Oleh: ๐๐ช๐ ๐๐๐จ๐ข๐๐ฃ
HARI ini, tepat 17 Agustus, Merah Putih berkibar gagah dari istana sampai ke gang sempit yang lebarnya cuma muat sepeda phoenix jadul.
Kainnya melambai tertiup angin periodik, seolah bangga menaungi bangsa yang sudah delapan dekade lebih merdekaโdan makin jago adu urat di media sosial.
Sungguh puitis: MERAH dan PUTIH menyatu tanpa perang klaim. Sayang, harmoni itu mati di tiang bendera. Tepat di bawahnya, saya melihat realitas telanjang: benderanya berkibar dengan gagah, tapi ๐ฎ๐ข๐ต๐ช๐ฏ๐ถ๐ญ๐ถโ ๐ฎ๐ข๐ฑ๐ฑ๐ข๐ฏ๐จรช๐ธ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฏ๐ข ๐ฎ๐ข๐ญ๐ญ๐ฐ๐ต๐ตรช๐ฏ๐จ (perselisihan masih berkobar)!
Mungkin hingga akhir zamanโatau minimal sampai kuota habis.
Merdeka dari penjajah, belum tentu merdeka dari kolom komentar. Di sana, jempol kadang lebih tajam daripada bambu runcing. Bedanya, bambu runcing dulu melawan penjajah; jempol sekarang kadang melawan saudara sendiri, bahkan mertua sendiri.
Benderanya berdiri tegak. Manusianya bungkuk menatap layar, sibuk mencari celah menghabisi yang tak seide.
Merah dan putih berdamai dalam satu kain dan satu tiang. Kita? Beda jagoan Piala Dunia 2026 saja bisa memicu Perang Dunia Ketiga.
Bola bundarnya sebelas lawan sebelas. Pendukungnya satu geng ikut bermusuhan. Saling serang ๐ฅรช๐จ๐ข ๐ฎรช๐ญ๐ฐโ ๐ค๐ข๐ถโ, saling sindir, lalu saling blokir.
Orang Amerika di NASA sibuk merancang misi ke Bulan. Kita di sini masih betah bertengkar demi membela hal yang tak sesuai keinginan!
Meski sudah 81 tahun merdeka, hobi cakar-cakaran bagai Tom dan Jerry seperti punya subsidi energi tak terbatas. Pemimpin datang dan pergi, tapi tradisi saling serang tetap awet.
Alih-alih memberi keteladanan, sebagian elite malah tampil seperti pemeran tetap acara komedi. Rakyat bingung: ini panggung negara atau panggung hiburan? Bedanya, penonton biasanya beli tiket. Di sini rakyat sudah beliโpakai pajak.
Di negeriku, sepertinya tak ada seorang pun yang luput dari masalah. Orang jujur pun masih kerap dicarikan kesalahan. Mungkin karena sulit mencari kesalahan sendiri, sehingga kesalahan orang lain yang diburu.
Dulu pejuang tumpah darah demi kemerdekaan dengan bambu runcing. Sekarang kita tumpah emosi demi menang debat mempertahankan kubu.
Dulu merancang strategi mengusir penjajah. Sekarang merancang strategi membongkar aib demi views.
Dulu musuh datang dari luar. Sekarang musuh dicari di antara saudara sendiri. Pokoknya, api perselisihan di kolom komentar pantang padam!
Tradisi menjaga kehormatan (๐๐ช๐ณ๐ชโ) pun bergeser. Aib di-upload, dibumbui musik galau, lalu dipantau notifikasinya tiap lima menit. Kalau kubu sendiri blunder, pembelaannya sehalus sutra, katanya: โ๐รชโ ๐ฏ๐ข๐ต๐ต๐ถ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ชโ.
Kalau lawan terpeleset, tuduhannya meledak seberat kejahatan geopolitik lintas galaksi. ๐๐ช๐ณ๐ชโ dulu menjaga kehormatan; sekarang kadang kehormatan kalah cepat dari tombol upload.
Di tengah kegaduhan itu, saya bertanya: HUT RI ini hajatan siapa?
Peserta panjat pinang bertaruh nyawa demi panci. Generasi muda memanjat tangga karier yang licinnya mengalahkan oli bekas. Biaya hidup lari sprint. Gaji jalan di tempat, persis barisan paskibraka.
Di balik riuh lomba makan kerupuk, saya melihat rakyat kecil bertahan hidup dengan makan harapan belaka.
Siapa yang paling kenyang?
Jelas mereka yang sudah ambil piring duluan di meja prasmanan kekuasaan.
Rakyat masih antre; mereka sudah tambah lauk. Penguasa menambah potongan ayam, rakyat kebagian potongan lengkuas. Sama-sama dapat potongan, beda kenikmatan: yang satu masuk perut, yang satu cuma bikin masakan harum.
Maka di usia ke-81 ini, saya mengajak kita semuanya berdoa: semoga akhlak dan kesejahteraan ikut terangkat setinggi bendera merah putih. Bukan malah tensi darah dan asam lambung yang melonjak setiap kali membuka kolom komentar.
SELAMAT HUT RI KE-81!
Semoga yang merdeka bukan cuma statusnya, tapi juga isi rekening, akal sehat, dan status para jomblo. Semoga lekas lakuโminimal tidak lagi ditanya, โKapan menikah?โ Ha ha! MERDEKA!
๐ญ๐ณ ๐๐ด๐๐๐๐๐ ๐ฎ๐ฌ๐ฎ๐ฒ

