Site icon KABARIKA

Pangan: Bukan Hanya Cukup, Tapi Juga Menenangkan

Oleh Muliadi Saleh | Esais Reflektif | Arsitek Kesadaran

Membicarakan pangan, manusia tidak hanya membutuhkan makanan, tetapi juga ketenangan. Beras yang tersedia di pasar memang penting, tetapi keluarga Indonesia juga membutuhkan kepastian harga, petani yang memperoleh pendapatan layak, distribusi yang lancar, serta keyakinan bahwa kebutuhan pangan esok hari tidak menjadi sumber kecemasan. Karena itu, ketahanan pangan sesungguhnya bukan hanya tentang seberapa penuh gudang, melainkan seberapa tenang sebuah bangsa menghadapi hari esok.

Sulawesi Selatan memiliki alasan kuat untuk optimistis. BPS Sulawesi Selatan mencatat produksi padi pada 2025 mencapai sekitar 5,47 juta ton gabah kering giling, dengan luas panen sekitar 1,04 juta hektare dan produksi beras sekitar 3,14 juta ton. Di balik angka tersebut ada petani yang bangun sebelum matahari, tanah yang dirawat, air yang dijaga, dan harapan yang ditanam bersama benih. Statistik pangan pada akhirnya adalah cerita tentang manusia.

Tetapi produksi yang besar tidak otomatis berarti ketahanan pangan yang kuat. Pangan harus tersedia ketika dibutuhkan, terjangkau oleh masyarakat, berkualitas, dan dapat sampai dari sentra produksi ke meja makan dengan biaya distribusi yang wajar. Ketika BBM terganggu, jalan distribusi tersendat, cuaca mengganggu panen, atau produksi menurun, persoalannya segera bergerak dari sawah menuju pasar dan akhirnya masuk ke dapur keluarga.

Peringatan Bank Indonesia Sulawesi Selatan pada 2026 patut menjadi perhatian. BI Sulsel mengingatkan potensi penurunan produksi pertanian yang dapat mengganggu pasokan pangan sekaligus memengaruhi pertumbuhan ekonomi daerah. Pesannya jelas, bahwa pertanian bukan sekadar urusan petani, tetapi bagian dari sistem ekonomi dan ketahanan sosial. Ketika pertanian terganggu, yang ikut terguncang bukan hanya harga komoditas, tetapi juga ketenangan masyarakat.

Karena itu, kita membutuhkan cara berpikir baru. Jangan hanya membangun ketahanan pangan, tetapi mulai membangun apa yang dapat disebut “Ketenangan Pangan”: sebuah kondisi ketika petani tenang karena ada kepastian pasar, pedagang tenang karena pasokan tersedia, dan konsumen tenang karena harga terjangkau. Ketiganya harus menjadi satu ekosistem, bukan tiga kepentingan yang saling berhadapan.

Gagasannya dapat dimulai melalui Gerakan Pangan Menenangkan. Pertama, pemerintah daerah bersama koperasi, BUMDes, BUMD dan pelaku usaha dapat membangun “Kontrak Tenang Petani”, yakni kesepakatan pembelian sebelum musim tanam dengan harga dasar yang memberikan perlindungan bagi petani, tanpa mematikan mekanisme pasar ketika harga bergerak lebih tinggi. Petani tidak lagi menanam dengan kecemasan: “Nanti panen saya dijual kepada siapa?”

Kedua, perlu dibangun Lumbung Pangan Digital berbasis teknologi sederhana. Tidak harus aplikasi mahal; WhatsApp pun dapat menjadi pintu masuk. Petani melaporkan komoditas yang akan panen, jumlah dan waktunya, sementara koperasi, pasar, dapur komunitas, hotel, restoran dan konsumen dapat mengetahui potensi pasokan lebih awal. Dengan demikian, kita mengubah budaya dari bereaksi ketika pangan langka menjadi mengantisipasi sebelum kelangkaan terjadi.

Ketiga, kota perlu memiliki bantalan pangan dari masyarakat sendiri. Misalnya MASMEGI “Masjid Menanam dan Berbagi” dimana halaman masjid,  ditanami sayuran, cabai, tomat, terong atau tanaman pangan yang sesuai. Masjid bukan hanya tempat manusia bersujud, tetapi juga dapat menjadi tempat masyarakat belajar berbagi rezeki melalui pangan. Demikian juga dengan halaman  sekolah, rumah warga dan lahan tidur bisa dimanfaatkan.

Dari sinilah gagasan “Sayur Silaturahmi” menemukan maknanya. Hasil kebun tidak seluruhnya harus dijual; sebagian dapat diberikan kepada tetangga, lansia, keluarga yang sedang kesulitan, atau mereka yang membutuhkan. Sebuah ikat kangkung mungkin kecil secara ekonomi, tetapi bisa menjadi besar secara sosial ketika ia membawa pesan: “Tetangga masih peduli.”

Kita juga perlu memperpendek rantai pangan. Petani sebaiknya semakin dekat dengan konsumen melalui koperasi, pasar tani dan kemitraan langsung. Semakin pendek rantai distribusi yang sehat, semakin besar peluang petani memperoleh harga yang layak dan konsumen mendapatkan pangan segar dengan harga rasional.

Pada akhirnya, keberhasilan pangan tidak cukup diukur dari tonase produksi atau angka inflasi. Kita membutuhkan Indeks Ketenangan Pangan yang melihat ketersediaan, keterjangkauan, kualitas, pendapatan petani, kelancaran distribusi dan kecukupan cadangan secara bersamaan. Sebab boleh jadi gudang penuh, tetapi jika keluarga tidak mampu membeli, petani merugi dan distribusi tersendat, kita belum sepenuhnya mencapai ketahanan pangan.

Pangan yang cukup mengenyangkan perut. Pangan yang adil menjaga martabat. Pangan yang sehat menjaga kehidupan. Tetapi pangan yang dikelola dengan amanah akan menenangkan hati. Sebab ketika petani tersenyum, pasar berjalan wajar dan keluarga tidak cemas menghadapi harga kebutuhan pokok, sesungguhnya yang sedang kita bangun bukan hanya ketahanan pangan, melainkan ketahanan peradaban.

Maka mari kita ubah pertanyaan dari “Apakah pangan kita cukup?” menjadi pertanyaan yang lebih dalam: “Apakah pangan kita telah membuat manusia merasa aman, dihargai dan bersyukur?” Sebab rezeki bukan hanya sesuatu yang memenuhi perut, melainkan amanah yang menghubungkan manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan akhirnya manusia dengan Allah.

“Jangan hanya membangun ketahanan pangan; bangunlah ketenangan pangan. Sebab ketika perut kenyang dan hati tenang, manusia lebih mudah mengingat siapa Pemilik segala rezeki.”
__________
Muliadi Saleh: “Menulis Makna, Membangun Peradaban”.

Exit mobile version