Site icon KABARIKA

Menikam Masa Depan dengan Belati Masa Lalu

Penulis: Muliadi Saleh : Esais Reflektif | Arsitek Kesadaran

Ada manusia yang bekerja sejak matahari belum sepenuhnya terbit, lalu pulang ketika malam telah kehilangan suaranya. Ia mengejar uang dengan tubuh yang perlahan kehilangan tenaga, menukar waktu tidur dengan pekerjaan, menunda makan, mengabaikan olahraga, dan berkata kepada dirinya sendiri: “Nanti kalau sudah cukup, saya akan beristirahat.” Tetapi hidup sering menghadirkan ironi: ketika uang akhirnya terkumpul, tubuh justru menagih seluruh utang yang pernah diabaikan.

Begitulah sebagian manusia menjalani kehidupan. Mengorbankan kesehatan demi uang, lalu menghabiskan uang demi kesehatan. Menikam masa depan dengan belati masa lalu, sementara masa kini dibiarkan berlalu tanpa sempat dinikmati. Yang dikejar adalah sesuatu yang belum tentu datang, sedangkan sesuatu yang sedang dimiliki—kesehatan, waktu, keluarga, ketenangan—sering dianggap biasa.

Menarik juga direnungkan bahwa kualitas hidup manusia tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan ekonomi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Pembangunan Manusia Indonesia 2025 mencapai 75,90, naik dari 75,02 pada 2024. Angka itu  menggambarkan bahwa pembangunan manusia harus dibaca sebagai kesatuan antara umur panjang dan hidup sehat, pendidikan, serta standar hidup layak; umur harapan hidup saat lahir pada 2025 mencapai 74,47 tahun.

Angka-angka tersebut seharusnya tidak hanya dibaca sebagai statistik pembangunan. Di balik angka 74,47 tahun itu ada manusia yang ingin hidup lebih lama bersama orang-orang yang dicintainya; ada orang tua yang ingin melihat anaknya tumbuh; ada seseorang yang ingin menikmati pagi tanpa terburu-buru dan malam tanpa kecemasan. Karena itu, pertanyaan penting bukan hanya berapa banyak uang yang berhasil dikumpulkan, tetapi berapa banyak kehidupan yang masih mampu dinikmati dengan sehat dan bermakna?

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan bahwa penyakit tidak menular seperti penyakit kardiovaskular, kanker, penyakit pernapasan kronis, dan diabetes merupakan penyakit jangka panjang yang sangat dipengaruhi oleh faktor perilaku dan lingkungan. WHO juga menempatkan kurang aktivitas fisik, pola makan tidak sehat, penggunaan tembakau, dan konsumsi alkohol berbahaya sebagai faktor perilaku utama yang berkontribusi terhadap penyakit tidak menular.

Di Indonesia, tantangan itu semakin penting karena WHO pada 2025 mencatat bahwa hipertensi dan diabetes masih menjadi tantangan besar dalam pencapaian cakupan kesehatan universal, terutama karena tingkat deteksi dan pengobatan masih rendah. Maka, menjaga kesehatan sesungguhnya bukan urusan ketika tubuh telah sakit, melainkan investasi sebelum tubuh meminta pembayaran yang jauh lebih mahal.

Mungkin cara berpikir ini yang sering tidak disadari manusia: menganggap kesehatan sebagai modal untuk mencari uang, tetapi lupa bahwa uang sesungguhnya hanyalah salah satu alat untuk menjaga kehidupan. Kita bekerja agar hidup lebih baik, bukan hidup semata-mata untuk bekerja. Jika pekerjaan membuat manusia kehilangan tidur, kehilangan keluarga, kehilangan kesehatan, bahkan kehilangan dirinya sendiri, barangkali yang perlu diperiksa bukan hanya jumlah penghasilannya, tetapi arah kehidupannya.

Kehidupan juga tidak selalu membutuhkan percepatan. Ada saatnya manusia harus berhenti sejenak, menarik napas, berjalan tanpa tujuan ekonomi, duduk bersama keluarga, menikmati secangkir kopi, melihat matahari terbenam, membaca buku, beribadah dengan tenang, atau sekadar mendengarkan suara hati yang terlalu lama ditenggelamkan oleh kebisingan dunia. Berhenti sejenak bukan kemunduran. Jeda adalah cara manusia mengingat untuk apa ia berjalan.

Mungkin kita sering terlalu sibuk memperbaiki masa depan sampai lupa bahwa masa depan dibangun dari hari ini.  Menyesali masa lalu, mengejar hari esok, tetapi gagal hadir sepenuhnya pada hari yang sedang dianugerahkan Tuhan. Padahal hidup tidak pernah berjanji bahwa esok akan selalu tersedia.

Oleh sebab itu kemerdekaan yang paling dalam bukan sekadar bebas dari kekurangan uang, melainkan bebas dari kerakusan yang membuat manusia tidak pernah merasa cukup. Cukup bukan berarti berhenti berusaha, tetapi mengetahui kapan harus bekerja, kapan harus berhenti, kapan harus mengejar, dan kapan harus mensyukuri apa yang telah ada.

Tubuh adalah amanah dan waktu adalah titipan. Manusia tidak diminta memiliki seluruh dunia, tetapi diminta menggunakan apa yang dimilikinya untuk mendekat kepada kebaikan.

Pada akhirnya, yang dibawa pulang bukanlah rekening, rumah, jabatan atau kekuasaan, melainkan amal, kesehatan yang pernah digunakan untuk kebaikan, dan hati yang telah belajar mengenal Tuhannya.

Jangan sampai manusia menjadi kaya setelah kehilangan kesehatan, lalu sehat setelah kehilangan kesempatan menikmati kehidupan.

Jangan menukar hari ini dengan masa depan yang belum tentu datang. Jangan pula menjadikan masa lalu sebagai belati yang terus menikam hari ini. Berhentilah sejenak. Tumakninah dalam hidup. Bernapaslah. Syukuri tubuh yang masih diberi kekuatan.  Waktu yang masih diberikan, dan kehidupan yang masih memungkinkan manusia memperbaiki arah.

Sebab hidup bukan perlombaan untuk sampai paling cepat. Hidup adalah perjalanan untuk sampai dengan kesadaran, kesehatan, kasih sayang, dan makna.
__________
Muliadi Saleh: “Menulis Makna, Membangun Peradaban”.

Exit mobile version