Oleh Suharman
ADA satu adegan dalam perkawinan adat Bugis di Kabupaten Barru yang hampir tidak pernah difoto oleh fotografer pernikahan, tapi justru paling menentukan.
Setelah pesta usai dan tamu pada pulang, seorang ibu akan menarik tangan anak perempuannya yang baru sah menjadi istri bagi pengantin laki-laki. Ia tidak dibawa ke kamar pengantin, namun ia dibawa ke dapur. Lalu dituntun mengelilingi dapur itu sebanyak tujuh kali.
Di Desa Madello, Kecamatan Barru, tempat saya meneliti tahun 1994 untuk skripsi di Universitas Hasanuddin, ritual ini disebut Pitu Lise’ Dapureng. Di dalam tujuh putaran sunyi itulah, seluruh filosofi perkawinan Bugis diajarkan.
Bukan Sekadar Dapur
Bagi generasi sekarang, dapur mungkin hanya tempat memasak. Tapi bagi leluhur Bugis, dapur adalah pattudangeng alebbireng (tempat duduknya kemuliaan).
Paseng yang diucapkan ibu kepada anaknya saat itu berbunyi:
“Muwi dapureng pitu lise’, tapada mammuare mupaddisengngi, aga punna dapureng? Dapureng iyanaritu pattudangeng alebbireng, onrong assipongenna indo’na bolae.”
Terjemahannya: Engkau kukelilingkan dapur tujuh kali, agar engkau tahu apa itu dapur. Dapur adalah tempat duduknya kemuliaan, tempat kedudukan ibu rumah tangga.
Dalam analisis semantik yang saya lakukan, kalimat ini mengandung makna simbolik yang sangat dalam. Dapur disimbolkan sebagai singgasana. Siapa yang menguasai dapur, ia menguasai kehormatan rumah.
Jika dapur berasap setiap pagi, itu tanda rumah itu hidup dan sejahtera. Jika dapur bersih dan beras tertata, itu tanda istrinya malempu (jujur) dan macca (cerdas). Sebaliknya, jika dapur kotor dan tungku dingin, maka runtuhlah siri’ keluarga, meski ruang tamunya mewah.
Jadi, mengelilingi dapur bukanlah merendahkan perempuan ke dapur. Justru sebaliknya, mengangkat dapur sebagai pusat kerajaan.
Mengapa Harus Tujuh?
Mengapa tidak tiga atau sepuluh? Inilah kecerdasan bahasa Bugis.
Dalam semantik Bugis, angka pitu (tujuh) tidak berdiri sendiri. Ia berasosiasi secara fonologis dan filosofis dengan kata patujui, tuju, dan matuju yang berarti benar, lurus, dan direstui.
Tujuh kali keliling adalah doa diam-diam: pura manre tujui (semoga ditujukan pada kebenaran). Semoga rumah tanggamu selalu mattuju. Semoga rezekimu matuju. Semoga keturunanmu matuju.
Selain itu, pitu juga melambangkan tujuh hari dalam seminggu. Pesannya jelas: tanggung jawab menjaga kemuliaan rumah ini bukan tugas musiman, tapi tugas setiap hari, Senin sampai Minggu, tanpa jeda.
Inilah yang saya simpulkan dalam skripsi saya: makna dalam paseng Bugis didominasi oleh makna asosiatif. Satu kata pitu bisa melahirkan seribu tafsir kebaikan, sehingga paseng itu hidup terus melintasi zaman.
Pelajaran yang Hilang Hari Ini
Hari ini, banyak pengantin Bugis modern yang sudah tidak lagi mengenal Pitu Lise’ Dapureng. Mereka hafal koreografi dansa di gedung, tapi tidak pernah diajak keliling dapur oleh ibunya.
Akibatnya, banyak yang mengira tugas rumah tangga adalah beban. Padahal leluhur kita sudah membingkainya sebagai kemuliaan.
Skripsi saya tahun 1995 yang sampulnya sudah menguning itu saya tulis dengan mesin tik di Ujung Pandang (Sekarang Makassar), tapi pesannya saya rasa justru lebih dibutuhkan tahun 2026 ini.
Bahwa perkawinan Bugis bukan soal berapa besar sompa dan megahnya pesta. Ia adalah soal apakah sang istri sudah diajari cara mengelilingi dan menjaga kemuliaannya sendiri, dan apakah sang suami paham bahwa kemuliaan itu harus dijaga bersama.
Sebelum musik pesta yang keras itu benar-benar menenggelamkan suara ibu-ibu kita di dapur, ada baiknya kita kembali mendengarkan paseng tujuh keliling. (*/)

