Site icon KABARIKA

Sebelum Ada ISO Orang Bugis Sudah Punya “Pangadereng”: Budaya Organisasi 5 Pilar yang Dilupakan Manajemen Modern

Oleh Suharman Usman, S.S., S.E., M.M.
Peneliti Paseng Bugis & Praktisi MSDM

 

DALAM riset tesis Magister Manajemen, saya menguji pengaruh budaya organisasi terhadap disiplin kerja dan kinerja karyawan. Hasil olah data menggunakan metode Partial Least Squares – Structural Equation Modeling (PLS-SEM) melalui SmartPLS menunjukkan hasil yang signifikan.

Budaya organisasi memang memediasi disiplin. Tapi di lapangan, saya menemukan kegelisahan yang sama di hampir semua organisasi. SOP sudah tebal, aturan sudah ditempel di dinding, tapi kedisiplinan tetap rapuh.Jawaban atas kegelisahan itu tidak saya temukan di buku Robbins dan Judge tahun 2017 yang saya kutip di Bab II tesis, melainkan di Lontara Bugis yang saya teliti sejak 1994 di Barru.

Leluhur kita tidak mengenal istilah budaya organisasi. Mereka menyebutnya Pangadereng. Dan sistem ini jauh lebih lengkap dari ISO modern yang kita banggakan hari ini. Orang Barat baru bicara SOP di abad ke-20. Orang Bugis sudah memiliki sistem tata kelola lima pilar yang saling mengunci selama ratusan tahun. Jika satu pilar hilang, maka budaya organisasi runtuh, disiplin hilang, dan kinerja jatuh.

Lima pilar itu adalah Ade’, Bicara, Rapang, Wari, dan Sara’.

Pilar pertama adalah Ade’. Ade’ adalah kebiasaan yang telah menjadi kesepakatan bersama atau SOP. Dalam organisasi modern, Ade’ adalah semua prosedur tertulis, mulai dari cara melayani pelanggan hingga standar keselamatan kerja. Banyak perusahaan berhenti di sini. Mereka berpikir dengan membuat SOP setebal 500 halaman maka budaya sudah terbentuk. Padahal Ade’ tanpa pilar lain hanyalah kertas yang mudah dilanggar saat tidak ada pengawasan.

Pilar kedua adalah Bicara. Bicara adalah hukum dan keadilan. Jika Ade’ adalah aturan, maka Bicara adalah penegakannya yang adil. Dalam riset saya, kedisiplinan kerja sangat dipengaruhi oleh persepsi keadilan karyawan terhadap aturan. Orang Bugis sangat tegas soal ini. Ada paseng yang berbunyi puang mappasau bicara, tenritajeng siri. Pemimpin yang memutarbalikkan hukum akan hilang harga dirinya. Banyak SOP gagal bukan karena buruk, tapi karena Bicara-nya tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Karyawan menjadi tidak percaya, dan ketika kepercayaan hilang, disiplin yang tersisa hanyalah ketakutan sesaat.

Pilar ketiga adalah Rapang. Ini yang paling sering dilupakan manajemen modern. Rapang adalah yurisprudensi atau pelajaran dari pengalaman masa lalu yang dijadikan rujukan. Dalam bahasa manajemen modern, ini adalah continuous improvement dan organizational learning. Orang Bugis tidak mengulang kesalahan yang sama karena mereka memiliki Rapang. Setiap kegagalan, setiap konflik, setiap keberhasilan dicatat sebagai pelajaran agar anak cucu tidak mengulanginya. Organisasi yang tidak punya Rapang akan terus mengulang pelatihan yang sama setiap tahun karena tidak pernah benar-benar belajar dari sejarahnya sendiri.

Pilar keempat adalah Wari. Wari adalah pembagian peran, strata, dan garis wewenang yang jelas. Dalam organisasi, Wari adalah job description dan struktur organisasi yang proporsional. Leluhur Bugis mengajarkan asitinajang, yaitu menempatkan sesuatu sesuai porsinya. Menempatkan orang sesuai keahliannya. Tanpa Wari yang jelas, karyawan akan tumpang tindih pekerjaan, saling lempar tanggung jawab, dan pada akhirnya saling menyalahkan. Tanpa Wari, Ade dan Bicara akan bertabrakan di lapangan.

Pilar terakhir sekaligus atap dari semuanya adalah Sara’. Sara’ adalah etika, spiritualitas, dan integritas. Dalam tesis saya, motivasi kerja yang dilandasi nilai akan lebih bertahan lama daripada motivasi karena insentif materi semata. Sara’ inilah yang membuat karyawan yang bekerja jauh dari pengawasan atasan tetap Getteng yang berarti konsisten dan Lempu yang berarti jujur. Karena ia malu kepada Tuhan dan pada dirinya sendiri, bukan hanya malu kepada atasan. Inilah yang disebut Siri dalam budaya Bugis. Tanpa Sara’, disiplin hanyalah kepura-puraan saat ada kamera pengawas.

Apa yang saya buktikan secara empiris melalui SmartPLS bahwa budaya organisasi berpengaruh pada disiplin, ternyata sudah dirumuskan secara kualitatif oleh leluhur Bugis dalam lima kata. Budaya organisasi yang kuat bukanlah budaya yang hanya punya SOP. Budaya yang kuat adalah budaya yang memiliki Ade’ yang jelas, Bicara yang adil, Rapang yang mau belajar dari masa lalu, Wari yang proporsional, dan Sara’ yang berintegritas.

Seperti filosofi dapur dalam tulisan saya sebelumnya Pitu Lise Dapureng, Dapureng iyanaritu pattudangeng alebbireng, dapur adalah tempat duduknya kemuliaan. Organisasi yang mampu menjadikan tempat kerjanya sebagai pattudangeng alebbireng atau singgasana yang memuliakan karyawannya, maka disiplin tidak perlu dipaksa.

Kinerja akan datang dengan sendirinya karena karyawan merasa dimuliakan.Sudah saatnya manajemen sumber daya manusia Indonesia berhenti hanya menoleh ke Barat. Di Lontara dan di dapur kita sendiri, sistem manajemen kelas dunia sudah lama ada, menunggu untuk ditulis kembali. Terima kasih

Exit mobile version