Site icon KABARIKA

Desa Tangguh Bencana: Antara Apresiasi dan Ironi di Sungai Suso

Oleh:  Hape

Pembentukan Desa Tangguh Bencana adalah Langkah Maju, Tapi Mitigasi Sejati Ada di Hulu

Minggu, 20 September 2026, bertempat di Desa Kadundung, Kecamatan Latimojong, Bupati Luwu mengesahkan sepuluh Desa Tangguh Bencana (Destana) melalui apel siaga. Kami memberikan apresiasi setinggi-tingginya untuk langkah ini.

Tujuan pembentukan Destana sangat mulia: memperkuat kesiapsiagaan masyarakat dalam mengenali risiko, melakukan pencegahan, meningkatkan kapasitas pemerintah desa dan relawan, serta mampu merespons dan memulihkan diri ketika bencana terjadi. Ini adalah ikhtiar yang baik untuk meminimalkan korban dan kerugian.

Kegiatan ini juga melibatkan perusahaan yang beroperasi di kawasan Latimojong, perusahaan yang selama ini banyak dikritik karena aktivitasnya yang berpotensi menjadi sumber bencana. Pelibatan mereka dalam program kesiapsiagaan tentu patut dicatat sebagai niat baik.

Namun, di sinilah ironi itu muncul. Dan ironi inilah yang perlu kita kritisi secara halus dan konstruktif.

Pertanyaan Fundamental: Kita Tangguh Menghadapi Apa?

Pembentukan Destana adalah tentang bagaimana kita siap saat bencana datang. Itu adalah mitigasi di hilir. Tapi yang jauh lebih penting dan fundamental adalah pertanyaan: Dari mana bencana itu datang?

Apakah kita sedang melatih masyarakat untuk tangguh menghadapi bencana alam murni, atau tangguh menghadapi bencana yang sumbernya adalah kebijakan yang keliru dalam mengelola lingkungan?

Bencana banjir bandang yang melanda Luwu pada tahun 2024 seharusnya menjadi pelajaran mahal yang tidak boleh dilupakan. Bencana itu bukan sekadar curah hujan tinggi. Analisis ekologis menunjukkan bahwa pemicunya adalah kerusakan ekosistem di hulu.

Kawasan yang secara alami berfungsi sebagai spons raksasa  menyerap air hujan, menahan erosi, dan menjadi penyangga  telah dieksploitasi. Hutan digunduli, bukit diratakan dengan metode peledakan (blasting) untuk kepentingan tambang. Daya serap tanah hilang. Erosi tak terkendali. Hasilnya, air bah membawa lumpur menghantam Latimojong, Bajo Barat, Bajo, hingga Belopa. Kerugian materi sangat besar, kelelahan tim relawan tak terhitung, dan trauma psikologis para korban tak ternilai harganya.

Destana yang Tangguh Butuh Hulu yang Utuh

Kesiapsiagaan saat bencana terjadi memang sangat penting. Tapi jauh lebih penting adalah mitigasi struktural: mencegah bencana itu tidak terjadi sejak dari hulunya.

Membentuk 10 Desa Tangguh Bencana di hilir, sementara di saat yang bersamaan membiarkan aktivitas pengerukan, penggundulan, dan PETI (Penambangan Emas Tanpa Izin) yang merusak struktur Sungai Suso di Bajo Barat dan Latimojong, adalah seperti menyiapkan ember yang kuat sambil membiarkan keran penyebab banjir terus terbuka.

Destana akan menjadi tangguh yang sesungguhnya jika dibarengi dengan tiga kebijakan berani:

1. Penegakan Hukum yang Adil: Beri sanksi tegas bagi siapa pun yang melakukan pelanggaran dan pengrusakan lingkungan. Jangan biarkan lingkungan menjadi korban hanya demi kepentingan ekonomi sesaat. Hukum tidak boleh tumpul ke atas.

2. Kebijakan Berbasis Daya Dukung Lingkungan: Pemerintah harus berani membuat kebijakan yang berkeadilan, yang tidak mengorbankan lingkungan dan masyarakat. Kawasan penyangga harus tetap menjadi penyangga.

3. Sinergi Kearifan Lokal dan Tanggung Jawab Korporasi: Masyarakat harus didorong tetap mengedepankan kearifan lokal dalam memanfaatkan hutan. Di sisi lain, pengusaha harus bekerja dengan standar good mining practice, tanpa harus mengorbankan lingkungan dan keselamatan masyarakat.

Pada akhirnya, Desa Tangguh Bencana tidak hanya berarti desa yang sigap mengevakuasi korban dan mendirikan tenda pengungsian. Desa Tangguh yang sejati adalah desa yang memiliki hulu yang utuh, sungai yang jernih, hutan yang lestari, dan pemerintah yang berpihak pada keselamatan jangka panjang rakyatnya, bukan pada keuntungan jangka pendek segelintir pihak.

Jika itu tidak dilakukan, maka kita hanya sedang melatih masyarakat untuk menjadi tangguh dalam menerima bencana yang sebenarnya bisa kita cegah.

Apresiasi untuk pembentukan Destana. Kini kita tunggu keberanian untuk menjaga hulunya.(*)

Exit mobile version