Oleh: ๐๐ฎ๐ ๐๐๐ฌ๐ฆ๐๐ง
GERAK JALAN HUT RI KE-81 baru saja usai. Kampung-kampung masih menyisakan jejak perjuangan para peserta. Bendera Merah Putih masih berkibar, jalanan masih dihiasi umbul-umbul, sementara sebagian peserta mungkin masih sibuk memulihkan persendian yang belum move on dari gerak jalan.
Anak-anak melangkah riang dalam gerak jalan. Ibu-ibu tampil dengan langkah penuh keyakinan. Bahkan gerombolan ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ฐ๐ฏ๐จ dan ๐ค๐ข๐ญ๐ข๐ฃ๐ข๐ช pun turun meramaikan karnaval.
Semua tampil penuh percaya diri, seolah garis finis cuma dua tikungan. Padahal, dua tikungan saja sudah cukup membuat persendian mengajukan surat pengunduran diri!
Gerak jalan bukan cuma modal semangat 17 Agustus. Seragam siap, yel-yel siap, gaya berjalan unik siapโdan yang paling penting: cadangan napas!
Sebab dalam gerak jalan, ada satu hukum alam yang sulit dibantah: semakin jauh melangkah, semakin nampak loyonisasi.
Awalnya semangat 45, ujung-ujungnya ๐ฑ๐ฐ๐ด๐ฐ-๐ฑ๐ฐ๐ด๐ฐ!
Sebelum hari H, peserta sibuk menyiapkan kostum. Tujuannya mulia: memeriahkan kemerdekaan sekaligus membuat tetangga bertanya: โIni gerak jalan atau mau karnaval peragaan busana?โ
Saya hadir sebagai penonton. Tapi penonton kampung jangan dianggap remeh. Ada jabatan tidak resmi: pengamat, komentator, juri dadakan, sekaligus tukang ketawa melihat aksi kocak peserta.
Saya memperhatikan penampilan defile, masih ada yang langkahnya terlalu cepat, seperti hendak mengejar kereta api. Ada pula yang terlalu lamban sampai hampir ditinggalkan barisan. Ada juga ๐ซ๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ญรช๐ข๐ฏ๐จโgerakan spontan, ๐ด๐ช๐ฌ๐ฐ๐ค๐ข-๐ฌ๐ฐ๐ค๐ข (kocak), dan di luar dugaanโyang justru membuat penonton semakin ramai tertawa.
Dulu, gerak jalan identik dengan langkah tegap ala Tentara Nasional Indonesia (TNI): tangan lurus, kepala tegak, dada membusung, dan komando seragam.
Sekarang, gerak jalan semakin kreatif dan artistik.
Ada formasi langkah PBBโPerjuangan Bernapas Bersama, gaya joget lucu ngakak, ada gerakan patah-patahnya artis Anisa Bahar yang membuat suasana semakin meriah.
Boleh dibilang, gerak jalan sekarang bukan sekadar soal barisan harus seragam. Yang penting semangatnya seragam, meski gerakannya kadang mirip ๐ฏ๐บ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ข๐ฃ๐ฃ๐ฐ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ช๐ญ๐ข๐ฏ๐จ (punya pendapat sendiri).
Kadang saya bertanya dalam hati: โIni barisan gerak jalan atau rombongan aksi keliling kampung membangunkan sahur?โ
Sampailah pada satu komando:
โHormatโฆ GERAK!โ
Satu barisan ibu-ibu usia 45 tahun ke atas mendadak mencuri perhatian.
Langkahnya menggelegar. Sol sepatu beradu dengan aspal beton, menciptakan irama โtak-tok, tak-tok, ba-tuk, bo-takโ yang terdengar seperti musik pengiring barisan.
Wajahnya penuh percaya diri, seolah tak ada urusan dengan cicilan baju seragam. Kostumnya pun menterengโsiap menyaingi dominasi peserta kawula muda.
Namun, bukannya menjawab komando dengan gerakan hormat biasa, mereka justru melantunkan:
โ๐๐ฌ๐ฌ๐ข๐ณรช๐ด๐ฐ๐ฌ๐ชโ ๐ญ๐ข๐ฌ๐ฌ๐ข๐ชโฆโ (Wahai suami, teruslah banting tulang.)
Lalu disambung:
โ๐๐ข-๐จ๐ข๐บ๐ข ๐ฃรช๐ฏรช๐ฎ๐ถโฆโ (Istrimu suka bersolek.)
Dan klimaksnya:
โ๐๐ญ๐ข๐ฌ๐ฐ ๐ค๐ช๐ญ๐ญ๐ขโ, ๐ข๐ญ๐ข๐ฌ๐ฐ ๐จ๐ช๐ฏ๐ค๐ถ๐ฏ๐จ, ๐ข๐ญ๐ข๐ฌ๐ฐ ๐ครช๐ณ๐ฆโโฆ!!!โ
Pecah! Penonton langsung meledak dalam tawa. Ada yang ๐ฌรช๐ฌรชโ (terpingkal-pingkal), ada pula terkial-kial sampai memegangi perut buncitnya, sementara saya sendiri ngakak membahana sampai terasa gigi geraham hampir terlempar keluar.
Gerak jalan terus berlanjut. Saya masih memperhatikan barisan ibu-ibu amat seru itu. Mereka tampak seperti pasukan Kowad: cantik, kompak, senyum lebar, kendati langkah mulai mengoper gigi persneling 2.
Begitu diperhatikan lebih dekat, astaga! Senyumnya masih glossy, tetapi napasnya sudah ngos-ngosan, mengirim sinyal minta ampun!
Lutut mulai ๐ฎ๐ข๐ณ๐ข๐ฌ๐ฐ๐ฌ๐ฐโโgemeletuk kayak kelereng dalam kaleng. Badan mulai mengirim pesan: harga diri boleh tinggi, tetapi stamina punya batas!
Langkah pertama: Masih penuh wibawa. Senyum mengembang lebarโmaklum, segenap keluarga ikut menonton: anak, menantu, saudara, sampai tetangga sibuk merekam. Masih merasa bak atlet muda 17 tahun, padahal baru berjalan 400 meter.
Langkah kedua: Paru-paru mulai overheat dan mengibarkan bendera putih. Lutut ikut ๐ฎ๐ข๐ณ๐ข๐ฌ๐ฐ๐ฌ๐ฐโ, pinggang mengajukan mosi tidak percaya, sementara napas sudah melayangkan surat SP-1. Barisan mulai terasa seperti rapat darurat: lanjut atau bubar?
Siang makin terik. Matahari bertindak sebagai juri tanpa ampun. Keringat mulai banjir bandang. Dari barisan belakang mulai tercium aroma misterius akibat perut kembung. Peserta di depannya pun otomatis mempercepat langkah demi menyelamatkan hidung dari serangan ๐ฎ๐ฆ๐ต๐ต๐ถโ ๐ญ๐ฆ๐ฎ๐ฐ.
Bedak luntur total. Wajah mengilap bagai habis dipoles minyak goreng sawit. Kalau ada lomba โWajah Paling Berkilauโ, ibu-ibu ini bukan cuma masuk finalโlangsung juara umum!
Namun demi harga diri, ๐ฎ๐ช๐ค๐ข๐ธ๐ข ๐ฌ๐ช๐ณ๐ถโ alias senyum dipaksakan tetap terpasang. Bibir tetap merekah, sementara hati sudah menggelar rapat darurat: โBagaimana caranya menyudahi parade siang bolong ini?โ
Momen paling dramatis terjadi ketika peserta mulai lirik-lirikan dengan penonton pembawa air mineral.
Tangan mau menggapai, tetapi komando melarang.
Akhirnya, air dingin itu cuma dipandang meranaโpersis jomblo menatap mantan di pelaminan.
Di tengah napas yang makin tipis, seorang peserta berbisik pasrah:
โMasih jauhkah garis finisnya? Kakiku sudah mulai ๐ฎ๐ข๐ฑ๐ฑรช๐ฏ๐จ๐ฌ๐ฐ๐ฏ๐จ (kram dan kaku)โฆโ
Temannya menjawab megap-megap:
โTidak tahuโฆ mungkin masih 40 kilometer lagi.โ
โHAH?! EMPAT PULUH KILOMETER?!โ
๐๐ข๐ฑ๐ฑ๐ข๐ต๐ต๐ขโ ๐ฃ๐ฐ๐ฏ๐บ๐ฏ๐บ๐ข๐ฌ! (kita akan tumbang)
Angka 40 kilometer itu sukses membuat semangat kemerdekaan mendadak amnesia. Wajah langsung pucat pasi ๐ฅรชโ๐จ๐ข๐จ๐ข ๐ฅ๐ข๐ณ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ฐ ๐ช๐ด๐ช ๐ฏ๐ฏ๐ข. Tangan buru-buru merogoh kantongโsaya kira mau mengambil handphone untuk menelepon ambulans gawat darurat.
Ternyata cuma mencari balsem Geliga!
Di titik ini, ambisi peserta sudah terbelah tiga: ada yang masih bernafsu mengejar juara, ada yang pasrah cuma mengejar garis finis, dan ada yang pikirannya sudah terbang mendahului ragaโmengejar es cendol Lawawoi lima gelas, plus ๐ข๐ฑ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฑ๐ฆ๐ญ๐ญ๐ข!
Kalau sudah begini, gerak jalan bukan lagi soal siapa paling cepat, tetapi siapa paling kuat mempertahankan senyum sampai garis finis.
Kaki boleh bernegosiasi, lutut boleh protes, paru-paru boleh kibarkan bendera putihโgengsi tetap berdiri paling depan.
Namanya juga gerak jalan.
Yang bergerak kaki. Yang ngos-ngosan napas. Yang tersiksa lutut. Yang tetap tersenyumโharga diri!
Di balik tawa, ada pesan: tetap kompak sampai garis finis.
Bercanda boleh, tertawa boleh, asal tetap saling menjaga.
Sebab gerak jalan berakhir di garis finis, gerak kehidupan berakhir di hadapan Sang Pencipta. Bukan kostum atau tepuk tangan yang dihitung, melainkan amal dan ketulusan.
Gerak jalan boleh selesai. Gerak amal jangan berhenti.
๐ญ๐ต ๐ผ๐๐ช๐จ๐ฉ๐ช๐จ ๐ฎ๐ฌ๐ฎ๐ฒ (๐๐)

