Site icon KABARIKA

Emosi Naik Kelas, Akal Sehat Turun Kelas

Oleh: ๐™Ž๐™ช๐™› ๐™†๐™–๐™จ๐™ข๐™–๐™ฃ

BELUM lama ini, saya memberi uang Rp3.000 kepada seorang juru parkir. Eh, ditolak mentah-mentah, malah minta Rp10.000. Hati-hati parkir di sebelah Timur Pasar Butung!

Saya tanya, โ€œMana baju dinas sama karcisnya?โ€
Dia menjawab enteng, โ€œNggak kupakai, dicuci.โ€

Saya pun menawar solusi, โ€œPakai baju dinasmu, kasih karcisnya dulu. Kalau begitu, saya tambah jadi Rp5.000.โ€

Eh, bukannya menerima solusi, dia malah naik pitam. Gayanya sangar, bak napi baru turun dari LP Kelas I Makassar!

Dari kejadian receh itu saya berpikir: ada orang yang kalau keinginannya tak terpenuhi, emosinya langsung meledak, persis traktor pemotong padi bermesin turbo.

Pisau bengkoknya membabat kiri-kanan, mencabik apa saja, lengkap dengan raungan dan asap knalpot yang bikin suasana serasa sawah kebakaran.

Raungannya memang garang, tetapi bukan berarti keren. Itu tanda mesin jiwa sedang krisis oli kelembutan!

Anehnya, mesin segarang itu kerap digeber cuma gara-gara sehelai rumput. Salah paham secuil, amuknya bisa merusak pematang sawah, seolah dunia mau kiamat gara-gara perkara yang bahkan belum seukuran batu kerikil.

Padahal, emosi sering terpancing perkara sepele. Mirip orang lapar yang mendadak kehilangan akal sehat hanya karena melihat lembaran merah di atas aspalโ€”yang disangka rezeki nomplok, ternyata awal mula akal sehat kena tilang.

Saya pernah mengalami kejadian konyol serupa, ketika akal sehat nyaris kalah oleh godaan uang merah.

Suatu hari pada 2004, saat masih kuliah S3 di Syarif Hidayatullah Jakarta, saya melihat uang Rp100 ribu tergeletak di pinggir jalan. Merahnya menyala, masih ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ต๐˜ฐโ€™-๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ต๐˜ฐโ€™ alias gres. Dalam benak saya, uang itu bisa jadi jariyah, masuk kotak amal atau disedekahkan kepada tukang becak. Sekali pungut, amal langsung bertambah satu digit!

Begitu saya jongkok hendak memungut, eh, uangnya bergeser.
Saya kejar, dia kabur.
Saya berhenti, dia ikut diam.
Saya maju selangkah, dia melompat semeter.
Lama-lama batin saya curiga.

โ€œIni uang seratus ribu asli atau uang siluman milik ๐˜•๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ฌ ๐˜—๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅรช?โ€

Usut punya usut, di balik tembok ternyata ada rombongan bocah sedang ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต๐˜ฐ๐˜ข-๐˜ต๐˜ฐ๐˜ข๐˜ช, tertawa cekikikan menikmati pertunjukan gratis.

Uang Rp100 ribu itu sudah dilubangi, diikat benang hitam, lalu ditarik setiap kali jemari saya nyaris menyentuhnya. Duitnya punya tali, sementara kesabaran saya nyaris putus!

Bayangkan, seorang mahasiswa S3 dikerjai bocah umur empat tahun, masih ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ (ingusan). Seketika emosi saya ikut dimainkan, kalah telak oleh sutradara cilik.
Dalam hati saya menggerutu,

โ€œ๐˜๐˜บ๐˜ฐ ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฐโ€™, satu kosong!โ€

Untung kejadiannya siang bolong. Coba atraksi uang lari itu berlangsung di depan Kuburan Macanda malam Jumat. Jangankan mengejar, saya pasti sudah lari terbirit-birit karena mengira itu ulah setan Sumiaty!

Dari uang Rp100 ribu yang lari-lari itu, saya belajar: terkadang bukan masalahnya yang besar, melainkan reaksi kita yang lebih dulu membengkak. Duitnya memang palsu harapan, tetapi pelajaran mengendalikan emosi benar-benar nyata.

Emosi jarang datang sendirian. Ia kerap menyelinap lewat perkara sepele yang menjengkelkan. Bedanya, tamu biasa membawa buah tangan, sedangkan emosi datang membawa oleh-oleh berupa masalah!

Zaman sekarang, emosi makin rajin naik kelas, sementara akal sehat justru sibuk mengajukan cuti panjang.

Emosi memang paling demokratis. Rakyat, pejabat, akademisi, ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถโ€™ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญรช, ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ณ๐˜ฐ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ด๐˜ช, hingga mubalig penyejuk jiwa, semua punya peluang yang sama untuk mendadak naik darah!
Bahkan para nabi pun, sebagai manusia pilihan, menghadapi dinamika emosi dalam kehidupan mereka.

Salah satunya adalah Nabi Musa AS.

Dalam QS. Al-Qasas ayat 15, Nabi Musa AS mendapati dua orang sedang berkelahi. Ketika hendak membela orang yang berasal dari kaumnya, Musa emosi lalu memukul orang dari bangsa Qibti hingga orang itu meninggal.

Dalam riwayat lain juga dikisahkan bahwa Nabi Musa AS pernah menampar Malaikat Izrail dan memukul batu dalam beberapa peristiwa.

Nabi Musa kalau emosi, tangannya ikut aktif juga, ya?

Tentu saja kisah tersebut bukan lampu hijau bagi kita untuk ikut-ikutan emosi lalu main pukul. Justru di situlah kita belajar bahwa manusia, betapa pun tinggi kedudukannya, tetap harus belajar mengendalikan reaksi ketika emosi sedang meluap.

Sebab, kalau emosi tidak dikendalikan, persoalan yang sebenarnya kecil bisa berubah menjadi besar.

Saya punya teman yang memang terkenal gampang emosi. Santer ceritanya, di mana-mana dia seperti punya musuh. ๐˜—๐˜ข๐˜ฑ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข-๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ (๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ).

Padahal, tidak banyak juga yang bisa diandalkan darinya. Yang paling konsisten justru emosinyaโ€”dan sering kali salah alamat.

Nah, soal emosi yang salah alamat ini, saya teringat sebuah cerita.
Suatu hari, seorang lelaki pulang ke rumah dalam keadaan sangat emosi. Baru masuk pintu, istrinya bertanya,

โ€œKenapa mukanya seperti orang habis kehilangan dompet?โ€
โ€œJangan tanya!โ€ jawabnya ketus.

Istrinya pun diam.
Beberapa menit kemudian, anaknya datang.

โ€œPak, boleh pinjam motor?โ€
โ€œTidaaak!โ€

Anaknya bingung.

โ€œKenapa, Pak?โ€
โ€œPokoknya tidak!โ€

Dari pojok rumah, kucing mengeong.
โ€œMeongโ€ฆโ€

Lelaki itu menoleh. Kucing pun ikut kena semprot.
โ€œKamu juga jangan ikut campur!โ€

Kucing mungkin dalam hati berkata,

โ€œSaya cuma minta makan, Pak. Tidak ikut rapat keluarga.โ€

Beberapa saat kemudian, istrinya memberanikan diri bertanya lagi,

โ€œMas, sebenarnya siapa yang bikin marah?โ€
Dia menjawab,
โ€œTadi di kantor saya dimarahi atasan.โ€

Istrinya tersenyum.
โ€œJadi, yang marah atasan kepada Mas. Tapi yang kena marah anak, istri, bahkan kucing garong?โ€

Lelaki itu terdiam.

Di situlah ia sadar: emosi yang tidak dikendalikan sering mencari korban yang justru tidak bersalah.

Kadang masalah kita bukan karena persoalannya terlalu besar, tetapi karena emosi terlalu cepat mengambil alih mikrofon, sementara akal masih sibuk mencari kabel sound system.
Dalam kehidupan sehari-hari, emosi memang bisa muncul hanya gara-gara perkara yang sebenarnya sederhana.

Teman saya yang seorang mubalig, misalnya, pernah emosi ketika hendak menjadi khatib Jumat, tetapi tidak dipersilakan naik mimbar oleh panitia.
Rupanya masalahnya sepele: penampilan.

Jemaah Jumat banyak yang memakai gamis Arab lengkap dengan surban. Dari kejauhan, semuanya kelihatan seperti ustaz.

Teman saya juga memakai gamis dan surban, tanpa jas. Mungkin panitia mengira beliau cuma jemaah biasa yang kebetulan duduk paling depan.

Padahal, dialah orang yang akan menjadi khatib!

Akhirnya, beliau tidak dipersilakan naik mimbar untuk membaca khutbah.
Kalau begini, siapa yang salah?

Panitia sibuk mencari ustaz dari penampilannya, sementara ustaz aslinya sudah duduk manis di depan mimbar.

Sang ustaz yang telanjur emosi akhirnya, usai shalat Jumat, langsung pulang tanpa duduk berzikir. ๐˜”รช๐˜ฏ๐˜ณรช ๐˜ต๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ตรช๐˜ฏ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜ข.
Begitulah kalau penampilan dijadikan kartu identitas utama. Yang memakai gamis dan surban dianggap ustaz, yang memakai dasi dianggap pejabat, yang memakai sandal dianggap jemaah biasa.

Padahal, yang paling penting bukan apa yang melekat di badan, tetapi apa yang melekat di kepala.

Belum lama ini, saya juga mengalami kejadian yang hampir membuat akal sehat saya minta izin keluar sebentar.

Saat singgah di sebuah masjid untuk shalat rawatib, terutama di musim panas seperti sekarang, saya berharap mendapatkan kesejukan hati.

Untuk Zuhur dan Asar, menurut saya, imam tidak perlu membaca surah terlalu panjang ketika cuaca sedang terik-teriknya. Ini El Nino!

Eh, imamnya berdiri lama sekali.

Sampai surah yang saya baca dalam hati rasanya sudah masuk bab keempat.
โ€œ๐˜‰รชรช, ๐˜ครช๐˜ฅ๐˜ฅรชโ€™ ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ขโ€™-๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ขโ€™ ๐˜ถ๐˜ต๐˜ต๐˜ถโ€™๐˜ฌ๐˜ถโ€™!โ€

Saya mulai membatin,
โ€œIni shalat Zuhur atau shalat tasbih paket lengkap?โ€

Padahal saya datang ke masjid untuk mencari kesejukan hati. Jangan sampai selesai salam, hati memang sejuk, tetapi baju sudah basah kuyup seperti habis dicuci tanpa mesin pengering.

Tentu shalat tidak boleh diburu-buru. Kekhusyukan tetap yang utama. Namun, imam juga perlu memahami kondisi jemaah.

Kalau matahari sedang galak-galaknya mau memanggang, perpendeklah sedikit. Jangan sampai jemaah pulang ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ฌ๐˜ฐโ€™-๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ฌ๐˜ฐโ€™, membawa emosi sekaligus bonus keringat.

Dari persoalan-persoalan kecil itulah kita melihat bahwa emosi bisa muncul di mana saja. Bahkan ketika perkara kecil dibawa ke ruang publik, akibatnya bisa jauh lebih besar.

Di Makassar, kita masih sering mendengar berita keroyokan, bahkan penggunaan busur dan panah dalam konflik. Salah satu pemicunya adalah tumpahan emosi.

Padahal, busur itu mestinya untuk memanah sasaran, bukan memanah sesama manusia.
Di dunia maya, orang saling melepaskan โ€œanak panahโ€ lewat kata-kata. Di jalanan, ada yang benar-benar membawa busur.

Jangan sampai target latihan malah berubah menjadi tetangga sendiri!
Belum lagi urusan antrean di SPBU.

Ada yang baru beberapa menit menunggu, tetapi emosinya sudah seperti antre dari zaman penjajahan.

SPBU itu tempat mengisi bahan bakar kendaraan, bukan tempat menyiram diri dengan bahan bakar emosi!

Kadang pengendara dan petugas sama-sama panas. Yang satu merasa sudah kelamaan antre, yang satu merasa sudah bekerja banting tulang.

Akhirnya, cuma gara-gara beda selera nozzle, suasana berubah menjadi adu mulut, lalu berlanjut menjadi adu SmackDown.

Satu-satunya hal yang belum pernah saya dengar: bangunan SPBU A bertengkar adu fisik dengan bangunan SPBU B di seberangnya.

Kalau manusia mau belajar dari bangunan, mestinya bisa sama-sama kalem!

Begitulah kalau emosi sudah mengambil alih kemudi. Logika langsung turun dari kendaraan, lalu duduk pasrah di pinggir jalan.

Jangan sampai kita terlalu sibuk memikirkan bahan bakar kendaraan, tetapi lupa mengisi bahan bakar akal sehat.

Sebab, kendaraan tanpa bahan bakar memang bisa berhenti di jalan.
Tetapi manusia tanpa akal sehat bisa membuat orang lain ikut berhenti nyaman dalam menjalani hidup.

Maka, sebelum emosi naik kelas, sebaiknya akal sehat jangan turun kelas.
Kalau mulai panas, tarik napas.

Kalau mulai tersinggung, tahan lidah.

Kalau mulai ingin membalas, beri kesempatan akal sehat menyusul.
Sebab, sering kali penyesalan baru datang setelah emosi selesai berbicara.

๐Ÿฎ๐Ÿญ ๐—ฆ๐—ฒ๐—ฝ๐˜๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ ๐Ÿฎ๐Ÿฌ๐Ÿฎ๐Ÿฒ (๐—ฆ๐—™)

Exit mobile version