketekunan karena terus menyinari tanpa lelah.

Maka bertani sesungguhnya bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan latihan spiritual untuk memahami bahwa rezeki adalah buah dari ikhtiar dan kesungguhan yang dipadukan dengan tawakal.

Bangsa yang mampu menjaga sawahnya sejatinya sedang menjaga martabatnya. Sebab pangan bukan hanya soal mengenyangkan perut, tetapi juga menjaga kedaulatan, stabilitas, dan masa depan generasi.

*Tulisan ini terinspirasi dari data dan informasi yang disusun oleh Tonny Saritua Purba, Pengurus BPP PISPI dan Pengurus DPP HA IPB, yang menjadi rujukan penting dalam memahami dinamika target produksi beras nasional tahun 2026.
__________
Muliadi Saleh: “Menulis Makna, Membangun Peradaban.”

Exit mobile version