Oleh: ๐บ๐๐ ๐ฒ๐๐๐๐๐
Malam tadi, sepulang dari resepsi pernikahan H. Ilo di Hotel Claro, perjalanan saya dari A.P. Pettarani menuju Urip Sumoharjo mendadak tersendat.
Tepat pukul 21.48 WITA, begitu saya belok di bawah jembatan flyover dari A.P. Pettarani, saya sudah melihat lidah api di kejauhan. Kebakaran di Mal Nipah melalap lantai 3 dan 4, namun dikonfirmasi tidak ada korban jiwa.
Langit Makassar mendadak merah membara. Di depan mata, malam berubah menjadi panggung tragedi: api menari liar, asap menggumpal, sirene meraung, warga berhamburan. Saya menyaksikan pemandangan itu dengan dada mempung-mempung dan dumbaโ-dumbaโ (berdebar).
Namun, di tengah kepanikan, ada pemandangan lain yang justru membuat hati ikut terbakar. Bukan cuma gedung yang terbakar, empati pun seperti ikut dilalap api.
Ribuan penonton memadati sekitar lokasiโsebagian besar hanya menonton, atau berubah menjadi wartawan dadakan, kamerawan tanpa redaksi, sekaligus presenter tanpa studio.
Kamera terangkat, lampu kilat menyala, ๐ญ๐ช๐ท๐ฆ ๐ด๐ต๐ณ๐ฆ๐ข๐ฎ๐ช๐ฏ๐จ berjalan. Api sedang mencari apa yang bisa dibakar, manusia sibuk mencari apa yang bisa di- ๐ถ๐ฑ๐ญ๐ฐ๐ข๐ฅ.
Di tengah musibah, ๐ข๐ฏ๐จ๐ญ๐ฆ pengambilan gambar lebih dipikirkan daripada memberi akses jalan. ๐๐ช๐ฆ๐ธ๐ฆ๐ณ๐ด lebih diperhatikan daripada keselamatan sesama. Ada yang seolah merasa tragedi belum lengkap kalau belum masuk ๐ด๐ต๐ฐ๐ณ๐บ.
Ironis, armada pemadam meraung meminta jalan, tetapi dinding manusia justru sibuk mengabadikan api daripada memberi ruang.
Mobil pemadam membutuhkan jalan, kamera membutuhkan posisi; sayangnya, posisi kamera kadang lebih cepat ditemukan daripada posisi empati.
Akhirnya, 18 unit mobil pemadam dikerahkan dan api berhasil dikuasai penuh sekitar pukul 22.35 WITA. Penanganan cepat ini berkat kesigapan pengelola Gedung Nipah bersama tim Damkarmat Makassar.
Sang pawang api alias petugas damkar membuktikan kembali komitmen mereka dengan moto โPantang Pulang Sebelum Padamโ.
Mereka bertaruh nyawa di tengah kepungan asap pekat. Keberanian para petugas ini patut diacungi jempol.
Malam itu saya seperti menyaksikan dua kebakaran sekaligus: satu melahap bangunan, satu lagi menghanguskan kepedulian.
Api di Nipah akhirnya berhasil dipadamkan petugas, tetapi jika empati masyarakat terus terbakar, siapa yang akan memadamkannya?
Rasulullah SAW mengingatkan bahwa sesama mukmin ibarat satu tubuhโketika satu bagian sakit, bagian lain ikut merasakan. Maka ketika musibah datang, pertanyaan kita semestinya sederhana: โApa yang bisa saya bantu?โ Bukan: โSudah berapa ๐ท๐ช๐ฆ๐ธ?โ
Saya pulang membawa satu kesimpulan: api bisa padam, video bisa tenggelam di ๐ง๐ฆ๐ฆ๐ฅ, tetapi sikap kita ketika menyaksikan penderitaan orang lain akan selalu menjadi cerminโmasihkah manusia di dalam diri kita menyala, atau justru sudah ikut terbakar?
๐๐ ๐๐ ๐ฎ๐ฌ๐ญ๐ฎ๐ฌ ๐๐๐๐

