Site icon KABARIKA

Dari Sawah Untuk Merah Putih (Ketahanan Pangan sebagai Bentuk Patriotisme Baru)

Oleh: Muliadi Saleh
Esais Reflektif | Arsitek Kesadaran

Dahulu, para pahlawan mengangkat senjata untuk mempertahankan tanah air. Hari ini, patriotisme dapat menemukan wajah barunya di hamparan sawah. Ada petani yang menanam padi, penyuluh yang mendampingi, teknisi yang memperbaiki irigasi, peneliti yang menemukan benih unggul, dan negara yang memastikan air, pupuk, teknologi serta kebijakan hadir di tengah petani.

Hal tersebut selaras dengan apa yang sering disampaikan  Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang patut direnungkan dalam-dalam: apa yang kita kerjakan dan generasi hari ini belum seberapa dibandingkan perjuangan para pahlawan yang mempertaruhkan hidup demi Merah Putih.

Kalimat heroik  itu seharusnya mengalir jauh ke  ke sawah, ke desa, ke tangan petani, dan ke meja makan setiap keluarga Indonesia. Sebab setelah kemerdekaan direbut dengan darah, kemerdekaan harus dipelihara dengan perjuangan mempertahankan kedaulatan  pangan.

BPS merilisnya dalam Berita Resmi Statistik tanggal 2 Februari 2026, dengan judul “Luas Panen dan Produksi Padi di Indonesia 2025 (Angka Tetap)”, menunjukkan, luas panen padi Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 11,32 juta hektare, meningkat 12,69 persen dibandingkan 2024. Produksi padi mencapai 60,21 juta ton gabah kering giling (GKG), naik 13,29 persen. Jika dikonversikan menjadi beras, produksi untuk konsumsi pangan penduduk mencapai 34,69 juta ton, juga meningkat 13,29 persen dibandingkan 2024.
Angka-angka itu bukan sekadar statistik. Di balik setiap ton gabah ada telapak kaki yang menginjak lumpur, keringat yang jatuh di bawah matahari, dan doa yang diam-diam dipanjatkan di pematang.

Bahkan Sulawesi Selatan—salah satu lumbung pangan nasional—pada 2025 mencatat luas panen sekitar 1,04 juta hektare dengan produksi 5,47 juta ton GKG, meningkat 13,45 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Produksi berasnya mencapai sekitar 3,14 juta ton.

Karena itu, swasembada pangan tidak boleh dipahami sekadar sebagai kemampuan menghasilkan beras lebih banyak. Ia adalah kemampuan bangsa untuk berdiri di atas kakinya sendiri. Kementerian Pertanian mencatat produksi beras 2025 mencapai sekitar 34,69 juta ton, sementara cadangan beras pemerintah pada 2026 bahkan telah menembus lebih dari lima juta ton.

Tetapi ada sesuatu yang juga tak kalah penting daripada capaian lewat angka statistik.
Pengetahuan.
Di desa-desa Indonesia tersimpan perpustakaan yang tidak selalu memiliki rak dan buku. Namanya adalah pengalaman. Ia hidup dalam ingatan petani: kapan tanah harus dibajak, membaca tanda-tanda hujan, memilih benih, menjaga sumber air, memahami musim, mengenali hama, hingga merawat keseimbangan alam.

Itulah indigenous knowledge—pengetahuan yang tumbuh dari kedekatan manusia dengan tanah dan alam, diwariskan dari generasi ke generasi. Modernisasi pertanian tidak seharusnya memusnahkannya. Teknologi mestinya datang bukan untuk menggantikan pengetahuan petani, melainkan memperkuatnya.

Sebab petani sesungguhnya adalah guru kehidupan.
Ia mengajarkan bahwa hasil tidak pernah lahir dalam sehari. Benih harus ditanam, dirawat, menunggu musim, menghadapi ancaman, lalu dipanen dengan penuh syukur. Sawah mengajarkan kesabaran yang tidak bisa diajarkan oleh layar digital.

Maka perjuangan menuju swasembada Indonesia sesungguhnya adalah perjuangan menjaga kemerdekaan dalam bentuk yang baru. Kita mungkin tidak lagi berperang dengan senjata, tetapi kita menghadapi ketergantungan, perubahan iklim, krisis air, degradasi tanah, alih fungsi lahan, dan ancaman rantai pasok pangan global.

Di situlah Merah Putih menemukan maknanya yang lain.

Merah adalah keberanian untuk berjuang. Putih adalah ketulusan untuk mengabdi. Dan sawah adalah tempat keduanya bertemu.

Kemerdekaan tidak hanya dikibarkan di tiang bendera. Ia juga tumbuh dari benih yang ditanam petani.

Karena itu, setiap butir nasi seharusnya mengandung kesadaran: ada tanah yang dijaga, air yang dialirkan, pengetahuan yang diwariskan, dan manusia yang bekerja agar bangsa ini tetap makan.

Maka ketika tangan petani menanam benih, sesungguhnya ia sedang menanam harapan. Ketika bangsa menjaga sawah, sesungguhnya bangsa sedang menjaga masa depan. Dan ketika Indonesia mampu memenuhi pangannya sendiri, sesungguhnya kita sedang merawat kemerdekaan agar tidak kembali menjadi ketergantungan.

Dari sawah untuk Merah Putih.
Inilah patriotisme baru: bekerja dalam diam, menanam tanpa banyak bicara, menjaga tanah, menghormati air, merawat pengetahuan, memuliakan petani, dan memastikan anak-anak negeri tidak pernah kehilangan hak paling dasar—hak untuk makan dari tanah airnya sendiri.

Dalam pandangan sufistik, manusia hanyalah penjaga amanah. Tanah bukan milik mutlak manusia; ia titipan Tuhan. Air bukan sekadar sumber produksi; ia rahmat. Benih bukan sekadar komoditas; ia adalah kehidupan yang dipercayakan untuk ditumbuhkan.

Para pahlawan telah mewariskan kemerdekaan.
Tugas generasi hari ini adalah mengisinya dengan kemandirian. (*)
__________
Muliadi Saleh: “Menulis Makna, Membangun Peradaban”.

Exit mobile version