Oleh Ir. Amril Taufik Gobel, ST,IPU.,ASEAN Eng.
Ketua Bidang Komunikasi dan Informatika IKA Teknik Unhas / Blogger (daengbattala.com)
John F. Kennedy, Presiden ke-35 Amerika Serikat, dalam pesan khusus kepada Kongres tentang pendidikan, 20 Februari 1961
Sejarah Universitas Hasanuddin tidak lahir dari ruang yang tenang.
Ia tumbuh dari tanah yang masih bergolak setelah proklamasi, dari tekad segelintir orang yang menolak menyerah pada keadaan.
Di sela masa sulit itu, Nuruddin Sahadat, G.J. Wolhoff, J.E. Tatengkeng, dan para sahabat seperjuangan menghidupkan Balai Perguruan Tinggi Sawerigading, membuka Fakultas Hukum pada 3 Maret 1952, lalu Fakultas Kedokteran pada awal 1956.
Puncaknya datang pada 10 September 1956, ketika Wakil Presiden Mohammad Hatta meresmikan universitas negeri yang memilih nama Sultan Hasanuddin, Raja Gowa ke-16 yang dijuluki Ayam Jantan dari Timur. Nama itu bukan hiasan.
Ia adalah sumpah bahwa ilmu dari timur Nusantara akan sama beraninya dengan perlawanan sang Sultan terhadap VOC. Sejak rektor pertamanya, Prof. Mr. A.G. Pringgodigdo, hingga Prof. Jamaluddin Jompa hari ini, tiga belas rektor telah menakhodai kampus merah ini.
Pada Dies Natalis ke-25 tahun 1981, Presiden Soeharto meresmikan Kampus Tamalanrea seluas 220 hektare yang sejak itu menjadi rumah bagi puluhan ribu mimpi.
Tujuh puluh tahun kemudian, Kamis 10 September 2026, Baruga A.P. Pettarani kembali penuh. Dalam upacara Dies Natalis ke-70, Rektor Jamaluddin Jompa menegaskan bahwa perguruan tinggi harus bergerak melampaui fungsi menghasilkan kepakaran, menuju lembaga yang menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat dan memperkuat ketahanan negara.
Sebanyak 139 hasil riset telah dimanfaatkan langsung oleh masyarakat, dari Ayam Alope, Jagung Jago, hingga pesawat nirawak untuk pemetaan wilayah dan mitigasi bencana. Pada 2024 Unhas bahkan membawa pulang trofi juara umum Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional, trofi yang selama 37 tahun tak pernah menyeberang keluar Pulau Jawa.
Namun di balik deretan peringkat itu, yang paling menggetarkan justru angka yang lebih sunyi. Tahun ini 84.035 anak muda mendaftar ke Unhas dan hanya 10.401 yang diterima, sementara 1.469 mahasiswa baru memulai kuliah dengan beasiswa.
Dari setiap delapan pemuda yang mengetuk pintu Tamalanrea, hanya satu yang masuk. Di balik tiap kursi itu terselip doa seorang ibu yang menjual hasil kebun di pasar kecamatan, ayah yang melaut sebelum fajar, atau kakak yang menunda mimpinya sendiri agar adiknya bisa mengenakan jas almamater merah.
Karena itu, janji rektor setahun lalu terdengar seperti ikrar kemanusiaan: tidak boleh satu pun mahasiswa Unhas putus studi hanya karena kekurangan biaya, sebab kampus ini adalah keluarga besar tempat yang mampu menopang yang kurang mampu.
Pada hari yang sama ketika perayaan berlangsung, kota di luar pagar kampus sedang menahan napas. Warga Makassar rela mengantre bahan bakar sejak subuh di sejumlah SPBU, sebagian menunggu pasokan tanpa kepastian kapan tiba.
Ironinya menyayat hati: nama yang sama menghiasi balairung tempat kita merayakan ilmu dan jalan raya tempat rakyat berjuang mendapatkan bensin.
Di saat bersamaan, kemarau berkepanjangan memaksa BPBD Makassar menyalurkan lebih dari 2,02 juta liter air bersih kepada 70.684 warga di 246 titik. Sebuah universitas tidak boleh merayakan ulang tahunnya sambil memunggungi pemandangan semacam itu.
Antrean itu hanyalah ujung dari gelombang yang jauh lebih besar. Dana Moneter Internasional memproyeksikan ekonomi dunia tumbuh 3,0 persen pada 2026, dengan guncangan perang di Timur Tengah menekan negara pengimpor energi, sementara ledakan kecerdasan buatan justru mengangkat negara yang terhubung dengan rantai nilai teknologi.
Pekan ini, harga minyak Brent bertahan di atas 100 dolar AS per barel setelah serangan besar terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz, dan rupiah ditutup di level Rp17.530 per dolar AS. Bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak, setiap lonjakan harga di pasar dunia berarti beban tambahan bagi anggaran negara sekaligus dompet keluarga.
Di dalam negeri, gambarnya berlapis. Badan Pusat Statistik mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen secara tahunan pada triwulan II 2026, namun kelompok provinsi di Pulau Jawa masih menyumbang 56,47 persen perekonomian nasional, tanda bahwa pusat gravitasi industri, modal, dan pekerjaan bergaji layak masih berkumpul di satu pulau. Inflasi tahunan Agustus 2026 naik ke 3,19 persen.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan APBN masih sanggup menahan harga minyak hingga sekitar 100 dolar AS per barel dengan asumsi defisit 2,85 persen terhadap produk domestik bruto. Angka makro boleh tampak kokoh, tetapi ketahanan sejati sebuah bangsa diukur di dapur keluarga dan di barisan antrean SPBU.
Di titik inilah tantangan terbesar Unhas, dan seluruh perguruan tinggi kita, menjadi terang benderang. Sekitar 1,03 juta sarjana kini menganggur, atau 14,31 persen dari seluruh penganggur, naik dari 0,75 juta pada Februari 2023, padahal angka partisipasi kasar perguruan tinggi telah mencapai 32,89 persen.
Ketika tingkat pengangguran terbuka nasional turun menjadi 4,68 persen, pengangguran terdidik justru bertambah. Ini bukan semata kegagalan kampus, sebab struktur ekonomi kita terlalu lama bertumpu pada sektor padat modal dan pekerjaan informal sehingga permintaan akan tenaga terdidik tidak tumbuh secepat jumlah wisudawan.
Namun kampus juga tidak boleh berlindung di balik alasan itu. Tantangan lain datang bersamaan: kecerdasan buatan yang mengubah wajah pekerjaan lebih cepat daripada kurikulum berganti, ruang fiskal yang menyempit, serta godaan bagi kampus berbadan hukum untuk menambal kebutuhan dana dengan membebani mahasiswa. Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman sendiri mengingatkan bahwa dalam kondisi efisiensi anggaran, dukungan pemerintah harus selektif dan berbasis manfaat.
Lalu, jalan apa yang bisa ditempuh? Jawaban pertama terletak pada keberanian menjadikan kampus sebagai lumbung solusi, bukan menara gading. Krisis energi di depan mata adalah panggilan bagi para peneliti teknik, pertanian, dan kelautan Unhas untuk turun tangan.
Pintu itu harus disambut dengan sungguh: perahu nelayan bertenaga surya bagi pulau kecil di Kepulauan Spermonde, pengolahan pangan lokal yang hemat energi, hingga bahan bakar nabati dari limbah pertanian daerah. Setiap liter solar yang tak lagi perlu dibeli seorang nelayan adalah sepotong martabat yang dikembalikan kepadanya.
Jawaban kedua menyangkut masa depan Sulawesi sebagai jantung mineral kritis. Peluncuran Critical Mineral Institute pada Dies Natalis kali ini harus memastikan hilirisasi tidak sekadar mengangkut kekayaan keluar dari Sulawesi, melainkan menanam keahlian, membuka pekerjaan bergaji layak bagi putra daerah, dan menjamin keadilan lingkungan bagi warga di sekitar tambang.
Di sinilah kampus dapat menyentuh akar persoalan pengangguran terdidik, yakni ikut membangun industri bernilai tambah yang sungguh membutuhkan tenaga sarjana.
Jawaban ketiga adalah mendekatkan ruang kuliah dengan denyut ekonomi rakyat. Kurikulum perlu memberi ruang magang yang sungguhan di koperasi, usaha kecil, desa, dan industri daerah, sementara Kuliah Kerja Nyata dapat diubah menjadi inkubator usaha desa yang terus hidup setelah mahasiswa pulang.
Rektor sendiri telah menjadikan serapan lulusan pada sektor kerja formal sebagai salah satu ukuran keberhasilan, dan ukuran itu layak diumumkan terbuka setiap tahun, per fakultas, agar publik ikut mengawal.
Soal kecerdasan buatan, Rektor telah menekankan pentingnya adaptasi dalam penggunaannya. Langkah berikutnya adalah memastikan setiap mahasiswa, dari ilmu hukum hingga kehutanan, fasih memanfaatkan teknologi itu tanpa kehilangan nalar kritis dan kejujuran akademik.
Jawaban keempat adalah menjaga agar pintu kampus tidak menyempit bagi anak keluarga miskin justru ketika ekonomi sedang sulit. Janji bahwa tak seorang pun putus kuliah karena biaya perlu dipayungi dana abadi yang dihimpun dari alumni, dunia usaha, dan pemerintah daerah, dikelola secara terbuka, sehingga beasiswa tidak lagi bergantung pada naik turunnya anggaran tahunan.
Di tingkat nasional, negara perlu memandang belanja pendidikan tinggi sebagai investasi, bukan beban. Gubernur Sulsel mengatakan anak yang pintar dan cerdas jauh lebih berarti dibandingkan infrastruktur yang ia bangun.
Kalimat itu layak diterjemahkan menjadi kebijakan: pendanaan riset yang berpihak pada kampus di luar Jawa, insentif bagi industri yang merekrut lulusan daerah, serta kemitraan yang menempatkan universitas sebagai perencana pembangunan, bukan sekadar penonton.
Pada akhirnya, semua jawaban teknis itu membutuhkan jiwa. Masyarakat Bugis dan Makassar mewariskan siri’ na pacce, rasa malu bila gagal menjaga martabat dan rasa perih ketika melihat sesama menderita.
Di hadapan para wisudawan awal pekan ini, Rektor pun berpesan bahwa mesin secanggih apa pun tidak akan pernah memiliki nurani, lalu meminta mereka menjadikan siri’ na pacce pijakan etos kerja. Kampus yang memegang siri’ akan malu bila lulusannya menganggur tanpa bekal, dan kampus yang memegang pacce akan gelisah melihat nelayan kehabisan solar serta ibu rumah tangga berebut gas.
Tiga nilai sipakatau, sipakalebbi, sipakainge, yakni saling memanusiakan, saling memuliakan, dan saling mengingatkan, adalah kompas budi yang tak akan usang, bahkan di zaman ketika mesin mampu menulis dan berhitung lebih cepat daripada manusia.
Tujuh puluh tahun adalah usia ketika seseorang tak lagi perlu membuktikan diri, tetapi dituntut mewariskan makna. Unhas ibarat pinisi yang dirakit tangan para panrita lopi di Bulukumba, tidak dibangun dari cetak biru yang sempurna, melainkan dari pengetahuan, kesabaran, dan keberanian menantang ombak.
Badai ekonomi dunia kali ini mungkin panjang, tetapi pelaut Sulawesi tidak pernah menunggu laut tenang untuk berlayar. Resopa temmangingngi namalomo naletei pammase Dewata, hanya kerja keras yang tak kenal lelah yang akan mengundang rahmat Tuhan.
Selamat ulang tahun ke-70, Universitas Hasanuddin.
Teruslah menjadi ayam jantan yang berkokok paling awal, membangunkan timur Indonesia untuk menyongsong fajarnya sendiri.

