Site icon KABARIKA

Maulid: Bakul Berlayar, Perut Bergetar

Oleh: ๐™Ž๐™ช๐™› ๐™†๐™–๐™จ๐™ข๐™–๐™ฃ

Kemarin saya mendapat amanah membawakan tausiah Maulid Nabi di Pesantren IMMIM Makassar. Suasananya luar biasa. Santri memadati tempat acara, guru dan orang tua turut menyaksikan, pengurus IMMIM pun sebagian datang. Pokoknya, hadir ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ช๐˜บ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ.

Direktur Pemberdayaan Kemakmuran Masjid Dr. H. Muhammadiyah Yunus turut memberikan sambutan. Begitu selesai, beliau langsung pamit.

Saya sempat bertanya dalam hati:

โ€œBarangkali beliau sedang membaca tanda-tanda zaman: kemacetan?โ€

Makassar kalau sudah macet, jagonya hambatan. Mobil bergerak sedikit, berhenti lama. Mirip kalapua (Kura-kura) jalannya enjoy.

Perjalanan pulang bisa terasa seperti dihadang demonstrasi mahasiswa.
Sampai-sampai pengendara di sebelah bisa diajak berkenalan hingga tukaran nomor WhatsApp.

Jadi, keputusan Dr. H. Muhammadiyah Yunus sangat rasional. Di Makassar, menghindari macet kadang bukan sekadar pilihan, tetapi bagian dari ikhtiar menyelamatkan waktu.

Setelah beliau pamit, perhatian saya beralih kepada bintang lain yang jauh lebih menggoda:

LOMBA HIAS BAKUL MAULID MODEL PERAHU!
Super sekali!

Ini bukan lagi bakul biasa. Kreativitas para orang tua santri sudah seperti galangan kapal.
Ada bakul perahu Phinisi, Speedboat, rowboat, bahkan model Katinting yang sering lewat di sungai Lasapeโ€™.

Saya tatap lama-lama.

โ€œIni lomba bakul atau pameran transportasi laut?โ€

Kalau ditambah mesin dan bensin, mungkin besok subuh sudah bisa berlayar ke Pulau Samalona. Kalau anggaran cukup, sekalian dibuat Pelabuhan Paotere 2.

Jangan-jangan tahun depan muncul kapal pesiar.
Penumpangnya bukan wisatawan.
Lauk pauk semua.
Tinggal diumumkan:
โ€œPara penumpang dipersilakan naik. Tujuan: meja makan.โ€

Dan ternyata, penumpangnya bakul perahu memang bukan manusia. Isinya siap santap: songkoloโ€™ tumpeng, telur, ikan, ayam, daging, gogos, ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฌ๐˜ฐโ€™, sambal terasi, dan berbagai lauk lainnya.

Saya mulai berpikir:

โ€œIni kapal logistik atau kapal pengangkut rasa lapar?โ€

Saya mulai curiga, bakul-bakul itu sengaja diletakkan dekat mimbar untuk menguji ketahanan mental muballigh.

Sebab kalau ceramahnya tentang kesabaran, bakulnya sedang memberikan praktik langsung.

Saya datang sebagai muballigh dengan niat menyampaikan pesan Rasulullah ๏ทบ.

Tetapi begitu melihat isi bakul, perut saya langsung kambuh penyakit laparnya.

Materi ceramah mendadak tersingkir.

Yang muncul di kepala:

โ€œIni Maulid atau buka puasa bersama?โ€

Saya menatap bakul berkali-kali. Bakul seperti menatap balik.

Jangan-jangan ini bakul punya kekuatan hipnotis.

Saya alihkan pandangan ke jamaah. Lima detik kemudian, mata kembali ke nasu likkuโ€™ ayam.

Saya alihkan ke bapak-bapak yang bersandar.
Hidung malah tetap bekerja.

Duh, godaan terbesar seorang muballigh ternyata bukan setan Sumiati, tetapi bakul Maulid dua meter di depan mimbar.

Kalau setan menggoda dari belakang, masih bisa dibaca:
๐˜ˆโ€˜ลซ๐˜ฅ๐˜ป๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ญ๐˜ญฤ๐˜ฉ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข๐˜ด๐˜บ-๐˜ด๐˜บ๐˜ข๐˜ช๐˜ต๐˜ฉฤ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ณ-๐˜ณ๐˜ข๐˜ซฤซ๐˜ฎ.

Tetapi kalau likkuโ€™ manuโ€™ dan ayam panggang dalam bakul menggoda dari depan?
Bacaan yang muncul malah doa makan โ€œ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ง๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ป๐˜ข๐˜ฒ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ขโ€.

Di sinilah perjuangan muballigh diuji.

Mengendalikan jamaah mungkin bisa. Mengendalikan perut sendiri, lain cerita.
Sebab perut punya agenda sendiri.
Ia tidak kenal rundown acara.

Setelah berdamai dengan perut sendiri, perhatian saya pun beralih kepada para juri, semuanya kaum ibu-ibu.

Saya perhatikan mereka menilai bentuk bakul, hiasan, hingga ukurannya, dari diameter 25 cm sampai 1 meter. ๐˜”๐˜ข๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ฑ๐˜ฑ๐˜ฐ-๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ช๐˜ค๐˜ค๐˜ถโ€™๐˜ฏ๐˜ขโ€”besar kecilnyaโ€”ikut menentukan nilai.

Sebagai juri tidak resmi, saya selaku pengamat lapar menemukan satu teori:

Semakin banyak lauk pauk, semakin besar peluang untuk juara.
Sebaliknya, semakin kecil bakul dan isinya, semakin ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ชโ€™, ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข รช โ€”jauh dari rangking.

Sebab bagaimana mungkin juri melihat ayam goreng, ikan, telur, daging, sambal, lalu tetap objektif?

Juri itu manusia.
Bukan kamera CCTV.

Apalagi kalau sudah ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ด๐˜ข๐˜ด๐˜ช.
Perut berbunyi kereng bitoโ€™e. Aroma ayam naik, objektivitas turun.
Mata melihat hiasan.
Hidung mencium ayam.
Perut mulai bersuara.
Otak pun bingung:

โ€œKita sedang menilai bakul atau menunggu waktu makan?โ€

Saya curiga, buku pedoman penilaian punya rumus rahasia:
Hiasan 5 persen.
Kreativitas 5 persen.
Kerapian 2 persen.
Sisanyaโ€ฆ tergantung kaddong minyak dan varian lauk.

Apalagi kalau juri punya selera pribadi.
Suka ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ด๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฌ๐˜ฐโ€™, baru mencicipi sedikit:
โ€œLuar biasa! Nilai 100!โ€

Penggemar ayam bakar, ayamnya empuk sedikit:
โ€œ100!โ€

Suka telur ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ด๐˜ขโ€™, satu telur bisa menjadi akreditasi A.

Kalau suka sambal Dabu-Dabu, baru kena sedikit di lidah, air mata langsung keluar.
Bukan karena terharu melihat kreativitas santri.
Karena cabainya!

Kalau air mata sudah menetes, jangan-jangan panitia mengira:
โ€œAlhamdulillah, jurinya tersentuh oleh semangat Maulid.โ€
Padahal:
โ€œCabainya menyentuh jiwa.โ€

Saya sampai berpikir, kalau saya menjadi juri, metodenya lebih ilmiah:
Saya makan semua dulu bagai tamposisiโ€™, baru menilai.
Itu baru objektif.

Sebab menilai makanan dengan perut kosong?
Itu namanya penelitian tanpa data.

โ€˜๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ช แธฅฤ๐˜ญ, di balik bakul, lauk, dan segala guyonan itu, Maulid akhirnya meninggalkan satu pelajaran penting.

Rasulullah ๏ทบ mengajarkan akhlak: makan secukupnya, bersyukur, berbagi, dan tidak berlebihan.

Bakul boleh indah, lauk boleh melimpah, tetapi jangan sampai bakul penuh sementara hati kosong dari keteladanan Rasulullah ๏ทบ.

Sebab dalam Maulid, yang kita peringati bukan sekadar bakulnya, tetapi akhlak Nabi yang semestinya ikut โ€œberlayarโ€ dalam kehidupan kita.

Dan kalau perut sudah mulai bergetar melihat bakul, itu manusiawi.
Yang penting, jangan sampai perut lebih cepat mengingat makanan daripada hati mengingat Rasulullah ๏ทบ.

๐Ÿฎ๐Ÿด ๐—”๐—ด๐˜‚๐˜€๐˜๐˜‚๐˜€ ๐Ÿฎ๐Ÿฌ๐Ÿฎ๐Ÿฒ (๐—ฆ๐—™)

Exit mobile version