Oleh: Muliadi Saleh, Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran
Pagi belum benar-benar terang. Daun-daun padi masih manja bersama embun, sementara dari kejauhan terdengar suara burung yang seperti sedang membangunkan bumi. Cangkul sudah diayunkan; seorang petani tekun mencangkul tanah yang sejak dahulu menjadi tempat manusia menitipkan harapan.
Saya melangkah di pematang, mendekati sang petani. Dialog pagi berlangsung tanpa jeda, sementara tangannya terus bekerja, mengakrabi sawah, tanah, air, dan lumpur. Sesekali ia tersenyum, sesekali menjawab pertanyaan dengan kalimat sederhana. Begitulah petani: bekerja baginya bukan sekadar mencari penghasilan. Bekerja adalah kehidupan.
Dari pematang itulah saya kemudian berpikir tentang sebuah gagasan yang dalam beberapa dekade terakhir banyak dibicarakan dalam pemikiran ekonomi: Living Economy. Gagasan ini antara lain disistematisasi oleh Paul Ekins melalui buku The Living Economy: A New Economics in the Making pada 1986. Pendekatannya menekankan bahwa ekonomi seharusnya tidak hanya bertanya berapa besar pertumbuhan yang dapat diciptakan, melainkan apakah pertumbuhan itu membuat kehidupan manusia dan lingkungan menjadi lebih baik dan berkelanjutan.
Dalam konteks pertanian, pertanyaan itu menjadi penting karena petani tidak hanya menghasilkan komoditas. Ia menjaga tanah, mengelola air, merawat benih, mempertahankan pengetahuan lokal, dan memastikan pangan hadir di meja makan. Dalam konteks itu, petani semestinya tidak ditempatkan sekadar sebagai pemasok bahan baku dalam rantai ekonomi, tetapi sebagai subjek utama dari ekonomi yang menghidupkan.
Data Badan Pusat Statistik dari Sensus Pertanian 2023 menunjukkan terdapat sekitar 27,8 juta petani pengguna lahan pertanian, sementara lebih dari 17,2 juta di antaranya merupakan petani gurem dengan luas lahan kurang dari 0,5 hektare. Angka ini memberi pesan bahwa persoalan pertanian Indonesia bukan semata bagaimana meningkatkan produksi, tetapi bagaimana memastikan jutaan keluarga petani dapat hidup layak dari pekerjaan yang mereka lakukan.
Angka produksi boleh naik. Produktivitas boleh meningkat. Ekspor boleh tumbuh. Hilirisasi boleh berkembang. Teknologi pertanian boleh semakin canggih. Tetapi pertanyaan yang lebih mendasar tetap harus diajukan: setelah panen, apakah kehidupan petani ikut membaik?
Data BPS terbaru menunjukkan Nilai Tukar Petani (NTP) nasional pada Agustus 2026 mencapai 129,19 atau meningkat 1,05 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) juga mencapai 133,33. Angka-angka ini menunjukkan adanya perbaikan daya tukar petani. Di balik angka tersebut ada dapur keluarga, biaya sekolah anak, cicilan, pupuk, benih, kesehatan, dan harapan agar anak-anak petani kelak tidak harus meninggalkan desa hanya karena pertanian dianggap tidak menjanjikan.
Di sinilah Living Economy menemukan relevansinya. Ekonomi pertanian tidak cukup diukur dari berapa ton yang dihasilkan dari satu hektare, tetapi juga dari berapa besar nilai tambah yang tinggal di tangan petani. Ketika gabah dijual murah, kemudian berubah menjadi beras, produk olahan, makanan, bahkan komoditas ekspor dengan nilai berlipat, kita perlu bertanya: siapa yang paling menikmati pertambahan nilai tersebut?
Karena itu, hilirisasi pertanian harus dimulai dari penguatan posisi petani. Koperasi, kelembagaan ekonomi desa, pengolahan pascapanen, akses pembiayaan, informasi harga, teknologi penyimpanan, dan pasar digital harus membuat petani semakin memiliki daya tawar. Teknologi jangan hanya membuat petani mampu menghasilkan lebih banyak, tetapi juga membuatnya lebih mampu mengambil keputusan, mengurangi biaya, mengelola risiko, dan memperoleh bagian yang lebih adil dari nilai ekonomi.
Lebih jauh lagi, tanah tidak boleh diperlakukan hanya sebagai tempat produksi. Tanah adalah modal kehidupan. Air, kesuburan tanah, biodiversitas, benih lokal, dan kesehatan ekosistem adalah kekayaan ekonomi yang sering tidak tercatat dalam neraca perusahaan maupun statistik pertumbuhan. FAO dalam The State of Food and Agriculture 2024 bahkan menunjukkan bahwa sistem agrifood dunia memiliki biaya tersembunyi yang sangat besar, sekitar 10 persen dari PDB global, ketika dampak kesehatan, lingkungan, dan sosial ikut diperhitungkan.
Maka pertanian yang menghidupkan adalah pertanian yang mampu mempertemukan produksi dengan keberlanjutan. Petani memperoleh pendapatan yang layak, konsumen memperoleh pangan yang sehat dan terjangkau, tanah tetap subur, air tetap tersedia, dan generasi muda melihat desa bukan sebagai ruang yang harus ditinggalkan, melainkan sebagai tempat yang memiliki masa depan.
Di sinilah ukuran keberhasilan pembangunan pertanian perlu diperluas. Produksi meningkat, pendapatan bersih petani meningkat, tanah tetap sehat, nilai tambah lebih banyak tinggal di desa, dan generasi muda kembali melihat pertanian sebagai jalan kehidupan—itulah ekonomi yang benar-benar menghidupkan.
Seorang petani sesungguhnya tidak pernah hanya menanam padi. Ia menanam keberlanjutan, menanam pangan, menanam harapan, bahkan menanam masa depan anak cucunya. Setiap benih yang ia masukkan ke tanah adalah semacam kepercayaan bahwa esok masih akan datang, dan bumi masih bersedia memberi kehidupan.
Petani yang saya temui tadi pagi di sawahnya mungkin tidak pernah mengenal istilah Living Economy. Ia mungkin tidak pernah membaca Paul Ekins, tidak pernah mengikuti seminar tentang ekonomi berkelanjutan, dan tidak pernah berbicara tentang economic value atau ecological capital. Tetapi setiap pagi ketika ia mencangkul tanah, menanam benih, menjaga air, merawat tanaman, dan berharap hasil panennya cukup untuk menghidupi keluarga, sesungguhnya ia telah menjalani sebuah ekonomi yang menghidupkan.
Karena pada akhirnya, ekonomi bukanlah tentang bagaimana manusia mengambil sebanyak-banyaknya dari kehidupan. Ekonomi adalah tentang bagaimana manusia bekerja, berbagi, dan menjaga agar kehidupan terus mempunyai ruang untuk tumbuh.
__________
Muliadi Saleh: “Menulis Makna, Membangun Peradaban”.

