Oleh: Munawir Kamaluddin
Ada manusia yang bekerja dalam diam, tetapi manfaatnya terasa. Ada pula yang tidak banyak bekerja, namun sibuk memastikan dirinya selalu terlihat. Di sinilah mencari muka bermula, yakni ketika seseorang lebih mengejar pengakuan daripada kontribusi, lebih sibuk membangun citra daripada membangun manfaat. Panggung yang semestinya menjadi sarana pengabdian berubah menjadi kendaraan untuk mendapatkan perhatian, posisi, dan popularitas.
Kebutuhan untuk dihargai adalah manusiawi. Namun ketika pujian menjadi candu, seseorang mulai merasa bernilai hanya ketika namanya disebut, fotonya tampil, atau dirinya berada dekat dengan pusat perhatian. Ia hadir ketika ada sorotan, tetapi menghilang ketika pekerjaan menuntut pengorbanan. Bahkan, keberhasilan orang lain dapat dijadikan kendaraan untuk memperbesar citra dirinya. Inilah bentuk parasitisme sosial, yakni menikmati cahaya dari kerja orang lain tanpa kontribusi yang sepadan.
Fenomena ini semakin subur dalam budaya popularitas dan media sosial. Membantu sering terasa belum lengkap sebelum didokumentasikan, bekerja seolah belum berarti sebelum dipublikasikan. Padahal, tampil dan mempublikasikan kegiatan tidak selalu berarti pencitraan. Ukurannya sederhana: apakah yang ditonjolkan manfaatnya atau dirinya? Sebab visibilitas bukan masalah, yang berbahaya adalah ketika citra mengalahkan substansi dan tepuk tangan mengalahkan ketulusan.
Dalam kehidupan organisasi, penyakit ini menjadi lebih berbahaya ketika prestasi kolektif dipersonalisasi, keberhasilan bersama diklaim sebagai milik pribadi, sementara kegagalan dilemparkan kepada orang lain. Organisasi akhirnya berubah menjadi arena perebutan panggung dan pengaruh. Jika dibiarkan, yang rusak bukan hanya hubungan antarindividu, tetapi juga kepercayaan dan fondasi utama kehidupan sosial.
Secara moral dan spiritual, persoalannya lebih dalam. Islam tidak hanya melihat apa yang dilakukan, tetapi juga untuk siapa ia dilakukan. Riya’ mengingatkan bahwa amal yang tampak baik dapat kehilangan makna ketika orientasinya bergeser dari mencari ridha Allah menjadi mencari pujian manusia. Karena itu, pertanyaan terpenting bukan “Apakah saya terlihat?”, melainkan “Apakah kehadiran saya benar-benar bermanfaat?”
Solusinya bukan menghapus panggung, tetapi mengembalikan panggung kepada fungsi yang benar. Hargai kontribusi, bukan kedekatan. Besarkan kerja kolektif, bukan ego personal. Gunakan media sosial untuk menyebarkan manfaat, bukan sekadar mempertontonkan diri. Dan belajarlah melakukan kebaikan yang tidak diketahui siapa pun, karena di sanalah ketulusan sering kali diuji.
Sehingga dengan demikian, manusia tidak dikenang karena banyaknya panggung yang pernah didudukinya, tetapi karena banyaknya kehidupan yang pernah disentuhnya. Popularitas membutuhkan penonton, kebermaknaan membutuhkan ketulusan. Popularitas bertanya, “Siapa yang melihat saya?” Kebermaknaan bertanya, “Siapa yang terbantu karena saya?”
Maka, jika suatu hari tidak ada kamera, tepuk tangan, jabatan, dan publikasi, maka apakah kita masih bersedia berbuat baik? Jika jawabannya ya, kita sedang membangun makna. Jika tidak, mungkin yang selama ini kita rawat bukan pengabdian, melainkan ego yang menyamar sebagai kebaikan.🙏*MK*

