Oleh: Munawir Kamaluddin
Sudahkah Indonesia benar-benar merdeka? Jika merdeka hanya berarti penjajah telah pergi, tentu kita merdeka sejak 1945. Tetapi jika kemerdekaan berarti berdaulat menentukan politik, ekonomi, budaya, hukum, dan cara berpikir sendiri, pertanyaannya menjadi lebih dalam: benarkah kita telah sepenuhnya merdeka?
Penjajahan tidak selalu datang dengan senjata. Ia bisa hadir melalui ketergantungan ekonomi, tekanan politik, dominasi budaya, teknologi, informasi, bahkan melalui gagasan yang perlahan menguasai cara kita berpikir. Karena itu, sebuah bangsa mungkin telah bebas dari penjajahan fisik, tetapi belum tentu bebas dari penjajahan pikiran.
Dalam perspektif Islam, kemerdekaan tidak cukup dimaknai sebagai bebas dari bangsa lain, tetapi juga bebas dari kebodohan, keserakahan, ketidakadilan, ketergantungan, dan terutama perbudakan hawa nafsu.
Allah berfirman:
أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ“
Tidakkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?” (QS. Al-Furqan: 43).
Karena itu, pesan Rib‘i bin ‘Amir RA. kepada Rustum sangat mendalam:
إِنَّ اللَّهَ ابْتَعَثَنَا لِنُخْرِجَ مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادَةِ الْعِبَادِ إِلَى عِبَادَةِ اللَّهِ
“Sesungguhnya Allah mengutus kami untuk mengeluarkan manusia dari penghambaan kepada sesama manusia menuju penghambaan kepada Allah.” Itulah hakikat kemerdekaan dalam tauhid, bebas dari segala bentuk penghambaan kepada makhluk agar sepenuhnya tunduk kepada Allah.
Maka setelah 81 tahun Indonesia merdeka, pertanyaan terpenting bukan hanya “Apakah negeri ini sudah merdeka?”, tetapi “Sudahkah manusianya merdeka?” Merdeka pikirannya dari kebodohan, merdeka hatinya dari keserakahan, merdeka bangsanya dari ketergantungan, merdeka hukumnya dari ketidakadilan, dan merdeka jiwanya dari hawa nafsu. Sebab kemerdekaan sejati bukan bebas melakukan apa saja, melainkan bebas dari segala sesuatu yang memperbudak manusia selain Allah.🙏

