Oleh: Munawir Kamaluddin
Playing victim bukan sekadar mengaku terluka, tetapi dapat menjadi pola ketika seseorang terlebih dahulu memprovokasi, menyerang, menjatuhkan, atau mencari-cari kesalahan orang lain, lalu ketika mendapat respons, menempatkan dirinya sebagai korban untuk memperoleh simpati dan membalikkan keadaan.
Polanya sering dimulai dengan memotong percakapan, memilih data tertentu, menghilangkan konteks, lalu merangkainya menjadi narasi yang merugikan pihak lain. Persoalan pokok pun digeser menjadi kumpulan kesalahan kecil lawan. Bahkan aturan atau hukum dapat dijadikan alat tekanan secara manipulatif, lawan dipancing melakukan kekeliruan, kemudian kekeliruan itu dikumpulkan sebagai “bukti” untuk memperkuat posisi dan menjatuhkannya.
Yang lebih problematis, pola ini sering disertai kebutuhan kuat untuk mendapatkan panggung dan pengakuan. Ketika keberhasilan tidak cukup membuat dirinya diperhatikan, konflik dapat dijadikan jalan untuk memperoleh popularitas. Ia merasa tampil paling kritis, paling berani, atau paling peduli, padahal kritik yang sehat bertujuan memperbaiki, bukan mencari kelemahan, mempermalukan, dan merendahkan orang lain.
Dalam kehidupan sosial, karakter seperti ini cenderung mengalami kesulitan membangun persahabatan yang tulus. Orang lain sering dilihat melalui kacamata negatif, semua orang dicurigai, dibandingkan, dicari kelemahannya, atau dianggap sebagai pesaing. Keberhasilan orang lain pun tidak selalu dilihat sebagai sesuatu yang patut diapresiasi, tetapi dapat memunculkan rasa iri, tersaingi, bahkan keinginan untuk mencari celah agar keberhasilan tersebut terlihat kecil.
Akibatnya, lingkaran pertemanan semakin sempit dan hubungan yang tersisa sering kali dibangun atas kesamaan kepentingan atau saling membenarkan perilaku negatif.
Ironisnya, ketika berhasil memperoleh perhatian, dukungan, atau popularitas melalui konflik dan kontroversi, ia dapat merasa puas karena menganggap dirinya berhasil mendapatkan panggung. Padahal popularitas tidak selalu berarti penghargaan, apalagi kepercayaan.
Ada perbedaan besar antara dikenal karena kegaduhan dan dihormati karena integritas. Panggung dapat diperoleh dengan menciptakan konflik, tetapi persahabatan, kepercayaan, dan penghormatan hanya tumbuh dari ketulusan dan konsistensi.
Jika pola tersebut dilakukan secara sadar dan terus-menerus, ia menunjukkan tabiat yang perlu segera dikoreksi: ego yang sulit dikendalikan, kebutuhan berlebihan akan pengakuan, kecenderungan merendahkan orang lain, iri terhadap keberhasilan sesama, serta keengganan melakukan introspeksi.
Tabiat seperti ini bukan sekadar persoalan komunikasi, tetapi dapat merusak persaudaraan, keluarga, organisasi, dan kepercayaan sosial.
Karena itu, siapa pun yang menyadari dirinya berada dalam pola tersebut perlu berhenti dan melakukan koreksi diri. Kesalahan orang lain tidak boleh dijadikan komoditas untuk membesarkan diri, sementara kekeliruan sendiri disembunyikan.
Keberanian sejati bukan kemampuan mencari celah untuk menjatuhkan orang, melainkan kesanggupan mengakui kesalahan, meminta maaf, memperbaiki diri, dan menyelesaikan konflik secara jujur serta bermartabat.
Di sinilah konflik berubah menjadi panggung. Ia menciptakan api, menunggu pihak lain bereaksi, lalu menjadikan reaksi tersebut sebagai bukti bahwa dirinya diserang. Narasi awal ditinggalkan, sementara perhatian diarahkan pada kesalahan pihak lain.
Dengan cara demikian, citra sebagai korban, orang paling kritis, bahkan “pahlawan” dapat dibangun di atas konflik yang sengaja diperbesar.
Perilaku demikian tidak berhenti pada rusaknya hubungan antarmanusia. Dalam perspektif moral dan keagamaan, setiap perkataan, tuduhan, fitnah, manipulasi, penghinaan, dan tindakan yang merugikan orang lain memiliki konsekuensi pertanggungjawaban.
Karena itu, kebiasaan menjatuhkan orang lain demi popularitas bukan hanya merusak kehidupan sosial di dunia, tetapi juga dapat menjadi beban pertanggungjawaban di hadapan Allah di akhirat.
Karena itu, jangan mudah menjadi penonton sekaligus penyebar narasi. Periksa kronologi, konteks, dan bukti, dengarkan lebih dari satu sisi. Kritiklah persoalan tanpa merendahkan manusia dan gunakan hukum untuk mencari keadilan, bukan untuk menjebak atau menekan.
Sebab, orang yang matang tidak membutuhkan musuh untuk merasa besar, tidak membutuhkan kejatuhan orang lain untuk merasa berhasil, dan tidak membutuhkan kegaduhan untuk memperoleh pengakuan. Popularitas mungkin membuat seseorang dikenal, tetapi integritaslah yang membuatnya dihormati. Dan kemuliaan seseorang bukan terletak pada banyaknya orang yang berhasil ia jatuhkan, melainkan pada banyaknya hubungan yang mampu ia jaga dengan kejujuran, ketulusan, dan martabat.
Pada akhirnya, playing victim bukan hanya merusak hubungan sosial, tetapi juga dapat menjadi dosa ketika disertai kebohongan, fitnah, manipulasi, dan merendahkan orang lain. Semua itu akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Karena itu, sebelum menjadi penyesalan, sadari kekeliruan, tinggalkan tabiat tersebut, bertaubat, dan pulihkan hak serta kehormatan orang yang dirugikan.*🙏*MK*

